-postingan awal 2013!!!-

Author: Budiharja Kusuma // Category:
*Note:
Jika kalian berhasil membaca tulisan gue ini, itu adalah tanda bahwa:
GUE BERHASIL SELAMAT DARI KIAMAT 2012!!

oke, artinya apa?
1.) Gue berhasil selamat.
2.) Gue masih hidup.
3.) Dunia gak jadi kiamat
(oke, 3 hal di atas sama aja!)
4.) Gue  menarik semua pengakuan kesalahan  yang gue katakan sebelum tgl 21 Desember 2012 kemaren! Itu murni karena desakan, paksaan, tekanan, dan tidak dapat dijadikan sebagai pengakuan ataupun barang bukti!
5.) Gue berhasil selamat. *minta digampar*

***

Ehem, uhuk-uhuk!
Di awal tulisan gue ini, pertama-tama gue mau ngucapin selamat memasuki tahun 2013! Semoga di tahun ini kita menjadi semakin lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, dan banyak dari harapan rencana dan impian kita yang mampu terwujud.  Dan semoga Syahrini di Tahun 2013 ini semakin kreatif lagi membuat istilah-stilah kreatif lainnya, selain kata-kata “Dahsyat Cetar Membahana Halilintar Badai Topan Tornado Tsunami Hip-hip Hula-hula Ciyus Enelan” (oke, kalimat di atas gua panjang-panjangin sendiri).  Dan semoga gue semakin gampang jodoh, amin! *agak curcol*
Setelah gue pikir, sampai tahun 2013 ini, ternyata banyak banget hal yang udah gue lewatin, alami, dan pelajari dalam kehidupan. Gue banyak belajar pelajaran kehidupan, seperti persahabatan, arti hidup, rasa sakit cinta, keikhlasan, asmara, sulitnya tantangan hidup, pencarian belahan hidup, keihlasan, unrequited love, dan macem-macem. (bagi yang merasa hal ini lebih banyak tentang masalah cinta, itu tidak benar!)
Serius! Gue banyak mengalami pencerahan hidup hingga ke belakang ini, yang membuat gue makin amat sangat berkembang dan banyak upgrade, dari yang awalnya à Boot ver. 5.69 beta, menjadi Boot ver. 5.7 (trial ver with unfixed bug) (cetek banget ya?). Gue jadi belajar bahwa, dalam hidup kita memiliki tujuan dan harapan hidup, dan kita harus memperjuangkannya apapun yang terjadi. Gue juga belajar bahwa terkadang hidup membawa kita tersesat ke lingkungan baru di luar tujuan kita, ketika kita kehilangan arah, untuk menyadarkan bahwa banyak hal lain yang juga berharga di luar sana. Kadang hidup juga mengajarkan kita untuk pandai mengganti-ganti ‘topeng’ di bermacam tempat dan kondisi, dan sering kehidupan juga mengajarkan untuk melepas ‘topeng’ pada orang-orang yang tepat. Hidup mengajarkan kita untuk mengejar apa yang kita inginkan, tapi hidup juga mengajari untuk ikhlas melepas. Kadang hidup mengajarkan untuk bersikap ramah lembut, tapi hidup juga mengajarkan untuk bersikap keras. Kadang hidup mengajarkan bahwa makan sushi yang bijak adalah menggunakan sumpit, tapi hidup juga mengajarkan bahwa jika-berkali-kali-sushi-terjatuh-dan-tidak-ada-siapapun-melihat-dan-kamu-merasa-kelamaan-makan-keburu-lapar kamu boleh mengambilnya dengan tangan.
             Sepahit dan seburuk apapun, hidup mengajari kita untuk… hidup. Hidup yang terbaik tentunya.
Kalau resolusi, gue sekarang ingin hidup lebih jujur lagi, mengurangi ego gue dalam bertindak apapun, rela belajar apapun, rela mencoba apapun, rela mematuhi segala nasehat baik yang sudah seringkali kudengar, dan mengurangi melakukan kesalahan hal yang sama berulang-ulang. Amin!
(bagi yang harapanannya mirip gue, yuk sama-sama. Amin.. J semoga terkabul. Maksud gue, kita rela mengabulkannya sendiri. Amin.. )

***
Lagi-lagi lama gak nulis, gimana kabar gue?
Gue, baik. Ya, gue masih hidup. Yuph, sorry membuat kalian kecewa.
Gue masih sibuk corat-coret desain, gue makin pengen fokus desain di bidang desain karakter. Terakhir kemaren ini gue ikut lomba maskot di salah satu event si Surabaya. Gue masih autis, tapi sekarang udah lebih terkendali. Udah mulai mengurangi buang air besar di atas pasir dan makan tahu mentah di kulkas malam-malam (kalo yang terakhir, gue serius). Btw, gue sekarang kemana-mana lebih rapih lho.. Kalo dulu sukanya maen kemana-mana pake celana jeans pendek, sekarang kemana-mana pake celana panjang. Kalo dulu sukanya pake kaos, sekarang sering pake hem. Bahkan tidur juga pake hem. Gue juga sekarang lebih safety oriented. Mau keluar rumah, cek tekanan ban dulu, jangan sampe kurang angin. Mau kemana, cek uang dompet dulu. Keluar pake motor, cek surat STNK dulu. Lihat awan mendung dikit, berangkat pake jas hujan.
Oh ya berita sangat baik buruknya, gue udah setahun ini juga ikut kecanduan demam korea-korea-an. Hash.. Tapi gak kayak cewek-cewek ababil yang nge-fans boyband-apapun-asalkan-itu-dari-korea, gue fokus. Gue cuma ngefans sesuatu yang berkualitas. Gue lagi kecanduan 2 hal, yaitu: variety show Running Man, ama girlband Girls Generation (SNSD).
(bagi yang gak tahu apa itu Running Man, bisa search di google. Itu variety show nomor 1 di Korea, yang booming hingga internasional, lucu N seru abis! Bagi yang gak tahu apa itu SNSD, gue ikut berduka cita, pasti hidup kalian tidak bahagia.)
Kalau ada yang nanya ke gue, gue tahu persis jawabannya:
Kenapa suka Running Man? “karena gamenya seru abis! ”
Kenapa suka SNSD?  “mereka cantik-cantik!”
Kalau mereka masih kurang puas, N nanya lagi:
Kenapa suka Running Man? “karena kejadiannya konyol-konyol, lucu parah!”
Kenapa suka SNSD? “mereka cantik-cantik!”
Kalau masih aja ngeyel, N tetep gak percaya:
Kenapa suka Running Man??? “TIAP KARAKTERNYA UNIK, KHAS, DAN SALING MELENGKAPI!! GAK BOLEH ADA YANG KELUAR ATAU DIGANTI!!! MEREKA TIM SOLID!!!”
Kenapa suka SNSD??? “MEREKA CANTIK-CANTIK!!”

Kalo si Udik, dia sekarang kelas 1 SMP! Wah, gak nyangka ya, dia tahu-tahu udah gede.. perasaan baru kemaren dia gue temuin keluar dari buah labu. (emang apaan?) karena gagal masuk SMP favorit pilihannya (sekolah pilihan pertama), sekarang dia musti puas dengan SMP pilihannya yang ketiga, jaraknya kurang lebih 15 menit dari rumah gue (hitung sendiri jaraknya berapa km).
Dia tiap hari dianter jemput pake motor. Kalau pagi gue anterin, kalau siang dijemput bokap. Seperti biasa, jabatan anggota keluarga yang bisa nyetir: supir cadangan. Meskipun dia sering mengeluh jarak sekolahnya yang jauh (SMP pilihan pertama hanya berjarak 3 menit dari rumah gue) kalau dibandingkan gue dulu, si Udik jauh lebih beruntung. Dia masih dianter jemput. Kalau gue dulu harus rela menanggalkan harga diri gue dengan nebeng motor temen yang keluarganya lebih ‘mampu’. Uang saku gue dulu ngepres, kalo gue pake buat naik angkot itu artinya sehari itu gue musti gak jajan di sekolah dan musti sok sibuk di kelas ngerjain apapun tugas yang ada hari itu di bangku gue. Kalau ada temen nanya kenapa kok cuma di dalam kelas aja N gak jajan di luar, gue bisa jawab, “kenapa kalian masih terbelenggu keinginan duniawi sepeti itu.. jajan adalah nafsu. Dan nafsu adalah sumber penderitaan. Lepaskanlah.. dan kau akan damai.. terbebas.”
Meskipun mungkin temen-temen gue gak tahu, gue lagi mingsek-mingsek menghibur diri sendiri sambil gambar-gambar gak jelas di kertas.
Yang (agak-lumayan-sedikit-mungkin) keren, ternyata si Udik masuk kelas eksklusif di sekolah itu lho!.. ya itu adalah semacam kelas unggulan, yang isinya adalah kumpulan anak-anak paling cerdas seangkatan mereka. Kalau kalian pernah baca komik detective Q, maka itu adalah kelas Q! (kalau di komik itu Q artinya Qualified, maka mungkin Q di sini artinya: Q aja. Kelas setelah kelas M, N, O, P) Setelah melalui semacam seleksi, ternyata adik gue masuk kelas itu.
Gue awalnya sih, terkagum-kagum, “wah, ternyata ada juga yang bisa dibanggakan dari emm.. makhluk-yang-harus-gue panggil-adik ini.. gak nyangka..”. Tapi setelah inget gimana sifat aslinya si Udik kalau di rumah, gue jadi penasaran, “itu aslinya sekolah apa sih? Beneran sekolahan? Kok si Udik bisa masuk??!”. Ya, kadang gue agak skeptis ke adik gue.

