Tampilkan postingan dengan label my diary session 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my diary session 2. Tampilkan semua postingan

-postingan awal 2013!!!-

Author: Unknown // Category:
*Note:
Jika kalian berhasil membaca tulisan gue ini, itu adalah tanda bahwa:
GUE BERHASIL SELAMAT DARI KIAMAT 2012!!

oke, artinya apa?
1.) Gue berhasil selamat.
2.) Gue masih hidup.
3.) Dunia gak jadi kiamat
(oke, 3 hal di atas sama aja!)
4.) Gue  menarik semua pengakuan kesalahan  yang gue katakan sebelum tgl 21 Desember 2012 kemaren! Itu murni karena desakan, paksaan, tekanan, dan tidak dapat dijadikan sebagai pengakuan ataupun barang bukti!
5.) Gue berhasil selamat. *minta digampar*

***

Ehem, uhuk-uhuk!
Di awal tulisan gue ini, pertama-tama gue mau ngucapin selamat memasuki tahun 2013! Semoga di tahun ini kita menjadi semakin lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, dan banyak dari harapan rencana dan impian kita yang mampu terwujud.  Dan semoga Syahrini di Tahun 2013 ini semakin kreatif lagi membuat istilah-stilah kreatif lainnya, selain kata-kata “Dahsyat Cetar Membahana Halilintar Badai Topan Tornado Tsunami Hip-hip Hula-hula Ciyus Enelan” (oke, kalimat di atas gua panjang-panjangin sendiri).  Dan semoga gue semakin gampang jodoh, amin! *agak curcol*
Setelah gue pikir, sampai tahun 2013 ini, ternyata banyak banget hal yang udah gue lewatin, alami, dan pelajari dalam kehidupan. Gue banyak belajar pelajaran kehidupan, seperti persahabatan, arti hidup, rasa sakit cinta, keikhlasan, asmara, sulitnya tantangan hidup, pencarian belahan hidup, keihlasan, unrequited love, dan macem-macem. (bagi yang merasa hal ini lebih banyak tentang masalah cinta, itu tidak benar!)
Serius! Gue banyak mengalami pencerahan hidup hingga ke belakang ini, yang membuat gue makin amat sangat berkembang dan banyak upgrade, dari yang awalnya à Boot ver. 5.69 beta, menjadi Boot ver. 5.7 (trial ver with unfixed bug) (cetek banget ya?). Gue jadi belajar bahwa, dalam hidup kita memiliki tujuan dan harapan hidup, dan kita harus memperjuangkannya apapun yang terjadi. Gue juga belajar bahwa terkadang hidup membawa kita tersesat ke lingkungan baru di luar tujuan kita, ketika kita kehilangan arah, untuk menyadarkan bahwa banyak hal lain yang juga berharga di luar sana. Kadang hidup juga mengajarkan kita untuk pandai mengganti-ganti ‘topeng’ di bermacam tempat dan kondisi, dan sering kehidupan juga mengajarkan untuk melepas ‘topeng’ pada orang-orang yang tepat. Hidup mengajarkan kita untuk mengejar apa yang kita inginkan, tapi hidup juga mengajari untuk ikhlas melepas. Kadang hidup mengajarkan untuk bersikap ramah lembut, tapi hidup juga mengajarkan untuk bersikap keras. Kadang hidup mengajarkan bahwa makan sushi yang bijak adalah menggunakan sumpit, tapi hidup juga mengajarkan bahwa jika-berkali-kali-sushi-terjatuh-dan-tidak-ada-siapapun-melihat-dan-kamu-merasa-kelamaan-makan-keburu-lapar kamu boleh mengambilnya dengan tangan.
             Sepahit dan seburuk apapun, hidup mengajari kita untuk… hidup. Hidup yang terbaik tentunya.
Kalau resolusi, gue sekarang ingin hidup lebih jujur lagi, mengurangi ego gue dalam bertindak apapun, rela belajar apapun, rela mencoba apapun, rela mematuhi segala nasehat baik yang sudah seringkali kudengar, dan mengurangi melakukan kesalahan hal yang sama berulang-ulang. Amin!
(bagi yang harapanannya mirip gue, yuk sama-sama. Amin.. J semoga terkabul. Maksud gue, kita rela mengabulkannya sendiri. Amin.. )

***
Lagi-lagi lama gak nulis, gimana kabar gue?
Gue, baik. Ya, gue masih hidup. Yuph, sorry membuat kalian kecewa.
Gue masih sibuk corat-coret desain, gue makin pengen fokus desain di bidang desain karakter. Terakhir kemaren ini gue ikut lomba maskot di salah satu event si Surabaya. Gue masih autis, tapi sekarang udah lebih terkendali. Udah mulai mengurangi buang air besar di atas pasir dan makan tahu mentah di kulkas malam-malam (kalo yang terakhir, gue serius). Btw, gue sekarang kemana-mana lebih rapih lho.. Kalo dulu sukanya maen kemana-mana pake celana jeans pendek, sekarang kemana-mana pake celana panjang. Kalo dulu sukanya pake kaos, sekarang sering pake hem. Bahkan tidur juga pake hem. Gue juga sekarang lebih safety oriented. Mau keluar rumah, cek tekanan ban dulu, jangan sampe kurang angin. Mau kemana, cek uang dompet dulu. Keluar pake motor, cek surat STNK dulu. Lihat awan mendung dikit, berangkat pake jas hujan.
Oh ya berita sangat baik buruknya, gue udah setahun ini juga ikut kecanduan demam korea-korea-an. Hash.. Tapi gak kayak cewek-cewek ababil yang nge-fans boyband-apapun-asalkan-itu-dari-korea, gue fokus. Gue cuma ngefans sesuatu yang berkualitas. Gue lagi kecanduan 2 hal, yaitu: variety show Running Man, ama girlband Girls Generation (SNSD).
(bagi yang gak tahu apa itu Running Man, bisa search di google. Itu variety show nomor 1 di Korea, yang booming hingga internasional, lucu N seru abis! Bagi yang gak tahu apa itu SNSD, gue ikut berduka cita, pasti hidup kalian tidak bahagia.)
Kalau ada yang nanya ke gue, gue tahu persis jawabannya:
Kenapa suka Running Man? “karena gamenya seru abis! ”
Kenapa suka SNSD?  “mereka cantik-cantik!”
Kalau mereka masih kurang puas, N nanya lagi:
Kenapa suka Running Man? “karena kejadiannya konyol-konyol, lucu parah!”
Kenapa suka SNSD? “mereka cantik-cantik!”
Kalau masih aja ngeyel, N tetep gak percaya:
Kenapa suka Running Man??? “TIAP KARAKTERNYA UNIK, KHAS, DAN SALING MELENGKAPI!! GAK BOLEH ADA YANG KELUAR ATAU DIGANTI!!! MEREKA TIM SOLID!!!”
Kenapa suka SNSD??? “MEREKA CANTIK-CANTIK!!”