Note: sekarang dia masih suka corat-coret imajinatif, masih suka baca insiklopedia, discovery channel, On The Spot, masih suka banyak nonton kartun, juga kecanduan main game, dan juga baca Meme Comic Indonesia. Nunggu nanti dia jago bahasa inggris dikit, pasti dia bakalan kecanduan baca 9gag, dan tahu arti semua dialog dalam kartun Family Guys, The Simpsons N Sourth Park. Atau mungkin nonton Ted, berulang-ulang.

Galuh, adik gue cewek dan yang pertama, dia kuliah semester akhir sekarang. Lagi sibuk-sibuknya ngurus skripsi sambil ngelesi. Lagi sulit diganggu kayaknya. Dicolek dikit, gigit.
Kabar gembiranya, dia sekarang bawa motor sendiri, jadi enak kalau ngelesi atau ada kegiatan lain dia bisa fleksibel waktu dan tenaga, tapi masih tetep ngekost. yah, at least, dia gak perlu sengsara pas kuliah kayak gue dulu yang harus bawa si vespa biru gue, Si Blues. Bagi yang baca blog gue dari dulu-dulu, pasti tahu gimana halang rintang dan cobaan ketika gue tiap hari kuliah bawa vespa ‘ajaib’ itu.
Gak banyak yang bisa gue ceritain tentang si Galuh. Masa lalunya masih diliputi dengan misteri. Oke, maksud gue emang dia gak banyak berulah atau bermasalah, yang bisa gue angkat ke blog. Dia cewek baik-baik dan beriman.. kuliahnya aja di IAIN jurusan Matematika Tarbiyah!
(oke, kenapa kalian memandang gue seperti itu?? Kakak dan adik kan boleh beda ekstrim!)
Nyokap. Kalau nyokap, masih tetaplah wanita perkasa yang gokil, masih sanggup membawa keceriaan dan tawa di sela-sela rumit dan beratnya rumah tangga. Beliau masih hobi bikin sarapan nasi goreng dari nasi sisa semalem. Masih suka bikin masakan yang memancing pertanyaan-pertanyaan dari gue semacam, “ini masakan kapan?” “makanan ini masih enak?” atau “ini, sayur lodeh atau sop? Atau gabungan keduanya?” masih ortu yang seru pokoknya. Iya, kami sekeluarga masih hidup setelah melalui semua percobaan makanan-makanan radioaktif tersebut. Sel-sel kami telah menguat dan bermutasi setelah menghadapi berbagai cobaan tersebut. Lidah gue aja kadang menyala ijo fosfor!
Oh ya, nyokap tuh hobi nonton film. Beliau selalu terkagum dengan film buatan luar negeri. Katanya selalu menyentuh perasaan dan totalitas. Yang gak disuka nyokap adalah genre film gontok (action, menurut bahasa nyokap gue), robot, monster, dan superhero. Yang paling dia suka itu genre drama, kehidupan, misteri, horror dan thriller. (kebalikan dari nyokap gue, Furi, sahabat gue ini paling anti thriller N horror. Terakhir gue ngajak dia nonton Cabin in The Wood, gue sempet mau bungkem mulutnya pake tas, karena teriakannya. Ada adegan tusuk-tusukan dikit oleh zombie, dia udah teriak “OH MY GOD! OH MY GOD!..” kalo Furi ketakutan karena filmnya, gue ketakutan karena Furi. Bawa Furi nonton film thriller, ternyata lebih thrilling daripada film itu sendiri.)
Salah satu kebiasaan buruk nyokap ketika nonton film adalah: ketiduran. Kebanyakan film yang tayang di televisi main jam 9 malam. Dan tiap mencapai jam  10 ke atas, mata nyokap gue udah berat, karena sibuk segala urusan rumah tangga. Tinggal nunggu iklan 2 menit, alam bawa sadar nyokap gue udah melayang jauh lebih dalam jauh lebih lelap. Kalau udah gitu, bagaimanapun gue bangunin, it doesn’t work. “Mamak, bangun! Filmnya udah main lagi tuh..” Tiap gue bangunin, biasanya nyokap cuma melek 30 detik abis itu terlelap lagi. Besoknya mamak pasti bahas nyeselnya beliau karena sulitnya bangun.
Tapi belakangan, karena koleksi film di hardisk gue makin banyak, gue sering ajak mamak nonton film di laptop. Gue sengaja pilihin genre kesukaannya. Karena tidak adanya iklan, jadi mamak bisa full konsen nonton hingga film kelar. Giliran gue yang ketiduran, karena filmnya udah gue tonton sebelumnya. Besok paginya seperti biasa, sambil masak, nyokap bakal cerita banyak tentang film itu, “iya, Har! Ternyata orangnya itu sendiri adalah hantu. Makanya Mamak awalnya heran, ‘kok bisa dia gitu?’ eh gak tahunya dia emang udah mati..”
“iya, udah mati. Emang sengaja sedikit diceritain di awal.” Jawab gue sambil tersenyum. Nyokap lalu tetap ngelanjutin cerita panjang lebar tentang film itu sambil bersemangat menggebu. Gue terus mendengarkan sambil tersenyum. Hati gue bahagia. Gue gak mau melewatkan sidikitpun. Gue tahu, suatu saat gue pasti akan merindukan saat-saat seperti ini dengan nyokap gue. J

Oke, itu dulu kabar dari keluarga gue, gue gak mau banyak-banyak cerita tentang orang lain, karena ini adalah blog gue. Gak boleh ada orang lain yang ceritanya lebih menonjol dari gue di sini. Bhuahahahaha!!..




***
By the way, other side, another trip, sehari setelah tahun baruan kemaren gak ada angin gak ada ujan tiba-tiba si Udik ngajak ke Pacet. (ya iya, kalo ada angin ada ujan ngapain juga ngajak ke Pacet?!!)
Ya, rekreasi ke Pacet. Dia pengen pergi ke pemandian air panas. Sejak pagi dia udah menghunuskan senjata buat diturutin keinginannya. Dia udah memakai berbagai ancaman dan tuntutan yang dia siapkan sejak jauh hari sebelumnya. Kalau ini adalah adegan penyanderaan oleh buronan seperti di film-film, dia sekarang dalam adegan udah membawa keluar gedung satu sandera yang tubuhnya dipenuhi bom, sambil memandang penuh yakin ke para polisi yang menodongkan pistol ke arahnya. “siapkan aku helicopter dalam setangah jam, jika tidak para sandera akan kubunuh satu persatu tiap satu menit! Jangan mendekat! Satu gerakan bodoh dari kalian, dapat membuatku menekan tombol pemicu ini!”
Karena gak punya banyak pilihan, mau gak mau Mamak gak bisa gak menghiraukan si Udik yang terus rewel sejak pagi itu. Setelah berpikir lama, dan karena hari ini kebetulan hari ini masih hari libur, Mamak akhirnya nurutin si Udik. Akhirnya Mamak nyiapin helicopter.
Pilihan yang paling mematikan tentu adalah: memilih sopir. Kandidat sopir sudah jelas sejak awal: gue, atau bokap gue.
“Mau sama siapa, Dik?” tanya Mamak ke Udik, memberi pilihan. “Mau sama Bapak, atau sama Mas?”
“Sama Mas aja, enak!” katanya singkat, padat, penuh keyakinan. Jawaban itu keluar begitu cepat, seperti seolah disuruh milih antara permen Mentos, atau gabungan permen Nano-nano, Yupy, dan Sugus. Sementara gue, seperti merasakan dua rasa yang berbeda bersamaan. Di satu gue bangga, gue ternyata tipe anak yang asik buat diajak keluar. Tapi di sisi lain, gue ngerasa sedih karena gue gak bisa menikmati liburan di rumah. Dengan santai. Dan nyaman. Sambil nonton Runningman.

***

“Har, bukannya ini udah kelewatan ya?” tanya nyokap di belakang gue. Kita udah sekitar 45 menit perjalanan. Kita semakin jauh ke jalan mengecil. “seharusnya di perempatan setelah Krian tadi belok ke barat kan..”
“oh iya ya..” jawab gue sekenanya, menetralkan situasi. Seperti yang sudah dapat ditebak, penyakit kesasar gue kumat lagi. Gue tahu, nyokap di belakang sebenarnya udah panik abis. Kalau aja gue bukan anaknya, pasti sekarang nyokap udah teriak kenceng, “TURUNIN GUE SEKARANG! CEPAT TURUNIN, DASAR MANIAK! JANGAN CULIK SAYA! JANGAN MACAM-MACAM! SAYA MEMBAWA SEMPROTAN FOGGING!”
“Coba kita tanya orang dulu deh..” Gue sendiri juga hampir gak percaya, gimana bisa pada hal sesimpel ‘pergi ke Pacet’ aja nyasar, padahal belum sebulan gue habis dari sana! Dan, ini ke Pacet gitu?! Orang buta arah yang gak bisa motoran, suruh ke sana pasti bisa nyampe ke sana dengan mudahnya! Dijamin!
Kita lalu berhenti sebentar, dan nyokap tanya orang di warung di pinggir jalan. Banyak orang lalu lalang jalan di siang yang agak mendung itu. Sambil nunggu di atas motor, gue ngeliatin dari agak jauh nyokap tanya. Emang, gue gak bisa dengerin suara nyokap yang lagi tanya, tapi gue dapat memprediksi kalimat apa yang nyokap keluarkan dari bahasa tubuh dan mimik bibirnya: “maaf pak, ini anak saya agak autis ya.. kemana-mana musti nyasar. Pernah saya kasih minum betadin dicampur oralit juga gak ngefek. Pernah saya suruh beli kemiri ke toko depan rumah aja pulang-pulang bawanya merica. Ini saya sedang dalam perjalanan ke pacet, tapi tersesat dikarenakan ulah anak saya ini. Enaknya anak saya ini sesampainya di Pacet dilempar ke jurang aja kali ya??”
Setelah mendapat info yang akurat, nyokap kembali dan kita melanjutkan perjalanan.

***
Seperti yang telah dapat diduga, gak lama setelah masuk kawasan Pacet, macet melanda. Gue sumpah lupa total kalo ini masih hari-hari event tahun baru. Jalanan hanya berjalan merambat, dan mendaki. Motor gue jelas-jelas ngos-ngosan. Keahlian mengerem dan gas menge-gas sangat ditantang di sini.
Sempet lolos setelah melewati jalur sebelah kiri, agak lega selama kurang lebih 15 menit, ternyata di area makin dekat tempat pemandian air panas, terjadi kemacetan total. Stuck. Kendaraan di jalur kiri sama sekali gak bisa jalan. Arah sebaliknya juga hanya bisa merambat sangat pelan. Banyak Polantas yang bentak-bentak agar motor-motor dari arah gue buat mepet ke kiri. Gue juga gak bisa mengelak, motorlah penyebab banyak kemacetan ini.
“Macet parah!” gue masih mencengkeram erat rem tangan. “apa gak jadi ke air panasnya aja ya, ganti ke tempat lain?” insting gue mengatakan dengan kuat bahwa kita jangan melanjutkan lagi ke depan. Gue merasa, akan ada kejadian buruk, kalo kita maksa melanjutkan jalan ke depan.
“Gimana, Ud?” tanya nyokap ke Udik. “ini gak bisa lanjut gini.. ke tempat lain aja ya?”
“iya wes, ke tempat lain aja..” jawab Udik nurut. Gue bener-bener gak nyangka dia bisa gampang diajak kerjasama kayak gini. Kita lalu puter balik dan cari tempat baru.
“Ah, ke tempat yang ada patung Iguana raksasanya tadi kita lewatin aja lho!..”
“oh, Pacet Mini Park!” kata gue cepet. Meskipun sering lupa jalan, gue ingat begitu detail hal-hal seperti ini.

***
Setelah sebelumnya kita mampir sejenak di warung bakso di pinggir jalan untuk mengisi perut, kita akhirnya nyampe. Nyampe di sana, ternyata tempatnya lumayan rame. Dari yang gue baca di papan pengumunan luar, disediakan berbagai wahana yang disediakan. Mulai dari waterpark, tempat outbound, dan macem-macem. Banyak orang-orang jalan masuk. Sambil mengikuti jalan arah mereka masuk, kita langsung ikutan masuk.
“Sepertinya orang-orang ini juga korban macet juga, seperti kita.” Kata nyokap, ketika kita berjalan di jalan setapak, dipayungi atap tumbuhan rambat yang sengaja di desain untuk melindungi jalan setapak ini dari sengatan matahari.
“Iya, sepertinya tujuan mereka awalnya juga gak kemari, tapi terpaksa ke sini karena macet.” Jawab gue sepakat.
“Atau mungkin, jalan itu dibuat macet agar semua orang pindah kemari. Semuanya udah diatur.” Jawab Udik.
“Bisa jadi.” Kata gue, sambil kita terus mengobrol menuju arah pintu masuk loket. Gue sadar, kalau ada orang di belakang kita mendengar dialog kita, kita pasti dianggap Conspiracy Theory Family. Yang kita bahas selalu adalah bagaimana cara kerja yang sesungguhnya dari sebuah sistem dibandingkan yang terlihat oleh masyarakat umum di luar.
Jalan menuju loket masuknya udah rindang, dipenuhi tumbuhan hijau, tumbuhan hias warna-warni, papan-papan pengumuman arah jalan dengan desain kayu, dan macem-macem. Memberikan kesan teduh, hijau dan ceria. Belum masuk aja, kita udah ngerasa seneng. Dan Udik, yang paling keliatan seneng.
“Udik, gak usah masuk aja gak apa-apa kan?.. jalan di sekitar sini aja udah seneng kok..” kata nyokap tiba-tiba ajaib.
“Hahahahahaha!!...” Gue cuma bisa ketawa ngakak saat itu juga.
“Yah!!... Hahahaha!.. ya masuk donk!...” Udik separuh protes, separuh ketawa. “Hahahaha!..”
“Hahaha.. ngapain juga masuk, toh nanti di dalem itu tempatnya mirip-mirip gini. Sayang uangnya..” kata nyokap realistis.
“Hahahahahaha!!...” lagi-lagi, gue cuma bisa ketawa ngakak saat itu.
“Yah!!.. kasihan banget ya, aku.. jauh-jauh dateng ke Pacet cuma untuk keliling di depan pintu loket Pacet Mini Park.. Hahahaha…” kata Udik sekali lagi. “apa kata temenku entar.. Hahahaha..”
 Gue bisa mengerti perasaan si Udik. Apa yang musti dikatakan si Udik, kalo ditanya temennya entar?
“Udik, gimana di Pacet Mini Park kemaren? Seru? Ada apa aja di sana?”
“Seru abis! Banyak wahananya macem-macem deh pokoknya!”
“lha iya, kamu nyobain apa aja? ada apa aja di sana?”
“di tulisannya tertulis ada wahana waterpark, flying fox, taman, ATV, macem-macem! Seru pokoknya! Di depan pintu masuknya aja tamannya rindang, sejuk, warna-warni, banyak papan-papan pengumuman, ada kolam yang isinya ikan mas besar-besar di samping restoran, jadi kalau kita pesen ikan bakar, ikannya langsung ngambil di sana..”
“Maksudnya??! Jadi kamu makan di sana, gitu??..”
“Oke, gue ngaku! Gue cuma di depannya aja. Gak masuk. Tapi gue sempet foto-fotoan banyak di depan patung deket loketnya.”

***
Setelah kita bertiga bayar tiket masuk lima ribu perak, si Udik langsung berlarian kesana- kemari. Dia seperti si Mogli yang dikembalikan ke hutan setelah sekian lama tinggal di kota. Begitu mencapai tempat pintu masuk waterpark, secara otomatis dia merengek pengen masuk kesana. Setelah bayar tiket masuk waterpark seharga lima belas ribu rupiah, si Udik langsung menemui bangsanya di wahana air itu. Sementara nyokap ngawasin Udik dari luar, gue berkeliling melihat-lihat seluruh pelosok area di tempat wisata ini.
Gue lalu mengajak nyokap buat nyobain terapi ikan yang ada di sana. A kind of refreshment from my daily life! Ternyata selain terapi kulit, terapi ikan juga terapi tertawa! Gue ama nyokap gak henti-hentinya ketawa selama 20 menit di sana. Nyokap aja sampai ketagihan N pengen nyobain lagi, tapi gak sempet karena udah kesorean. Setelah jalan-jalan keliling bentar, kita balik.
It’s one of best quality family time ever. :D



Tunggu post gue selanjutnya!!.. :D











Baca Lanjutannya Ahh..

- The Last Word (part 2) -

Author: Budiharja Kusuma // Category:

Lanjutan dari posting: The Last Meeting (part 1)

***

kita belari, menari, berhambur pergi.