Kalo si Udik, dia sekarang kelas 1 SMP! Wah, gak nyangka ya, dia tahu-tahu udah gede.. perasaan baru kemaren dia gue temuin keluar dari buah labu. (emang apaan?) karena gagal masuk SMP favorit pilihannya (sekolah pilihan pertama), sekarang dia musti puas dengan SMP pilihannya yang ketiga, jaraknya kurang lebih 15 menit dari rumah gue (hitung sendiri jaraknya berapa km).
Dia tiap hari dianter jemput pake motor. Kalau pagi gue anterin, kalau siang dijemput bokap. Seperti biasa, jabatan anggota keluarga yang bisa nyetir: supir cadangan. Meskipun dia sering mengeluh jarak sekolahnya yang jauh (SMP pilihan pertama hanya berjarak 3 menit dari rumah gue) kalau dibandingkan gue dulu, si Udik jauh lebih beruntung. Dia masih dianter jemput. Kalau gue dulu harus rela menanggalkan harga diri gue dengan nebeng motor temen yang keluarganya lebih ‘mampu’. Uang saku gue dulu ngepres, kalo gue pake buat naik angkot itu artinya sehari itu gue musti gak jajan di sekolah dan musti sok sibuk di kelas ngerjain apapun tugas yang ada hari itu di bangku gue. Kalau ada temen nanya kenapa kok cuma di dalam kelas aja N gak jajan di luar, gue bisa jawab, “kenapa kalian masih terbelenggu keinginan duniawi sepeti itu.. jajan adalah nafsu. Dan nafsu adalah sumber penderitaan. Lepaskanlah.. dan kau akan damai.. terbebas.”
Meskipun mungkin temen-temen gue gak tahu, gue lagi mingsek-mingsek menghibur diri sendiri sambil gambar-gambar gak jelas di kertas.
Yang (agak-lumayan-sedikit-mungkin) keren, ternyata si Udik masuk kelas eksklusif di sekolah itu lho!.. ya itu adalah semacam kelas unggulan, yang isinya adalah kumpulan anak-anak paling cerdas seangkatan mereka. Kalau kalian pernah baca komik detective Q, maka itu adalah kelas Q! (kalau di komik itu Q artinya Qualified, maka mungkin Q di sini artinya: Q aja. Kelas setelah kelas M, N, O, P) Setelah melalui semacam seleksi, ternyata adik gue masuk kelas itu.
Gue awalnya sih, terkagum-kagum, “wah, ternyata ada juga yang bisa dibanggakan dari emm.. makhluk-yang-harus-gue panggil-adik ini.. gak nyangka..”. Tapi setelah inget gimana sifat aslinya si Udik kalau di rumah, gue jadi penasaran, “itu aslinya sekolah apa sih? Beneran sekolahan? Kok si Udik bisa masuk??!”. Ya, kadang gue agak skeptis ke adik gue.

Note: sekarang dia masih suka corat-coret imajinatif, masih suka baca insiklopedia, discovery channel, On The Spot, masih suka banyak nonton kartun, juga kecanduan main game, dan juga baca Meme Comic Indonesia. Nunggu nanti dia jago bahasa inggris dikit, pasti dia bakalan kecanduan baca 9gag, dan tahu arti semua dialog dalam kartun Family Guys, The Simpsons N Sourth Park. Atau mungkin nonton Ted, berulang-ulang.

Galuh, adik gue cewek dan yang pertama, dia kuliah semester akhir sekarang. Lagi sibuk-sibuknya ngurus skripsi sambil ngelesi. Lagi sulit diganggu kayaknya. Dicolek dikit, gigit.
Kabar gembiranya, dia sekarang bawa motor sendiri, jadi enak kalau ngelesi atau ada kegiatan lain dia bisa fleksibel waktu dan tenaga, tapi masih tetep ngekost. yah, at least, dia gak perlu sengsara pas kuliah kayak gue dulu yang harus bawa si vespa biru gue, Si Blues. Bagi yang baca blog gue dari dulu-dulu, pasti tahu gimana halang rintang dan cobaan ketika gue tiap hari kuliah bawa vespa ‘ajaib’ itu.
Gak banyak yang bisa gue ceritain tentang si Galuh. Masa lalunya masih diliputi dengan misteri. Oke, maksud gue emang dia gak banyak berulah atau bermasalah, yang bisa gue angkat ke blog. Dia cewek baik-baik dan beriman.. kuliahnya aja di IAIN jurusan Matematika Tarbiyah!
(oke, kenapa kalian memandang gue seperti itu?? Kakak dan adik kan boleh beda ekstrim!)
Nyokap. Kalau nyokap, masih tetaplah wanita perkasa yang gokil, masih sanggup membawa keceriaan dan tawa di sela-sela rumit dan beratnya rumah tangga. Beliau masih hobi bikin sarapan nasi goreng dari nasi sisa semalem. Masih suka bikin masakan yang memancing pertanyaan-pertanyaan dari gue semacam, “ini masakan kapan?” “makanan ini masih enak?” atau “ini, sayur lodeh atau sop? Atau gabungan keduanya?” masih ortu yang seru pokoknya. Iya, kami sekeluarga masih hidup setelah melalui semua percobaan makanan-makanan radioaktif tersebut. Sel-sel kami telah menguat dan bermutasi setelah menghadapi berbagai cobaan tersebut. Lidah gue aja kadang menyala ijo fosfor!
Oh ya, nyokap tuh hobi nonton film. Beliau selalu terkagum dengan film buatan luar negeri. Katanya selalu menyentuh perasaan dan totalitas. Yang gak disuka nyokap adalah genre film gontok (action, menurut bahasa nyokap gue), robot, monster, dan superhero. Yang paling dia suka itu genre drama, kehidupan, misteri, horror dan thriller. (kebalikan dari nyokap gue, Furi, sahabat gue ini paling anti thriller N horror. Terakhir gue ngajak dia nonton Cabin in The Wood, gue sempet mau bungkem mulutnya pake tas, karena teriakannya. Ada adegan tusuk-tusukan dikit oleh zombie, dia udah teriak “OH MY GOD! OH MY GOD!..” kalo Furi ketakutan karena filmnya, gue ketakutan karena Furi. Bawa Furi nonton film thriller, ternyata lebih thrilling daripada film itu sendiri.)
Salah satu kebiasaan buruk nyokap ketika nonton film adalah: ketiduran. Kebanyakan film yang tayang di televisi main jam 9 malam. Dan tiap mencapai jam  10 ke atas, mata nyokap gue udah berat, karena sibuk segala urusan rumah tangga. Tinggal nunggu iklan 2 menit, alam bawa sadar nyokap gue udah melayang jauh lebih dalam jauh lebih lelap. Kalau udah gitu, bagaimanapun gue bangunin, it doesn’t work. “Mamak, bangun! Filmnya udah main lagi tuh..” Tiap gue bangunin, biasanya nyokap cuma melek 30 detik abis itu terlelap lagi. Besoknya mamak pasti bahas nyeselnya beliau karena sulitnya bangun.
Tapi belakangan, karena koleksi film di hardisk gue makin banyak, gue sering ajak mamak nonton film di laptop. Gue sengaja pilihin genre kesukaannya. Karena tidak adanya iklan, jadi mamak bisa full konsen nonton hingga film kelar. Giliran gue yang ketiduran, karena filmnya udah gue tonton sebelumnya. Besok paginya seperti biasa, sambil masak, nyokap bakal cerita banyak tentang film itu, “iya, Har! Ternyata orangnya itu sendiri adalah hantu. Makanya Mamak awalnya heran, ‘kok bisa dia gitu?’ eh gak tahunya dia emang udah mati..”
“iya, udah mati. Emang sengaja sedikit diceritain di awal.” Jawab gue sambil tersenyum. Nyokap lalu tetap ngelanjutin cerita panjang lebar tentang film itu sambil bersemangat menggebu. Gue terus mendengarkan sambil tersenyum. Hati gue bahagia. Gue gak mau melewatkan sidikitpun. Gue tahu, suatu saat gue pasti akan merindukan saat-saat seperti ini dengan nyokap gue. J

Oke, itu dulu kabar dari keluarga gue, gue gak mau banyak-banyak cerita tentang orang lain, karena ini adalah blog gue. Gak boleh ada orang lain yang ceritanya lebih menonjol dari gue di sini. Bhuahahahaha!!..




***
By the way, other side, another trip, sehari setelah tahun baruan kemaren gak ada angin gak ada ujan tiba-tiba si Udik ngajak ke Pacet. (ya iya, kalo ada angin ada ujan ngapain juga ngajak ke Pacet?!!)
Ya, rekreasi ke Pacet. Dia pengen pergi ke pemandian air panas. Sejak pagi dia udah menghunuskan senjata buat diturutin keinginannya. Dia udah memakai berbagai ancaman dan tuntutan yang dia siapkan sejak jauh hari sebelumnya. Kalau ini adalah adegan penyanderaan oleh buronan seperti di film-film, dia sekarang dalam adegan udah membawa keluar gedung satu sandera yang tubuhnya dipenuhi bom, sambil memandang penuh yakin ke para polisi yang menodongkan pistol ke arahnya. “siapkan aku helicopter dalam setangah jam, jika tidak para sandera akan kubunuh satu persatu tiap satu menit! Jangan mendekat! Satu gerakan bodoh dari kalian, dapat membuatku menekan tombol pemicu ini!”
Karena gak punya banyak pilihan, mau gak mau Mamak gak bisa gak menghiraukan si Udik yang terus rewel sejak pagi itu. Setelah berpikir lama, dan karena hari ini kebetulan hari ini masih hari libur, Mamak akhirnya nurutin si Udik. Akhirnya Mamak nyiapin helicopter.
Pilihan yang paling mematikan tentu adalah: memilih sopir. Kandidat sopir sudah jelas sejak awal: gue, atau bokap gue.
“Mau sama siapa, Dik?” tanya Mamak ke Udik, memberi pilihan. “Mau sama Bapak, atau sama Mas?”
“Sama Mas aja, enak!” katanya singkat, padat, penuh keyakinan. Jawaban itu keluar begitu cepat, seperti seolah disuruh milih antara permen Mentos, atau gabungan permen Nano-nano, Yupy, dan Sugus. Sementara gue, seperti merasakan dua rasa yang berbeda bersamaan. Di satu gue bangga, gue ternyata tipe anak yang asik buat diajak keluar. Tapi di sisi lain, gue ngerasa sedih karena gue gak bisa menikmati liburan di rumah. Dengan santai. Dan nyaman. Sambil nonton Runningman.