“Hoshh.. hoshh..”
Gang kecil berliku. Jalan raya besar berbatu. Gang besar. Sekolah. Anak laki-laki itu terus berlari dengan keseluruhan tenaganya. Rambut kemerahannya berkilauan tercampur keringat dan sinar matahari pagi bulan Mei yang masih hangat. Nafasnya menderu sangat keras. Ia mengambil nafas sangat dalam dan cepat tiap setengah detiknya, dan tak pernah sekeras ini dalam hidupnya. Goresan berdebu di lututnya itu terlihat jelas, hasil dari dua kali terjatuh di belokan gang menuju jalan besar berbatu. Dia terus mengayuh tungkai kakinya, meskipun betisnya sudah terbakar dan kehilangan tenaga. Mungkin jika di saat-saat normal, ketika dia tak seterdesak ini seperti biasanya, dia pasti sudah pingsan sejak lima menit tadi. Atau kemungkinan kedua dan sangat rasional, dia lebih memilih tetap di kamarnya, memikirkan apa yang sebenarnya terjadi, dan segala kemungkinan percabangan kejadian berikutnya yang akan terjadi, sesuai analisisnya. Tidak berlari kesetanan seperti ini, meskipun dia sendiri sangat sadar, dia sangat lemah dalam segala kegiatan yang menggunakan kekuatan fisik. Ya, sekarang perasaannya sudah mengalahkan logikanya. Mengalahkan imannya.
Mungkin masih sempat. Semoga masih sempat.
Matanya semakin berkunang-kunang. Matanya memandang gerbang sekolah dengan tidak jelas, namun kakinya secara refleks berbelok untuk melewatinya. Tubuhnya melesat, pikirannya apalagi.
Sesampai di dalam, larinya segera melambat perlahan hingga akhirnya berhenti. Dia merunduk, menyangga tubuhnya dengan kedua tangan di kedua lututnya. Keringatnya menghujani tubuhnya. Keringat di kedua lengannya terjun turun, merambat perlahan, masuk ke dalam celah di sarung tangan kulit yang ia kenakan.
“Hahh!.. Hahh!..” Dia melihat bayangan badannya sendiri di tanah dengan keringat yang menetes dari rambutnya. Dia kehilangan semua energinya untuk bergerak. “seperti mau mati.”
Dia melihat goresan di lututnya. Otaknya otomatis berfikir, beberapa menit lagi goresan itu akan menimbulkan rasa sakit dan semakin menghambatnya untuk bergerak. Di samping itu, dia memang sedang terburu-buru.
Wajahnya menyeringai, karena sulitnya paru-parunya memisahkan oksigen dari kumpulan udara yang sangat pengap ini. Udara yang pengap di dalam alam sadarnya. Pengap di dalam pikirannya saat ini yang dipenuhi oleh percabangan pertanyaan yang tak terjawab, pengap yang mengotori di semestanya dengan perasaan-perasaan yang tak rasional. Sudah terlambatkah?
Dia berdiri dan melihat sekeliling. Di sebelah kirinya matanya memperlihatkan lorong sekolah sebelah barat. Di sebelah kanan tampak sebaliknya, lorong timur dari sekolah tersebut. Matanya terpaku di sana, lorong sekolah sebelah timur. Dia perlahan menyusuri lorong itu tak sabar mencari ujungnya. Apa lagi, kalau bukan sebuah menara berlonceng.
Menara berlonceng itu adalah satu-satunya penanda waktu untuk pergantian pelajaran di sekolah tersebut. Segala kegiatan dipisahkan secara besar oleh gema benda yang tergantung 4 meter di atas udara yang muncul tiap dua jam tersebut. Bergema sepuluh kali, saat dimulainya pelajaran pertama dan terakhir, dan bergema tiga kali di pergantian pelajaran pertama di tengah-tengah.
Menurut yang dia ketahui, lonceng itu bahkan lebih tua daripada sekolah itu sendiri. Awal mulanya berpuluh-puluh tahun yang lalu lonceng tesebut tergantung di menara di tengah desa ini. Diletakkan di tengah pusat desa, sebagai penanda dan alat pengadu bagi warga kepada kepala desa untuk dikatakannya ketidakadilan, ketimpangan tindakan, keinginan, atau juga hanya sebagai alat pemberi tahu darurat bagi seluruh warga di desa. Berteknis simpel, lonceng tersebut memiliki tali penarik yang menjulur ke bawah untuk bebas digapai siapapun. Saat ada warga desa merasa diperlakukan tidak baik ataupun mengalami masalah dengan tetangganya ataupun hal lainnya, dia hanya perlu datang ke pusat desa, membunyikan lonceng tersebut, maka ketua desa akan datang untuk mendengar dan memberikan solusi serta juga kebijakan-kebijakan untuk mengatasi permasalahan orang tersebut. Hal ini berlangsung bertahun-tahun hingga akhirnya sang ketua desa meninggal dunia. Untuk menghornati sang ketua desa, para warga mengukir kalimat terakhir yang diucapkan oleh ketua desa tersebut di permukaan lonceng, dan menulis segala kebijakan yang pernah diucapkannya di menara loncengnya. Sejak saat itu, lonceng itu tidak digunakan lagi, dan kebijakan-kebijakan yang tertulis akhirnya menjadi hukum tetap yang berlaku di desa ini hingga sekarang.
Gema sebelas suara.. di sela kepadatan semesta kecemasan yang meracuni pikirannya saat ini, dia masih memikirkan tentang arti kalimat yang muncul di puzzle yang kedua. Bagaimana tidak, teka-teki sudah menjadi sarapannya sehari-hari. Dia sudah terbiasa secara mental berhadapan berbagai bentuk dari berbagai macam teka-teki. Mulai dari skala mainan, hingga kasus kejahatan. Bahkan yang lebih ekstrim lagi, dia sejak lama sadar dan mengerti, bahwa dunia dan kehidupan ini sendiri adalah sebuah teka-teki yang super-mega-giga maha besar. Sebuah teka-teki yang penuh berisi motif, kemungkinan, percabangan, penggabungan, serta daya kreasi yang tak terhingga banyaknya. Teka-teki Maha Agung, yang hanya dapat diciptakan oleh Sang Maha Segalanya. Bahkan untuk dapat mengukur seberapa besar sebenarnya teka-teki kehidupan itu sendiri, meskipun tanpa berusaha berhadapan atau menyentuhnya, hanya melalui satu sisi pendekatan ilmu, akan menjadi sebuah teka-teki seumur hidup sendiri bagi seseorang yang jiwa yang terpanggil ke-ilahi-annya untuk mengetahui makna dari kehidupan manusia itu sendiri. Kecepatan umur dan kemampuan berpikir otak manusia akan dibuat berlutut tak berdaya di depan muka daya hidup dari kehidupan yang multi-complex. Kehidupan yang besar, namun sederhana. Kehidupan yang kejam, namun juga paling jujur dan bersahabat. Seorang ahli filsafat-pun, jika ditanya apa sebenarnya kehidupan itu? Dia akan sadar betul bahwa sisa umurnya tak akan cukup untuk menjelaskannya. Dia hanya akan mengatakan segala perumpamaan dan penyimbolan tentang inti dari kehidupan, sesuai perspektif apa yang dialami dan dirasakannya dari kehidupan. Subyektif? Tentu. Relatif? Absolut ya. Yang pada akhirnya mengembalikan si penanya tersebut untuk bertanya pada dirinya sendiri, apa arti kehidupan itu bagi dirinya, yang juga partisipan/ bagian dari kehidupan itu sendiri. Sebuah tanda tanya besar yang dititipkan oleh Sang Daya Hidup dari kehidupan itu sendiri untuk mengalami proses ditemukan. Tapi tidak untuk benar-benar ditemukan. Namun untuk penumbuhan. Yang menuntun pada satu pemberhentian semu untuk pengistirahatan petualangan jiwa manusia; “kehidupan itu maha besar dan penuh misteri”. Bagaimana dan mengapa pikiran kita mampu mempertanyakan tentang eksistensi dari kehidupan, ataupun mempertanyakan pikiran itu sendiri, merupakan suatu teka-teki tersendiri kan? Telah sejak lama sekali, semesta pikiran kita sanggup mempertanyakan dirinya sendiri.
Tak salah lagi, lonceng ini. Seperti waktu itu. Secara mudah, dia dapat mengasumsikan kata ‘gema’ tersebut adalah tentang lonceng sekolah ini. Benda dengan diameter satu setengah meter, berkilau kekuningan, logam, dan sensitif terhadap getaran. Berpuluh-puluh menit lalu ketika ia memikirkan arti kalimat ini di dalam kamarnya, dia mengalami kebuntuan. Entah apa yang terjadi pada dirinya, namun ia membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menyadari bahwa itu ada sebuah lonceng. Tapi ketika dia memikirkannya lebih lanjut dengan menghubungkan dengan kalimat selanjutnya; ‘sebelas suara’, dia kembali ragu. Ada dua kata kunci; sebelas dan suara. Jika dihubungkan dengan informasi yang ia ketahui, lonceng ini hanya dibunyikan sepuluh kali ketika di awal pelajaran dan juga di akhir pelajaran, bukannya sebelas. Seharusnya, sepuluh. Kenapa sebelas? Dia masih memutar-mutar dan merombak segala kemungkinan. Secara teknis, jika sebuah puzzle tak dapat dipecahkan dengan suatu teknik mekanikal, maka ada kemungkinan dapat dipecahkan secara motif. Dia berpikir tentang apa maksud dibuatnya kalimat ini. Dia berusaha menggabungkan dengan kalimat di puzzle awal: ‘last meet sayonara’. Jika kalimat tersebut memiliki maksud waktu, yaitu ketika lonceng di sekolah ini berbunyi sebelas kali, apakah mungkin maksudnya dia ingin bertemu untuk terakhir kalinya di waktu itu? Jika memang benar, kapan ‘waktu’ itu? Jika ternyata bukan, lalu apa maksudnya?  Ah, sudahlah..
Ia sampai di dekat menara lonceng. Langkah kakinya perlahan membawa dirinya semakin mendekat. Nafasnya masih saja berat.
Ia mendapati seorang lelaki tua dengan baju Tuxedo rapih lengkap sambil membawa jam saku keemasan berdiri di samping menara, tertutupi bayangan pohon besar di sampingnya. Orang tua, yang berperan ganda bagi seorang gadis yang dicarinya saat ini. Selain sebagai supir pribadi, dia juga berperan sebagai saudara, sahabat, ayah, dan juga tanpa terkecuali ibu. Hanya orang tua itu, satu-satunya anggota keluarga yang masih dimiliki gadis itu hingga saat ini. Dia hanya melihatnya beberapa kali ketika dia berkunjung ke rumah gadis itu. Orang tua, yang hingga sekarang tak ia ketahui nama aslinya tersebut, berkali-kali melihat jam yang digenggam di tangan kanannya. Ia tahu, jika orang tua itu berada di sini, berarti gadis itu juga.
Begitu melihat dirinya, secara refleks orang tua tersebut membungkuk untuk memberi salam padanya, “Tuan Key,”
“Di mana?” tanyanya cepat. Ia bahkan tak punya banyak waktu untuk pertanyaan dengan kalimat lengkap.
Orang tua itu mendongak, mengarah ke atas. Tepat ke arah lonceng.
Tentu saja.