***

“Har, bukannya ini udah kelewatan ya?” tanya nyokap di belakang gue. Kita udah sekitar 45 menit perjalanan. Kita semakin jauh ke jalan mengecil. “seharusnya di perempatan setelah Krian tadi belok ke barat kan..”
“oh iya ya..” jawab gue sekenanya, menetralkan situasi. Seperti yang sudah dapat ditebak, penyakit kesasar gue kumat lagi. Gue tahu, nyokap di belakang sebenarnya udah panik abis. Kalau aja gue bukan anaknya, pasti sekarang nyokap udah teriak kenceng, “TURUNIN GUE SEKARANG! CEPAT TURUNIN, DASAR MANIAK! JANGAN CULIK SAYA! JANGAN MACAM-MACAM! SAYA MEMBAWA SEMPROTAN FOGGING!”
“Coba kita tanya orang dulu deh..” Gue sendiri juga hampir gak percaya, gimana bisa pada hal sesimpel ‘pergi ke Pacet’ aja nyasar, padahal belum sebulan gue habis dari sana! Dan, ini ke Pacet gitu?! Orang buta arah yang gak bisa motoran, suruh ke sana pasti bisa nyampe ke sana dengan mudahnya! Dijamin!
Kita lalu berhenti sebentar, dan nyokap tanya orang di warung di pinggir jalan. Banyak orang lalu lalang jalan di siang yang agak mendung itu. Sambil nunggu di atas motor, gue ngeliatin dari agak jauh nyokap tanya. Emang, gue gak bisa dengerin suara nyokap yang lagi tanya, tapi gue dapat memprediksi kalimat apa yang nyokap keluarkan dari bahasa tubuh dan mimik bibirnya: “maaf pak, ini anak saya agak autis ya.. kemana-mana musti nyasar. Pernah saya kasih minum betadin dicampur oralit juga gak ngefek. Pernah saya suruh beli kemiri ke toko depan rumah aja pulang-pulang bawanya merica. Ini saya sedang dalam perjalanan ke pacet, tapi tersesat dikarenakan ulah anak saya ini. Enaknya anak saya ini sesampainya di Pacet dilempar ke jurang aja kali ya??”
Setelah mendapat info yang akurat, nyokap kembali dan kita melanjutkan perjalanan.

***
Seperti yang telah dapat diduga, gak lama setelah masuk kawasan Pacet, macet melanda. Gue sumpah lupa total kalo ini masih hari-hari event tahun baru. Jalanan hanya berjalan merambat, dan mendaki. Motor gue jelas-jelas ngos-ngosan. Keahlian mengerem dan gas menge-gas sangat ditantang di sini.
Sempet lolos setelah melewati jalur sebelah kiri, agak lega selama kurang lebih 15 menit, ternyata di area makin dekat tempat pemandian air panas, terjadi kemacetan total. Stuck. Kendaraan di jalur kiri sama sekali gak bisa jalan. Arah sebaliknya juga hanya bisa merambat sangat pelan. Banyak Polantas yang bentak-bentak agar motor-motor dari arah gue buat mepet ke kiri. Gue juga gak bisa mengelak, motorlah penyebab banyak kemacetan ini.
“Macet parah!” gue masih mencengkeram erat rem tangan. “apa gak jadi ke air panasnya aja ya, ganti ke tempat lain?” insting gue mengatakan dengan kuat bahwa kita jangan melanjutkan lagi ke depan. Gue merasa, akan ada kejadian buruk, kalo kita maksa melanjutkan jalan ke depan.
“Gimana, Ud?” tanya nyokap ke Udik. “ini gak bisa lanjut gini.. ke tempat lain aja ya?”
“iya wes, ke tempat lain aja..” jawab Udik nurut. Gue bener-bener gak nyangka dia bisa gampang diajak kerjasama kayak gini. Kita lalu puter balik dan cari tempat baru.
“Ah, ke tempat yang ada patung Iguana raksasanya tadi kita lewatin aja lho!..”
“oh, Pacet Mini Park!” kata gue cepet. Meskipun sering lupa jalan, gue ingat begitu detail hal-hal seperti ini.

***
Setelah sebelumnya kita mampir sejenak di warung bakso di pinggir jalan untuk mengisi perut, kita akhirnya nyampe. Nyampe di sana, ternyata tempatnya lumayan rame. Dari yang gue baca di papan pengumunan luar, disediakan berbagai wahana yang disediakan. Mulai dari waterpark, tempat outbound, dan macem-macem. Banyak orang-orang jalan masuk. Sambil mengikuti jalan arah mereka masuk, kita langsung ikutan masuk.
“Sepertinya orang-orang ini juga korban macet juga, seperti kita.” Kata nyokap, ketika kita berjalan di jalan setapak, dipayungi atap tumbuhan rambat yang sengaja di desain untuk melindungi jalan setapak ini dari sengatan matahari.
“Iya, sepertinya tujuan mereka awalnya juga gak kemari, tapi terpaksa ke sini karena macet.” Jawab gue sepakat.
“Atau mungkin, jalan itu dibuat macet agar semua orang pindah kemari. Semuanya udah diatur.” Jawab Udik.
“Bisa jadi.” Kata gue, sambil kita terus mengobrol menuju arah pintu masuk loket. Gue sadar, kalau ada orang di belakang kita mendengar dialog kita, kita pasti dianggap Conspiracy Theory Family. Yang kita bahas selalu adalah bagaimana cara kerja yang sesungguhnya dari sebuah sistem dibandingkan yang terlihat oleh masyarakat umum di luar.
Jalan menuju loket masuknya udah rindang, dipenuhi tumbuhan hijau, tumbuhan hias warna-warni, papan-papan pengumuman arah jalan dengan desain kayu, dan macem-macem. Memberikan kesan teduh, hijau dan ceria. Belum masuk aja, kita udah ngerasa seneng. Dan Udik, yang paling keliatan seneng.
“Udik, gak usah masuk aja gak apa-apa kan?.. jalan di sekitar sini aja udah seneng kok..” kata nyokap tiba-tiba ajaib.
“Hahahahahaha!!...” Gue cuma bisa ketawa ngakak saat itu juga.
“Yah!!... Hahahaha!.. ya masuk donk!...” Udik separuh protes, separuh ketawa. “Hahahaha!..”
“Hahaha.. ngapain juga masuk, toh nanti di dalem itu tempatnya mirip-mirip gini. Sayang uangnya..” kata nyokap realistis.
“Hahahahahaha!!...” lagi-lagi, gue cuma bisa ketawa ngakak saat itu.
“Yah!!.. kasihan banget ya, aku.. jauh-jauh dateng ke Pacet cuma untuk keliling di depan pintu loket Pacet Mini Park.. Hahahaha…” kata Udik sekali lagi. “apa kata temenku entar.. Hahahaha..”
 Gue bisa mengerti perasaan si Udik. Apa yang musti dikatakan si Udik, kalo ditanya temennya entar?
“Udik, gimana di Pacet Mini Park kemaren? Seru? Ada apa aja di sana?”
“Seru abis! Banyak wahananya macem-macem deh pokoknya!”
“lha iya, kamu nyobain apa aja? ada apa aja di sana?”
“di tulisannya tertulis ada wahana waterpark, flying fox, taman, ATV, macem-macem! Seru pokoknya! Di depan pintu masuknya aja tamannya rindang, sejuk, warna-warni, banyak papan-papan pengumuman, ada kolam yang isinya ikan mas besar-besar di samping restoran, jadi kalau kita pesen ikan bakar, ikannya langsung ngambil di sana..”
“Maksudnya??! Jadi kamu makan di sana, gitu??..”
“Oke, gue ngaku! Gue cuma di depannya aja. Gak masuk. Tapi gue sempet foto-fotoan banyak di depan patung deket loketnya.”

***
Setelah kita bertiga bayar tiket masuk lima ribu perak, si Udik langsung berlarian kesana- kemari. Dia seperti si Mogli yang dikembalikan ke hutan setelah sekian lama tinggal di kota. Begitu mencapai tempat pintu masuk waterpark, secara otomatis dia merengek pengen masuk kesana. Setelah bayar tiket masuk waterpark seharga lima belas ribu rupiah, si Udik langsung menemui bangsanya di wahana air itu. Sementara nyokap ngawasin Udik dari luar, gue berkeliling melihat-lihat seluruh pelosok area di tempat wisata ini.
Gue lalu mengajak nyokap buat nyobain terapi ikan yang ada di sana. A kind of refreshment from my daily life! Ternyata selain terapi kulit, terapi ikan juga terapi tertawa! Gue ama nyokap gak henti-hentinya ketawa selama 20 menit di sana. Nyokap aja sampai ketagihan N pengen nyobain lagi, tapi gak sempet karena udah kesorean. Setelah jalan-jalan keliling bentar, kita balik.
It’s one of best quality family time ever. :D



Tunggu post gue selanjutnya!!.. :D











Baca Lanjutannya Ahh..

-dream vs reality!!-

Author: Unknown // Category:

Hai-hai..apa kabar semuanya? :D
Semoga semuanya keadaannya baik-baik saja ya..Gue di sini keadaannya baik-baik saja.Gue sehat, bugar, masih rajin menabung, semakin ganteng, bijaksana, semakin rendah hati, dan tentu saja absolutely..tidak sombong. *berkata dengan nada sombong*
Kesimpulannya, gue masih hidup.Alhamdulillah.*terlihat beberapa pembaca sedikit kecewa dengan kata-kata terakhir*

Waktu berjalan begitu cepat yah..yeah, time is warping. Gak kerasa, tahu-tahu 8 bulaaan aja.
Yuph! Sudah sekitar 8 bulanan lebih sejak postingan gue yang terakhir di blog.

Mungkin pertanyaan pertama yang harus gue jawab adalah: Kenapa menghilang cukup lama? Kenapa lama tidak kembali menulis?
Lalu disusul dengan deretan pertanyaan di belakangnya, seperti: sedang sibuk apa sekarang? Apa saja yang telah terjadi? Apakah sudah kehilangan semangat menulis, (atau bahkan yang lebih parah: tidak mau menulis lagi)?Apa hal lain yang dapat mengalihkan gue dari menulis? Bagaimana keadaan keluarga gue?Sesudah gak kuliah, kerja di mana gue?Masih suka makan tahu mentah gak gue?Masih sering minta-minta di pinggir jalan? (oke, hiraukan pertanyaan terakhir.)

Oke, gue jawab satu persatu ya..
Pertama, gue menghilang dari proses-kegiatan-iseng-iseng-kreatif-kepenulisan-dalam-blog-gue (kalimat apa ini??) sejak beberapa saat gue habis di-wisuda di kelulusan kuliah gue. Lebih tepatnya sejak gue mulai kerja.Waktu itu gue keterima kerja di sebuah studio di daerah Surabaya.Kita sebut saja Studio XXX. (XXX: nama samaran dari nama asli tempat tersebut. Bukan, bukan studio yang menangani video-video-untuk-diupload-di-internet-yang-biasa-kalian-tonton seperti itu.Sama sekali bukan studio seperti itu.)Studio ini menangani bergerak di bidang kreatif multimedia.Menerima pembuatan web, company profile, dan lain-lain.Cuma pas gue masuk, studio itu sekarang lebih fokus ke pembuatan album kenangan anak-anak SMA.Album kenangan yang dibuat ada 2 macam, versi cetak yang berupa buku dan juga versi digital yang berupa CD interaktif dari flash.
Di tempat ini gue mencoba fokus untuk bekerja dan terus mengasah kemampuan gue di bidang desain grafis.Selain fokus bekerja dan berkarya, selama berbulang-bulan gue mencoba beradaptasi dengan yang namanya ‘realita’.Kenyataan.Kenapa lama gue gak nulis di blog, karena selama ini gue belajar face to face melawan dunia.Mencoba dengan tegar menghadapi dunia sambil bicara enteng sok keren seperti tokoh-tokoh karakter utama dalam manga (komik) jepang, “Dunia aku akan menghadapimu! Aku tidak akan menyerah!”. Keren kan, di setiap manga jepang selalu gitu: seberapa banyakpun karakter utama gagal dan tersungkur, dia akan bangkit kembali dengan tekat membara hingga mengalahkan musuhnya yang sebenarnya lebih berbakat darinya. Hanya dengan bermodalkan tekat semangat dan pantang menyerah, dia selalu berhasil menang dan mendapatkan keinginannya.
Back to the topic.Hal pertama yang langsung terasa sejak kita pertama kali bekerja adalah: ternyata realita itu sangat keras, dan..menyakitkan. Reality is about ‘how to survive’. Realita adalah tentang bagaimana kita bertahan hidup.Tetap hidup.Bertahan untuk waktu yang lama, apapun caranya.Jika di saat kuliah kita memiliki karakter yang sangat idealis, menjaga kebaikan-kebaikan dalam hati dan juga budi pekerti, di saat inilah semua yang kita pegang selama ini itu dites uji ketahanannya.Iman kita diuji.Kita akan bertemu teman-teman kerja yang curang, egois, maunya menang sendiri, serta menyeret kita dalam kebiasaan-kebiasaan buruk dalam dirinya atau dalam perusahaan tersebut.
Di tempat kerja kita juga akan dihadapkan pekerjaan-pekerjaan yang sangat ‘tidak-manusiawi’. Kita akan sering mendapati ternyata pekerjaan yang telah kita selesaikan tidak berjalan sesuai rencana, klien yang terus me-revisi desain kita hingga menyita banyak waktu kita, kerjaan dadakan yang merusak semua jadwal kita, kerja lembur yang bersifat ‘tidak lembur’, dan bermacam lain sebagainya. Kalau kamu salah memilih tempat kerja, maka lebih buruk lagi. Kamu akan sulit membedakan pengertian dari arti kalimat ‘bekerja’ dengan ‘romusha’. (romusha: orang yang dipekerjakan sebagai budak di saat penjajahan Jepang di Indonesia)Yang paling kerasa tentang hal itu adalah temen gue yang kerja di perusahaan TV lokal di daerah Surabaya.Jadwal serta pekerjaan yang harus mereka kerjaan sangat jauh dari kata ‘manusiawi’.Mereka sangat terlihat kepayahan secara waktu juga tenaga.
Lagi.Di saat bekerja kita juga dihadapkan pada pendapatan yang minim. Setelah tenaga dan waktu kita tersedot begitu banyak, masih tidak cukup, uang yang kita peroleh adalah: sedikit. Pas, untuk kehidupan sebulan.Sangat jauh berbeda dengan sewaktu kita kuliah dulu, yang hanya tinggal meminta pada orang tua.Segala hal yang berhubungan dengan harus kita pikirkan matang-matang.
Yang terburuk dari semua itu..Kita akan mendapati banyak orang di lingkungan kerja kita yang kehilangan ‘mimpi’nya. Harapan hidupnya.Mereka menjalani kehidupan mereka dan bekerja setiap harinya ‘hanya’ untuk bertahan hidup.Mendapat uang yang lebih banyak lagi untuk kebutuhan untuk diri mereka sendiri, atau untuk anak istri mereka.Tanpa semangat untuk bekerja totalitas maksimal dan tulus untuk beribadah.
Jangan lagi bertanya tentang mimpi.Mereka bahkan telah kehilangan idealisme mereka.
Gue paling kerasa tentang hal itu. Pertanyaan “kamu ingin jadi apa?” tak bisa lagi kau tanyakan kepada orang lain.
Gue merasa sendirian.