***

Langit berwarna kebiruan cerah. Beberapa awan seputih kapas bergerak semu dengan sangat pelan, memberi ornamen, menemani langit biru yang sepertinya kesepian. Angin berhembus lembut, membawa udara hangat ke segala arah, membisikkan kedamaian yang tak dapat disangkal makhluk hidup manapun.
“Kau terlambat, Keane.” suara yang begitu dia kenal itu seketika muncul dari arah yang ia duga. Hanya saja yang ia dengar kali ini lebih datar. Suara itu terasa agak kecil dan jauh, terhalangi angin pagi tipis yang berhembus. Dia masih terus memandangi atap menara itu. Masih tak dapat melihat sosok gadis itu. Cukup lama.
Laki-laki itu masih diam. Tak segera menjawab pertanyaan itu. Lama, seperti ada jeda kosong yang menghalangi suaranya untuk menjawabnya. Seperti mereka berdua berada di dua dimensi yang berbeda. Berkebalikan dari suasana kekosongan yang sangat kompleks ini, pikirannya saat ini sangat pekat, dipenuhi banyak hal yang datang silih berganti tak teratur, acak, dan memproses semuanya secara bersamaan.
Cukup lama, hingga akhirnya, “terlambat, untuk apa?” 
Terdengar suara itu mengambang di udara. Canggung, penuh keraguan yang tak teratasi.
Udara kembali beku. Dialog singkat yang seolah terjadi selama seribu tahun.
“Di sini damai, ya..” suara itu melembut, tak sedingin di awal. Keane yang kukenal tak pernah terlambat.
“Claire..”
“Aku seperti ingin selamanya di sini. Menikmati angin ini, langit ini, dan terlebih lagi,” ada jeda singkat di kalimatnya. “kebebasan ini.”
Key melihat ke atas. Langit biru yang menaungi mereka. Ikut menyelami kedamaian. Beberapa saat ia ikut tersedot, hingga ia kembali sadar; ada sesuatu yang harus diselesaikan. Dipastikan.
“Benarkah, itu, Claire?” tanya Key, akhirnya. Ia mengambil nafas panjang. “Ini adalah sebuah perpisahan?”
“Tapi setiap kebebasan ada batasnya. Tak pernah ada yang namanya kebebasan kekal.” Gadis itu lebih seperti bicara pada dirinya sendiri, seperti tak peduli ada yang mengajaknya bicara saat ini.
“Claire..” sekali lagi kalimat itu terulang. “benarkah?”
“Sudahkah kau memecahkannya?” gadis itu tak mau membuang waktu lagi. Ia seperti bermain-main dengan butiran pasir sang dewa waktu. Berubah mode.
“Hanya yang pertama, yang kuketahui maksudnya,” Key masih tak bisa lepas dari kecanggungan. “Claire, benarkah?”
Dia sama sekali tidak dapat bersikap biasa. Seperti bukan Key yang biasanya. “Benarkah, aku tidak akan dapat melihatmu lagi?”
“Dan yang kedua, kau masih tak mengetahui maksudnya?” jawab See, masih lembut. Masih menyembunyikan sosoknya di balik atap menara. “Kau masih tak mengerti tentang ‘gema sebelas suara’? Benar?”
Bagaimana dia bisa.. Key hanya terdiam. Pikirannya hanya sesaat memikirkan itu, karena dalam sekejap pikirannya kembali kusut oleh pekatnya informasi yang dipikirkan otaknya saat ini.
“Kau, datang ke sini.. karena instingmu?”
“Ya..” jawaban itu muncul setelah jeda panjang.
“Jika kau memang tak mengeti artinya, mengapa kau tak naik saja ke atas sini, bersamaku? Menikmati langit ini?”
Masih terdapat kekosongan. Tak ada jawaban.
“Dari sini langit biru-nya terlihat sangat jelas lho!.. Anginnya juga terasa sangat sejuk..”
“Ah, tapi percuma,” Kalimat itu cepat. “kau hari ini tertutup awan, Keane. Tak terlihat.”
Hening. Kesekian kalinya
Cukup lama.
“Kenapa kau kemari, Keane? Kau bahkan tak tahu arti dari perjalananmu kemari. Kau tidak seperti yang biasanya..” suara itu mulai mengalir. “Berlari-lari kemari, tanpa tahu makna.. tanpa tahu tujuan.. tanpa ada persiapan dan rencana..”
“Claire, berhentilah bermain-main! Berhentilah ber-teka-teki!” Key meledak. “CLAIRE, APA YANG SALAH DENGANMU?!”
Bisu.
“Jawablah pertanyaanku! Turunlah, kita bicara!”
“Salah? Denganku?” suara See tiba-tiba bergetar. “justru tanyakan itu pada dirimu sendiri! Kau datang kemari dengan berlari tergopoh-gopoh, membabi buta! Hingga lututmu terluka begitu! Kau kehilangan akal sehatmu?! Kau tak pernah baik dalam berlari! Kau yang paling tahu itu..”
Lagi-lagi.. dia tahu tentang itu? Bagaimana bisa? Keheranan yang sama terulang untuk kesekian kalinya. Dia menatap jelas ke atas atap. See tak mengintip dirinya. Belum. Dia sekejab kemudian kembali tersesat dalam kebimbangan. Mesin waktu? Seperti waktu itu? Ah, itu tak pernah ada! Key membuyarkan percabangan pikirannya, mencoba kembali fokus.
See hening sejenak, mengatur kembali nafasnya yang tersengal. Dia mengusap air yang menetes di pipinya. Memakai topi jeraminya, melesakkan jauh ke wajahnya. “Kau, seharusnya menanyakan, apa yang salah dengan dirimu. Datang kemari tanpa bisa menyelesaikan semua puzzle, datang kemari dengan keadaan diri yang kacau, ceroboh dan tak tenang seperti itu.”
“Kau yang biasanya selalu tenang dalam memikirkan segala hal. Selalu terorganisir rapih. Selalu terarah, fokus, dan..” dia menghela. “terlihat ‘sempurna’.”
“Seharusnya kau tanya dirimu sendiri..” suara itu melega. Lebih ke meledak.
Key merunduk. Pikirannya sekarang mulai kembali ke jalannya. Lebih tenang. Banyak dari kecemasan-kecemasan itu mulai memudar. Berganti dengan perasaan haru biru yang mengalir lembut. Perasaannya mulai menyatu dengan semesta di sekitarnya. Setenang angin yang bernafas di sekitarnya. Setenang langit biru yang mengawasi di atasnya.
“Ya, kau benar. Pertanyaan itu untuk diriku sendiri. Seharusnya begitu. Selayaknya begitu.” dalam sekejab matanya lembab. “Aku dikacaukan pikiranku.”
“Aku dikacaukan perasaanku. Akal sehatku kalah.” Suaranya melemah. “Imanku mengalah.”
Key merasa ingin melanjutkan kalimatnya, menyelesaikannya. Tapi dia seperti merasa cukup. Cukup selesai.
Gerak semu langit seolah melambat. Hampir berhenti. Angin berhenti bernafas.  Menghentikan tugasnya. Dunia seakan bekerja. Seolah semua detik jam di seluruh dunia berhenti berdetak. Seolah semua angka di dunia berhenti menjumlah. Seolah semua makhluk hidup menghentikan detak kehidupannya, mem-pause semua proses metabolisme-nya.
Seolah seluruh alam menghenti untuk melihat mereka berdua.
“Keane,” nadanya kembali normal. “bukannya dulu kau yang pernah bilang, kita tak boleh kalah oleh perasaan kita? Kita harus mendahulukan logika kita? Akal sehat kita? Kita harus mendahulukan kebenaran, bukannya perasaan kita, yang mungkin saja terlalu berpihak? Yang mungkin saja salah?”
“Ya” suara itu hampir tak terdengar.
“Lalu, kenapa denganmu sekarang? Apa yang salah?” See semakin membenamkan topinya ke wajahnya. Menutupi mimik wajahnya. Entah apa kata Key jika dia melihat ekspresi wajahnya sekarang. Ekspresi yang muncul tiap gadis itu menghawatirkan keadaannya. Dia selalu berusaha tampil kuat di hadapan laki-laki itu. Terlebih untuk hari ini. Saat ini.
“Salah?” Key masih merundukkan wajahnya. Menggali-gali informasi dalam pikirannya. Hidup, mungkin iya.
Pikirannya masih berjalan sangat acak. Ia menggali segala faktor yang ia duga menjadi segala kecemasanya, segala pertanyaannya. Segala hal yang masih belum ia mengerti tentang kehidupan ini. Perasaan apa ini?
See masih membuka mulutnya, ingin memberendel dengan ribuan pertanyaan lagi. Tapi dalam sekejab ia sadar, tak ada lagi yang perlu ia tanyakan. Cukup, pikirnya. Ia tak ingin membuang-buang tenaga untuk sesuatu yang tak perlu hasil. Iya juga merasa sudah cukup.
Ia kembali mengusap cairan yang mengalir di pipinya. Dalam sekejab pikirannya tersedot acak tapi terarah, dalam kecepatan cahaya sampai pada ingatan ketika mereka duduk berdua suatu sore di lapangan tengah sekolah. Seperti kebiasaan mereka berdua yang hampir selalu mereka lakukan tiap sore: menikmati matahari terbenam.
…….
“Tapi ngomong-ngomong.. Keane, apa kau percaya pada takdir?”
“Takdir?” Key tersenyum. Dia tampak santai, tak berusaha membenarkan posenya yang sekarang. Siku tangannya masih bersandar di anak tangga kecil, tempat empat buah anak tangga beundak kecil yang menghubung antara lorong sekolah dengan lapangan berumput di tempat mereka. Seperti biasa, mereka duduk berdua menikmati terbenamnya matahari bersama di sore hari.“Maksudmu kepercayaan bahwa segala hal yang terjadi atau proses di dunia ini sejak awal telah diatur oleh Sang Maha Hidup, atau yang biasa mereka sebut Tuhan?”
See hanya mengangguk kecil, hanya memandangi wajah sosok didepannya yang kejinggaan terkena pembauran cahaya dari sang surya.