Pertanyaannya:
Masihkah kau berjalan tegap untuk bermimpi, jika kenyataan menundukkan kepalamu, menghalangi jarak pandangmu?
Masihkah kau mempercayai cita-citamu, jika untuk bertahan hidup saja sulit?
Masih sanggupkah memegang teori idealisme-mu, jika hukum alam di kehidupan nyata bekerja sebaliknya?

Bagi kalian yang belum bekerja ataupun mungkin masih kuliah (dan masih hijau), mungkin masih bisa menjawab pertanyaan itu dengan enteng dan penuh semangat, “Tentu! Cita-cita kami tinggi! Suatu saat kami akan mewujudkannya, sekeras apapun kehidupan!”
Tapi bagi temen-temen gue yang sekarang kebanyakan sudah bekerja, mungkin hanya bisa diam dalam menghadapi pertanyaan itu. Cuma itu..diam.  Kalaupun ada yang bisa menjawabnya ini mungkin yang akan keluar: “Kamu terlalu banyak bermimpi, Bud..”
Tentu.Ini realita.Hanya sedikit dari orang-orang yang telah cukup lama bekerja tersebut, termasuk temen-temen gue sekarang, yang masih memegang mimpinya.Hanya sedikit dari mereka yang masih memliki pantulan sinar penuh semangat kalo gue memandang matanya. Kebanyakan target mereka dalam pekerjaan sekarang adalah: bagaimana mendapat gaji yang lebih besar dari sekarang? Bagaimana caranya?Banyak dari mereka yang telah kalah dan menundukkan kepala melawan kehidupan,dan hanya mengikuti arus yang membawa mereka pergi.

Dan..orang-orang yang hanya sedikit tersebut, mungkin gue termasuk di dalamnya.
Ya, benar.Gue masih bermimpi.Hingga sekarang.
Jujur, harapan dan mimpi gue sempet meredup hingga sangat kecil hingga 2 bulan terakhir karena melawan kehidupan.Tapi di saat-saatitu pula gue mencoba menjalani hidup sebagai orang-orang dreamless.Masih di dalam riset kehidupan gue.
Sejak kecil, hobi gue adalah meriset kehidupan. Meneliti dan mengamati kehidupan orang lain, terlebih meriset kehidupan gue sendiri. Ini karena didasarkan pada pertanyaan besar dalam hati gue: mengapa ini terjadi? Kenapa?Apa alasannya? Gue selalu penasaran pada sistem bagaimana alam bekerja.Gue seperti dilahirkan layaknyagadget dengan kapasitas hardisk tak terbatas dan juga processor super canggih, hanya dengan plug-in-plug-inMissing.Gue terus berpetualang dalam hidup gue untuk mengumpulkan setiap pecahan-pecahan plug-in tersebut.Bite per bite. Untuk membuat diri gue utuh.Untuk menemukan alasan, kenapa gue diciptakan di dunia ini. kosong.
Gue pernah mencoba hal apapun.Menjadi menjadi anak pintar, menjadi anak bodoh.Menjadi paling rajin, menjadi pemalas.Menjadi anak paling jujur, juga menjadi pembohong paling ahli.Menjadi ahli ekspresi dan kuat, juga menjadi anak paling mudah terbaca dan lemah.Macam-macam.Dan di setiap gue menjadi ‘sesuatu’ tersebut, gue merekam segala data dari pola pikir yang muncul.Segala kelemahan dan kerugiannya.Tak pernah memihak.Lalu akhirnya gue memilih salah satu, atau menggabungkan semua sifat-sifat tersebut hingga menjadi paling fit buat gue.Membentuk karakter dan kepribadian gue hingga seperti sekarang.
Selama bekerja, gue gak berhenti meriset.Gue mendapatkan banyak data tentang orang-orang (maaf)dreamlessini.Segala sisi kelebihan dan kekurangannya.Yang gue tangkap dari kelebihannya, ternyata mereka adalah orang yang tangguh. Mereka lebih fight dalam menghadapi kehidupan, karena tahu bagaimana keras dan pedihnya kehidupan. Jangan pernah menyakiti mereka, atau kau akan menyesalinya. Mereka juga lebih multi talent dan multi tasking.Sangat berbeda dengan orang-orang yang mempunyai mimpi yang fokus pada satu hal, mereka mencoba dan ingin bisa semua hal.Meskipun memang tak pernah bisa fokus dan sangat ahli dalam satu bidang, tapi dalam rata-rata banyak hal dalam kehidupan sehari-hari yang dapat mereka kuasai, mereka adalah para pejuang Spartan yang sangat tangguh jika dibandingkan dengan para pemimpi yang lemah.Dalam sisi sosial, mereka juga lebih loyal terhadap sesamanya.Mereka mempunyai solidaritas dan toleransi yang besar, dan lebih siap membantu jika sesamanya mengalami masalah.Dan banyak hal lagi yang gue berhasil rekam.