“Kalau kau sendiri?” Key kembali bertanya, seolah sedikit enggan menjawab.
“Emm.. Entahlah.. Aku cuma ingin tahu pendapatmu saja. Aku selalu penasaran dengan konsep takdir itu.”
“Ada yang sedang menjadi pikiranmu?”
“Emm.. tidak juga.. hanya tiba-tiba terlintas saja. Tiba-tiba pertanyaan tentang takdir itu muncul kembali tadi, beberapa detik lalu.”
“Huffhh.. ” Key mengambil nafas panjang, bersiap tentang teori panjangnya. “Oke.” See pun menatap dirinya lekat-lekat, sebagai konsekuensi pertanyaannya.
“Pertama-tama, teori ini tidak begitu menjadi perhatianku. Kenapa? Karena tidak dapat dibuktikan. Jadi hal yang akan menjadi penjelasannya hanya sejauh analisa-analisa dari teori dari hasil pendekatan masing-masing individu para ilmuan dan ahli filsafat yang berusaha memahaminya.” Key memberi dasar, sebagai salam pembukanya. “Selalu ada dua teori bertentangan yang abadi hingga saat ini. Yang pertama, adalah; semua makhluk hidup di dunia ini… emm.. atau mungkin kita persempit saja, yaitu: manusia, benar-benar memiliki hak penuh kendali atas dirinya. Atas kekuatannya merubah dan berinteraksi dengan objek di lingkungannya, sekitarnya. Yang intinya: manusia bebas bertindak apapun sesuai kehendaknya, tanpa terikat oleh hal lain yang mengontrolnya. Manusia memiliki kendali dan tanggung jawab penuh atas tindakannya.”
Dia berjeda. “Lalu, teori kedua: semua makhluk, tanpa terkecuali, memiliki garis takdir yang dipersiapkan untuk tiap dirinya jauh sebelum mereka terlahir nyata eksistensinya di dunia ini. Jauh sebelum ia memiliki pikiran ataupun bertindak. Takdir ini mengatur segala hal yang terjadi pada objek makhluk itu, sehingga apapun yang terjadi atau dilakukan makhluk itu telah ditentukan sejak awal oleh takdir. Intinya: segala hal yang dilakukan manusia sejak awal telah ditentukan oleh takdir yang ditulis Tuhan. Meskipun manusia bebas berkehendak dan berusaha, sejak awal hal itu telah dituliskan, dan telah menjadi rencana dari Sang Maha Hidup tersebut. Semuanya telah terkonsep. Seperti skenario dalam panggung sandiwara, dengan Tuhan sebagai dalangnya. Kebebasan manusia sebenarnya adalah semu. Ilusi.”
See masih setia mendengarkan. “Aku suka simulasi sederhana dengan ‘Pohon Apel’ ciptaanku. Here is the case. Ada pohon apel yang tumbuh liar di alam luar. Pohon itu terus tumbuh dan berbuah. Dan ada dua manusia yang mengamatinya. Pada manusia yang berpaham teori satu, kita sebut dia sebagai: Manusia 1, dia berpendapat bahwa tumbuhnya buah apel tersebut adalah sebuah kebetulan. Accident. Sesuatu yang tidak direncanakan. Mungkin saja ada manusia yang membuang sisa buah apel yang telah dimakannya di sekitar tempatnya tumbuh, lalu tumbuhan apel itu tumbuh. Atau ada kemungkinan lain, tak jauh dari sana ada juga pohon apel lain, apelnya jatuh di tanah, dimakan hewan, lalu bijinya jatuh di sekitar tempat tumbuhnya sekarang. Apapun kemungkinannya itu. Biji apel itu dapat tumbuh, karena lingkungan sekitarnya memungkinkannya tumbuh. Memungkinkan terjadinya proses hingga tercipta kehidupan.
Seperti yang dapat kita duga bersama, teman satunya, Manusia 2 berpendapat bahwa segala analisis yang dikatakan Manusia 1, apapun kemungkinannya itu, semuanya semuanya telah tertulis. Adalah takdir. Memang sejak awal apel itu ditakdirkan tumbuh, digariskan untuk tumbuh, dan kita tak dapat mengubahnya, mengendalikannya untuk dapat mengalami hal selain itu. Dia mempercayai, bahwa jauh sebelum apel itu tumbuh, bahkan jauh sebelum pohon asal dari buah dari biji apel itu tumbuh, jauh sebelum apapun terjadi, tanaman apel ini memang telah direncanakan tumbuh di tempatnya yang sekarang.
Manusia 1 tak percaya dengan teori manusia 2 dengan mengatakan “Itu tak benar. Kita, makhluk hidup, dapat bertindak dan merubah kondisi, bagaimana bisa semuanya memang telah diatur sejak awal?”. Dia lalu mengambil air dan menyiramkannya ke tanaman apel itu. “Lihat, aku dapat menyiraminya dengan air. Sekarang dia akan hidup lebih baik. Jika sekarang aku memberinya pupuk, nanti dia akan berbuah lebih banyak. Bahkan jika aku mau, aku dapat memotong tanaman ini sekarang dan dia akan mati. Kita, manusia, dapat melakukan apapun untuk merubah hal. Kita mempunyai hak kuasa untuk memilih!”
Kembali lagi, seperti yang terduga, Manusia 2 berkata,“Semuanya yang terjadi sekarang ini, memang telah diatur sejak awal. Kau menyiram tanaman itu barusan, sudah direncanakan. Dan tak ada yang bisa mencegah dirimu, jika kau memang ditakdirkan untuk menyiram tanaman itu. Dan apa yang akan terjadi dengan tanaman itu di masa depan, semuanya telah ditakdirkan. Apapun itu. Bahkan kita memperdebatkan semua hal tentang tanaman apel itu sekarang, sejak awal memang harus terjadi.””
“Kau tahu apa yang terjadi dengan mereka berdua?” Key menutup penjelasannya, merasa tak ada lagi yang perlu dijelaskan.
“Mereka kembali ke jalan masing-masing?”
“Yuph! Mereka kembali ke jalan masing-masing, meyakini apa yang mereka yakini sejak awal.” Terdapat senyum kecil di bibirnya. “Mereka sadar, terus berdebat tak menghasilkan apa-apa. Malah mereka hanya terus membuang waktu dengan berusaha membuat orang lain percaya apa yang mereka percayai, bukannya menjalani hidup sesuai yang mereka percayai.”
See mengangguk pelan. Ikut tersenyum. “Aku mengerti. Benar, lebih baik pilih salah satu, lalu menerapkannya dalam hidup kita. Daripada memperdebatkan siapa yang benar dan salah.” Dia lalu membuat kesimpulan lagi. “Mungkin saja, salah satu dari mereka benar, tapi terus memperdebatkannya adalah jelas-jelas salah.”
“Genius! You got it!” Key menepuk pundak See.
“Jelaslah!.. siapa dulu, dong, gurunya!.. hahaha..” See tertawa lepas. Sejenak, dia kembali. “jadi, apakah aku bertanya hal barusan itu, hal yang salah?”
Key menggeleng. “Tentu saja tidak. Tak pernah ada yang salah dari sebuah pertanyaan, yang bersumber dari ketidak-tahuan.”
“Bagaimana kalau ternyata, aku sebenarnya sudah tahu tentang hal itu sebelumnya?” See menyimpul senyum kecil. “Bagaimana kalau sebenarnya aku hanya ingin tahu apa pikiranmu?”
Cukup lama.
Ruang di antara mereka berjalan melambat.
Key memutuskan untuk mengatakannya. “Ya, aku sudah mengetahuinya.”
“Kau kira aku siapa-mu? Kau kira kau siapa-ku? Tentu aku tahu.” Dia memandang mata See cukup dalam. Tak pernah seserius ini. “Tentu aku tahu, bahwa kamu sebenarnya telah mengetahuinya. Sama seperti: tentu kamu juga sebenarnya telah tahu, bahwa aku juga mengetahuinya bahwa kamu sebenarnya telah mengetahuinya. Benarkan?”
Memangnya, aku siapa-mu, Keane? Boleh aku mendengarnya? Sudah lama aku ingin tahu.. Ah, bodoh kau, See! Bodoh! Bodoh! Bodoh! Bodoh! Bukan itu inti penjelasannya! Tapi, sama-sama tahu, bahwa kalian saling sama-sama tahu! Itu intinya! Hal ini akan kadaluarsa dalam 0,75 detik lagi! Pikiran See berkecambuk, tapi sigap dalam satu setengah detik kemudian. Menutupinya lagi dengan senyum kecil. “Benar! Genius!”
Seperti  biasa, See. Kau kembali menyesal.. Dan seperti biasa juga, kesempatan itu terlewatkan lagi.. “Tapi, ngomong-ngomong, Keane, dirimu manusia yang mana?”
“Hmm..” Mata Key berputar. “Aku belum memutuskannya. Tapi aku menikmati dialog kita ini. Setdaknya aku meyakini itu.”
See melihat senyum kebahagiaan itu, lalu ikut tersenyum. “iya.. aku juga menikmatinya!.. Kita selalu cocok dan klop! Kita selalu mengalir ke tiap-tiap tujuan kita masing-masing, tapi bermuara ke tempat yang sama dan selalu bersama-sama. Seperti semuanya telah diatur..”
“Hmm… Aku tahu sekarang, dirimu itu manusia yang mana..” Key dalam sekejab menyeringai tajam.
“Hahahahahaha..” See tertawa lepas. Selepas-lepasnya, karena tak ada kata-kata untuk meng-cover pernyataan itu. Tapi dia berusaha. “Ya, kau benar, aku percaya bahwa semuanya ada yang mengatur. Tapi aku tak percaya takdir.” Jelasnya singkat.
Key tak bergeming. Seolah tak memperdulikan.
See sadar, tak perlu ada pertanyaan-pertanyaan seperti ini untuk mereka. Mereka telah menikmati perasaan ini, perasaan bersama-sama. Tak perlu harus selalu sama, selalu sependapat. Bahkan sering bertentangan dan bertengkar di banyak kesempatan. Tapi mereka berdua sadar, ini semua.. cukup. Cukup, tak perlu ke mana-mana lagi. Dia, mereka, menikmati kebersamaan ini yang sesederhana ini.
Tapi terkadang, hati berbicara, cukup saja tidaklah cukup.