Gue mungkin gak akan menyebut diri gue si pemimpi. Gue hanya tak bisa berhenti bermimpi.Bermimpi dan memiliki tujuan yang ingin dicapai seperti sudah mendarah daging dalam hidup gue.Hasil kesimpulan dari semua riset gue selama ini juga menyimpulkan, jika ingin mempunyai kehidupan yang besar dan megah, haruslah memiliki tujuan dalam hidup kita. Menyuruh gue berhenti bermimpi sama saja dengan menyuruh gue mati atau bunuh diri. Gue gak bisa berhenti bermimpi.Apapun kata dunia.
Proses dalam mewujudkan mimpi sudah menjadi bagian dalam perjalanan hidup gue. Gue gak bisa mencoba cara lain untuk hidup selain itu. Gue gak memperdulikan hasil akhirnya, gue akhirnya meraih mimpi gue ataupun tidak, karena gue sadar.Mimpi adalah sebuah perjalanan, bukan tujuan akhir. Mimpi adalah sebuah proses. Menemukan diri kita sendiri adalah proses. Seperti perjalanan Sun Go Kong yang pergi ke Barat untuk mencari kitab suci, yang harus mengahadapi 99 halangan dan 33 rintangan.Sesungguhnya semua cobaan dan pengalaman mereka menghadapi masalah itulah yang merupakan ajaran (kitab suci) yang mereka cari, yang membentuk mereka menjadi lebih bijaksana dan akhirnya menjadi Buddha.Bukan tentang kumpulan gulungan kitab di Kuil di akhir tempat tujuan mereka.Oleh karena itu mereka harus pergi ke barat dengan berjalan kaki, selangkah demi selangkah. Tidak boleh melewatkan satupun proses tempaan untuk menjadi dewasa dan bijaksana.
Proses dalam kehilangan mimpi hingga meredup sangat kecil ketika gue bekerja juga membawa gue ke suatu pelajaran baru. Tentang kelebihan-kelebihan pada dreamless tersebut dalam menghadapi kehidupan.Seharusnya berjuang hidup seperti mereka.Tak pernah pantang menyerah.Sesuatu yang belum pernah gue pelajari sebelumnya.
Sejak kecil hingga kuliah gue berkenalan dan sangat akrab dengan si Mimpi.Ia selalu mengatakan hal-hal indah, mengajari gue untuk percaya bahwa gue bisa terbang, selalu memuji dan meninggikan gue.
Sangat bertolak belakang dengan si Realita yang baru gue kenal di saat bekerja hingga menyebabkan di Mimpi menjauh.Si Realita sangat keras, disiplin, dan jujur.Dia membedah diri gue, memaksa melihat luka-luka gue, menunjukkan kelemahan-kelemahan gue. Menunjukkan serendah apa gue yang sebenarnya. Tanpa kenal ampun menghukum gue kalo gue berbuat kesalahan.Tapi dia juga menunjukkan obatnya. Mengajari gue cara benarnya. Memberi gue pilihan untuk memilih.

Si Mimpi dan si Realita seperti 2 sahabat gue yang saling bertolak belakang dan sifat.Ketika gue mendekatkan diri dan sangat akrab kepada si Mimpi, maka si Realita menjauh.Begitu juga sebaliknya ketika gue dekat dan akrab dengan si Realita, si Mimpi menjauh.
Gue gak pengen jadi pemimpi yang hanya cuma bisa berangan-angan tanpa bisa mewujudkannya.Gue juga gak pengen hanya bertahan hidup tanpa memiliki tujuan dan mimpi.
Gue pengen membuat si Mimpi dan si Realita sama-sama berteman dan berjabat tangan dengan gue.Tak boleh terlalu dekat, tapi juga jangan terlalu jauh.Harus menemukan titik tengah yang mempertemukan keduanya dan menyeimbangkannya.Menjalani kehidupan dengan mimpi, dan mewujudkan mimpi dalam kehidupan.

Here we go..gue mencoba kembali menulis di sini. Di blog ini.Menyalurkan keinginan gue untuk menulis dan meluapkan emosi gue.Menulis alasan, kenapa gue selama beberapa bulan bekerja ini tidak menulis di blog.Gue ingin kembali bermimpi.Bermimpi menjadi seorang Digital and Designer Artist yang besar. Menjalani tiap prosesnya hingga membuatku kuat dan tahan banting. Jika itu tercapai, gue ingin mewujudkan mimpi kedua gue, menjadi penulis yang besar.Entah yang mana terwujud lebih dulu, terserah. Ketika kedua mimpi gue terwujud, gue akan membuat mimpi baru lagi. Begitu seterusnya.Mimpi adalah tentang proses kan? Kalaupun pada akhirnya tak ada dari kedua itu yang terwujud, tak masalah.Aku bersyukur terhadap hidupku yang masih diberikan semangat dan kualita bermimpi ini.
Satu hal yang gue pelajari selama gue bekerja, ternyata hidup kita adalah sangat berharga, apapun bentuknya. Asalkan kita menjalani kehidupan dengan syukur dan memaksimalkan apa yang kita bisa lakukan sekarang, kita akan merasa bahagia.