“Oh ya, bagaimana kalau dengan jodoh? Apakah sama?” See memancing lagi.
“Sudahlah, ini hanya akan berujung pada perdebatan saja. Sama saja.” Key seolah benar-benar enggan membahas tentang teori tak berujung ini lagi.
“Huh.. aku kan masih penasaran untuk yang satu ini. Kelihatannya beda deh..” See memasang wajah semanis mungkin.
Key melirik sambil mendengus.
“Ya.. please…” kali ini ditambah kedipan mata beberapa kali.
“Oke, maksudnya jodoh, itu apa?”
Yes! See meloncat salto tujuh kali dalam hati.
“Emm..” See memutar matanya. Dia mencari kalimat termudah. “Oh! Gini: Sederhananya, jodoh adalah seseorang yang telah ditakdirkan atau ditentukan sejak awal untuk menjadi pasangan hidup kita!” See tersenyum lebar, sangat puas dengan kalimatnya. Sederhana, tapi mengena. Tak banyak, tapi mewakili.
“Kau percaya dengan teori jodoh itu?” Key singkat.
“Percaya..” lalu kemudian See membelalakkan matanya, merasa tertipu. “Hey, curang!”
“Kenapa kau percaya?”
See lega, ternyata ini berlanjut. “Percaya saja. Gak bisa dijelaskan..”
“Hmm.. oke, pertanyaanku salah. Aku ganti. Bagaimana kau tahu kalau orang itu adalah jodohmu?”
JLEB! Pertanyaan yang sangat mengena. Tepat menembus jantung. Kalaupun dia mempunyai lima jantung sekarang, kelima-limanya tepat sasaran menembusnya. See memeras otak seketika. Lama, hingga beberapa saat kemudian, “aku sendiri tak yakin. Tapi mungkin ketika aku bersamanya aku merasa nyaman, merasa terlengkapi, merasa, “He is the One!”. Begitu?”
“Jika yang kau maksud Jodoh adalah ikatan takdir yang mengikat dua orang, untuk bersamanya selamanya, pertanyaannya akan kembali lagi, hal yang paling dasar: bagaimana kita tahu kalau orang itu jodoh kita? Orang yang bersama kita, bisa sewaktu-waktu pergi meninggalkan atau menghianati kita. Orang yang telah menikah bertahun-tahun-pun, bagaimana bisa tahu kalau pasangannya itu adalah jodohnya? Dua orang, bersama-sama, saling mencintai, lalu mereka saling berkata ke pasangannya: “kaulah jodohku yang telah dipersiapkan Tuhan untukku..”. Lalu beberapa saat kemudian mereka menghadapi masalah dan ternyata berpisah. Lalu mereka berkata lagi, “Mungkin, bukan kau jodoh yang dipersiapkan untukku.. Mungkin ada orang lain yang lebih baik yang telah dipersiapkan Tuhan, untuk masing-masing dari kita.” Mereka menarik perkataan mereka sendiri. Merevisi-nya sendiri.”
“Lihat kan? Manusia adalah makhluk egois. Mempunyai sifat membenarkan perasaannya sendiri. Ketika menemukan orang yang tepat: orang cocok yang mereka cintai dan juga mencintai diri mereka balik dengan utuh, dan ketika segala hal ketika itu cocok dan mendukung, seperti kondisi lingkungan, suasana, atmosfir, seperti seolah alam semesta mendukung mereka untuk terus bersama ketika saat, mereka dengan egois ber-statement: “kau adalah jodohku”. Ketika kondisi menjadi sulit untuk bersama, mereka ber-statement: “mungkin bukan kau jodohku”. Ketika kondisi berubah lagi, hingga paling fatal, mereka berpisah, mereka ber-statement lagi: “Jika memang bukan jodoh, tidak dapat dipaksakan”. Lalu apa poin yang tersisa dari pengertian ‘jodoh yang telah ditentukan?’. Hanya ilusi yang mereka buat sendiri untuk menghibur hati mereka sendiri. Bahkan keyakinan mereka tentang ‘orang yang tepat’, juga diragukan. Memang, orang itu harus se-‘tepat’ apa? Sedetil apa? Sesempurna apa? Tepat itu relatif. Kita mentoleransi standar ‘tepat’ kita sendiri, ketika kita jatuh cinta pada seseorang.”
Keane memberikan pungkasan penutupnya. “Segala hal di dunia, sebenarnya relatif. Apapun itu. Manusia hanya memberi batasan-batasan dan persentasi toleransi, untuk pengkategorian absolut.”
See merunduk, tak sanggup memperlihatkan wajahnya. “Jadi, intinya, kau tak pernah percaya dengan jodoh?”
“Kita dapat dipertemukan dan dipisahkan oleh segala hal secara acak. Universe Conspiration, tak selalu sama dengan rencana kita.”
“Kenapa kau begitu pesimistis? Skeptis?”
“Bukan, Realistis.”
“Pernahkah kau berharap kebaikan? Entah itu pada seseorang, atau sesuatu? Berharap segala sesuatu berjalan sesuai dengan yang kau harapkan?”
“Maksudmu, berusaha mempertahankan agar sesuatu berjalan sesuai keinginanku?” Key mengklarifikasi.
“Bukan, bukan berusaha. Tapi lebih ke: percaya dalam hati bahwa segalanya akan baik-baik saja.”
Keane menutup matanya, merenung sejenak. Tiga tarikan nafas. “Maaf, aku bukan penjudi.”
Satu kalimat tersebut menjelaskan segalanya.
“Kau pasti pernah kehilangan seseorang, benar kan?” See sedikit memberi tekanan pada kata ‘kehilangan’.
Key membuka matanya. Tak ada jawaban. Hanya nafas.
“Sama sepertiku.” See menutup pertanyaan itu sendiri. Menjawabkan kalimat itu untuk mereka berdua.
Key membuka mulutnya. Seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi tak ada yang keluar. Dia hanya ikut merunduk.
Langit semakin terlihat seperti kumpulan ribuan jeruk yang bersinar menyala. Angkasa seperti berkata bahwa panggung untuk hari ini segera berakhir. Harapan untuk hari ini akan disambung untuk esok hari.
“Sudah sore,” See beranjak dari tempat duduknya. “ada yang harus kukerjakan.”
Tiba-tiba tangan See terantai sebentuk genggaman. Tangan Key. “Jangan pergi dulu.” Nafas itu kembali meragu. “Setidaknya hingga hatimu tenang.”
See memandangi Key. Dua mata itu bertemu dan berpeualang sejenak. “Tidak. Aku tidak apa-apa, Key. Memang ada yang harus kukerjakan.”
“Tunggu aku. Tetaplah di sini sebentar lagi..”
Ruang kosong.
“Sebentar lagi matahari itu tenggelam. Kita ditakdirkan duduk di sini dan menikmati senja bersam-sama.. aku tak ingin takdir kita terputus sampai di sini. Aku berharap genggaman ini sanggup memperpanjangnya. Beberapa menit?”
Mata mereka kembali berpetualang. Mereka berdua tahu, tak pernah ada kebohongan.
“Dua menit tujuh detik lagi, Key.” Akhirnya terbingkai senyum lagi di wajah See. Dia kembali duduk di tempatnya semula. Tak bergeser sedikitpun. “Oke, aku akan menunggumu. Menemanimu hingga tiga menit lagi, hingga satu menit setelah matahari itu tenggelam.”
“Terima kasih. Itu cukup.”
“Aku berharap, kita dapat selalu saling menunggu seperti ini.”
“Giliran berikutnya, apapun itu, aku yang akan menunggumu.”
“Terima kasih..” Tentu saja kau sungguh mampu. Aku sekarang mencair!.. Sangat! Sangat Mencair!..
“Oh ya, kau tadi bilang ‘takdir’, ya?”
“Kau tak salah dengar.”
“Lalu, sebenarnya kau ini manusia tipe mana, sih?” Jengkelnya terhadap anak laki-laki ini kembali lagi sampai ke ubun-ubun. Seolah semua yang dia terangkan tentang teori takdir di awal hanya sebuah lelucon besar.
“Aku… emm.. Hybrid.
“Hmm, Hybrid? Maksudnya?!”
“Eh, sudah mulai!..” Key menunjuk ke arah pertunjukkan utama.
“Hei, jawab dulu pertanyaanku!..”


***

“Kenapa?” kalimat itu terlahir selayaknya lubang hitam oksigen. Menyerap tanpa henti semua oksigen di sekitarnya, hingga tercekat dan hampir mustahil bernafas. Setiap kalimat antara mereka berdua saat ini semuanya menjelma menjadi lubang hitam oksigen tanpa terkecuali. Membuat bernafas menjadi pilihan yang buruk untuk makhluk hidup di sekitarnya saat ini, namun memilih untuk tidak bernafas tetaplah sebuah pilihan terburuk.
“Key, kau sendiri yang pernah bilang kan? “jangan pernah menggabungkan ingatan baik atau buruk dengan perasaan. Karena itu akan meng-hiperbola, menjelma membesar, mengangkasa, menjadi jauh lebih besar dari kejadian yang sebenarnya.”. katamu lagi, “bersikaplah adil kepada ingatanmu, agar tetap objektif.”” See mengatakan kalimat itu dengan segenap tenaganya. See hampir tak percaya, dia sekarang yang harus mengembalikan kalimat itu kepada sang pemberi. Sebuah ide yang mereka yakini berdua: ‘ingatan selalu menipu, ketika itu tercampuri oleh sebuah perasaan.’ Ingatan manis, setelah beberapa waktu akan berevolusi menjadi sangat-sangat-sangat manis daripada kejadian manis yang sesungguhnya, karena seiring bertambahnya waktu, kita terus menerus menambahkan rasa ‘manis’ itu ke ingatan kita. Begitu pula itu berlaku untuk kenangan buruk. Oleh karena itu, mengingat kembali kenangan manis selalu lebih indah daripada mengalami kembali kejadian manis yang sesungguhnya. Mengingat kenangan buruk, selalu lebih ‘membunuh’ daripada kejadian buruk itu sendiri. Ingatan menjadi tak akurat lagi datanya, karena ia merubah bentuk, warna, ukuran, suhu, dan suasana. Oleh karena itu, di dalam persidangan kesaksian dari saksi mata tidak dapat dijadikan barang bukti. “Kau sekarang tidak objektif.”
“Kenapa kau harus pergi?”
“Aku tak boleh mengatakannya” See jengah. Dia beranjak dari tempatnya bersarang selama dua jam lebih itu. Hela nafas panjang. “Jika kau tak mau naik, aku yang harus turun.”
See berdiri selama beberapa detik, untuk menguatkan kakinya lagi setelah duduk sekian lama. Dia berjalan mendekati salah satu ranting pohon terdekat dan menelusurinya perlahan ke bawah.
Sedetik ketika kedua kaki See menginjak tanah, Key dengan kecepatan kilat menyeret tangannya. Mengajaknya berlari tanpa berkata-kata.
“Hey, Keane! Kemana kita?!” See otomatis berteriak. Badannya tergoncang, dan kakinya tertatih mengikuti lari kaki Keane. Dalam pikirannya sekarang begitu terkejut, panik, dan sedikit takut. Hal ini terjadi di luar dugaannya.
Key hanya memandang lurus ke depan, tak menjawab. Hanya terus memperkuat gengaman tangannya dan lari kakinya. Dan nafasnya, tentu saja.
Laki-laki tua yang sejak tadi menunggunya pun tak kalah terkejut. “Nona, kita harus segera berangkat!” ia menambah teriakannya untuk memastikan. “Segera!”
“Tenang,” nafas See terengah. “aku segera kembali!” lalu pandangan See berubah ikut serius fokus ke depan, bersiap apa yang akan dihadapinya di depan. Ini takkan lama, aku berjanji.


***

Langit malam di awal bulan Mei begitu cemerlang. Dijejaki butiran-butiran bintang besar dan kecil. Yang terakhir lebih sering tak terlihat karena kabut dan juga awan tipis yang menyelimuti sang angkasa di waktu. Lampu-lampu di pedesaan yang mulai banyak juga sedikit banyak ikut memberikan ilusi ‘menghilang’. Bulan baru juga ikut menemani. Menambah ekstensi kenapa semua suka menikmati langit dan bintang di malam hari.
Bipp.. Bipp..
Dua getaran. Sebuah pesan. Dia merogoh saku jaketnya. Dia menutup blocknote yang berisi tulisan tangan yang baru ditulisnya beserta pensilnya itu di kantong jaket lainnya. Dia membuka isi pesan yang ter-display di layar telepon selulernya yang berwarna biru itu.


Lonceng di kalung kucing .Sekolah. ingat? Sekarang bertambah dua! aku menemukannya tadi sore bertambah menjadi dua! kira-kira siapa yang menambahkanya ya?


Gadis itu tersenyum, lalu membalasnya cepat.


Coba tebak?! :P *bersiul*


Dia menekan tombol ‘kirim’. Lalu bergegas pergi.

……
………..

“Keane!” gadis itu melambaikan tangan pada bayangan hitam di bawah menara.
Sosok itu muncul dari bayangan. Wajahnya sekarang tampak jelas. “Password?”
The secret of creativity is knowing how to hide your sources!” memang tak pernah ada yang menjawabnya secepat dan sesemangat See. Dia kembali bertanya. “Password?”
The whole of science is nothing more than a refinement of everyday thinking.” Jawab Key tenang.
Mereka saling berpandangan, saling antusias dan berakhir dengan tersenyum. “Great!” “Sip!” mereka berdua menjawab bersamaan.
“Jadi, kenapa kau kesini?” Keane memasang wajah heran.
Wajah See cemberut seketika “Kan, kamu yang menyuruhku ke sini. SMS itu. Pesan tersembunyi.” See menjulurkan lidahnya. “Kamu kira aku siapa? Tentu kamu tahu aku tahu.”
Key tersenyum.
“Aku tak pernah lupa, kau tak pernah memakai huruf besar satupun dalam SMS-mu. Kau tak pernah membiarkan autotext aktif.” See sangat bersemangat menjelaskan seperti biasanya. “Yang kedua, tanda titik setelah spasi. Kau juga tak pernah salah dalam mengetik. Itu tanda kodemu. Lonceng. Sekolah. Sekarang.
Key tersenyum lebar, disusul menepuk bahu See. “ Seperti yang kuharapkan. Tentu aku tahu kamu tahu.”
“Oh ya, sudahkah kau memecahkannya?” Key merubah topik, langsung pada intinya. Ia melipat tangannya. Menunggu kejutan.
See kembali diingatkan sesuatu. “Ah! Petunjuk terakhir. Baru tadi aku menemukannya.”  Dia merogoh blocknote-nya dalam saku jaketnya. Dia kembali membacanya.

-          Cahaya dan bayangan tak berlaku untukku. Aku adalah kebenaran.
-          Di ketinggian. Jauh di atas yang kau bayangkan.
-          Aku nyata, tapi tak nyata
-          Diamku selalu menggema.

See kembali meresapi arti di setiap kalimatnya. Mengkaitkan tiap antar kalimatnya.
Tak butuh waktu lama. “Ah!..” matanya membelalak, pupilnya melebar. Dia memandang ke atas. Tepat ke atas menara. Sebuah benda. “Mungkin..”
“Yuph!” Key kembali tersenyum. “Sangat mungkin!”
“Tapi..” gadis itu ragu.
“Hanya ada satu cara untuk memastikan! Ayo!” Key berpaling, bersiap naik ke atas menara. “Cepat, sebelum group lain juga menemukan petunjuk terakhir ini. Semuanya sudah kupastikan pasti segera kemari.”
“Tapi, tunggu, Keane!” baju Keane tersangkut gengaman tangan See. Keane menoleh. “Ini adalah tes terakhir. Ini juga adalah tes individu. Hanya boleh ada satu pemenang. Hanya boleh ada satu agent.
“Aku tak tertarik memecahkannya sendiri. Aku ingin memecahkannya denganmu. Aku berharap kita bisa terus..” kalimat itu mengecil dan tak terselesaikan. Menggantung.
Key menggenggam tangan See. Menggiring See perlahan untuk ikut memanjat. “Jika memang hanya boleh ada satu pemenang, kau saja. Tanpa diriku pun, kau pasti pergi ke tempat ini, kan?”
Dalam keyakinan dan ketidakyakinan, mereka memanjat menara tersebut.

Bersambung..
Baca Lanjutannya Ahh..