***
Oh ya, bagaimana dengan keadaan keluarga gue? Keluarga gue baik-baik aja. Mungkin sekarang lebih sedikit hal konyol atau hal yang gak masuk akal terjadi, tapi keluarga gue masih sama: hidup dengan dipenuhi dengan rasa kasih sayang yang sangat hangat. Itu udah cukup buat gue.J
Mamak, nyokap gue masihlah ibu rumah tangga yang hebat. Setelah beberapa saat lalu sempet ikut ngajar di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini. Semacam Playgroup gitu.)sekarang udah berhenti. Entah, mungkin udah gak cocok.Masih kerja sampingan bikin jamu serbuk untuk dijual.
Bokap gue, kehidupannya masih damai.Masih menjadi sosok yang mengajarkan tentang idealism-idealisme kepada gue.Sekarang makin sibuk setelah diangkat menjadi Kepala DKG (Dewan Kesenian Gresik)
Si Udik, adik paling kecil gue yang kelas 6 SD kemaren baru melewati UN. Semoga dia lulus, gue udah was-was soalnya dia sulit banget diajak belajar. Oh ya, si Udik beberapa bulan lalu udah disunat lho!.. (akhirnya..) Ya, meskipun motivasinya untuk disunat adalah biar dapat uang banyak dan beli PS2, tapi setidaknya dia udah berani dan meminta sendiri untuk disunat.. (sorry, agak curhat.)
Si Galuh, adik pertama gue masih sibuk kuliah. Dia sekarang semester 5, mau menginjak semester 6.

Oh ya, gue sekarang pindah ke tempat kerja yang baru. Gue keterima di salah satu PH yang memproduksi game flash di Surabaya. Tanpa ada hambatan yang berat, dan juga atas bantuan temen gue yang udah duluan kerja di sana, gue Alhamdulillah dengan lancar diterima kerja di sana.
Gue udah 2 minggu kerja di sana. Meskipun jaraknya lebih jauh dari rumah gue, gue ngerasa lebih cocok kerja di sana. Dapat menyampaikan hasrat gue untuk mendesain dengan kualitas tingkat tinggi. :)

Yuph, itu dulu kabar dari gue.
Sebisa mungkin gue akanmenyempatkan untuk menulis di blog ini lagi.
Chibi-chibi-chibi…. Istimewa! *salah gaul*


Tunggu post gue selanjutnya.. :D


Baca Lanjutannya Ahh..

-orang dewasa..-

Author: Unknown // Category: ,
Ketika kita masih kecil, sebagian besar dari kita ingin terus menjadi anak kecil yang terus bermain-main dan bebas dari tanggung jawab. Gue masih inget pas kecil, tiap hari kita habis pulang sekolah bermain sama temen, seharian gak mandi, ngelayap keluar rumah seenaknya tanpa make sandal, maen kelereng, beli jajan, es dan mainan sesuka hati, buang air besar sembarangan, pulang dimandiin, setelah mandi, makanan siap tinggal dimakan, sore dan weekend full nonton kartun di TV, lalu malam ketika waktunya belajar kita malah ketiduran karena capek. Kalau dilarang sesuatu, kita gondok. Gak dibeliin sesuatu, kita nangis. Disuruh belajar, badan tiba-tiba jadi demam (tapi tiba-tiba sembuh setelah nonton kartun di tipi).
“Aku ingin selamanya bahagia seperti ini” itu adalah pikiran normal kita semua sewaktu masih kecil. Ya, itu sangat normal, mengingat insting dasar manusia adalah ingin selalu bahagia.
Bahkan sekarangpun, ketika gue dan temen-temen gue mulai beranjak dewasa, gue masih sering menemui status facebook temen-temen gue yang kurang lebih seperti ini: ‘aku ingin kembali jadi anak kecil, yang bebas dari masalah dan tanggung jawab’, ketika mereka sedang mengalami masalah hidup ataupun merasa galau. Pas gue tanya, “kenapa pengen kembali jadi anak kecil? Bukannya kita akan jadi tidak ingat apapun lagi kalau kembali jadi anak kecil?”
“Nah, itu,” jawabnya singkat. “biar lupa..”
Gue lalu mikir, pasti masalah anak ini sangat berat, sampai ingin melupakan semua hal. Aneh memang, hanya karena satu masalah, kita ingin membuang semua ingatan, termasuk semua ingatan-bahagia kita.
Berusaha ingin menghibur, gue lalu bales “Siapa tahu, Tuhan udah pernah ngasih kesempatan itu? Tapi karena balik jadi anak kecil, kamunya gak inget. Jadi ini mungkin adalah kehidupanmu yang kesepuluh, setelah terus meminta mengulang-ulang kembali jadi anak kecil begitu menginjak dewasa.. mungkin di kehidupan sebelum ini, kamu cowok. Bisa aja kan?”
Tapi setelah itu temen gue (cewek) itu gak komen lagi. Habis itu dia offline dari daftar chat. Yang gak gue tahu, mungkin aja di seberang sana dia udah bersumpah bakal ngebunuh gue kalau ketemu langsung.

Ya, masalah di dunia itu memang berat.. pikir gue waktu itu. Kita tak pernah memilih untuk dilahirkan.

***

Jika sebagian besar ingin terus menjadi anak kecil, sebaliknya, sebagian kecil dari kita justru ingin menjadi dewasa secepat yang kita bisa dan bayangkan. Salah satunya, adalah.. gue.
Sewaktu kecil, tiap gue ngeliat orang dewasa, semakin gue ngerasa bahwa kita, sebagai anak kecil, memiliki sedikit sekali kebebasan jika dibandingkan dengan para orang dewasa. Dari ukuran tubuh, udah jelas beda. Orang dewasa memiliki tubuh lebih besar, tinggi, dan bisa menggapai atau mengambil apapun di ketinggian. Orang dewasa yang lebih tinggi, biasanya kerjanya jadi pemain basket. Orang yang lebih tinggi lagi, biasanya kerjanya.. tetep jadi pemain basket. Orang yang paling tinggi, biasanya kerjanya masuk rekor dunia sebagai ‘orang tertinggi di dunia’. Tapi karena kena gigantism, dia cepet mati. (Oke, ini kenapa gue cuma bahas orang dewasa dari tingginya aja??!)
Oke balik. Kalau dilihat dari kebebasan, orang dewasalah yang paling bersenang-senang. Kalau dipikir, orang yang bisa mengendarai mobil atau motor, adalah orang dewasa (yang dipikirkan anak kecil cowok). Orang yang bisa menikah dan punya anak, adalah orang dewasa (yang dipikirkan anak kecil cewek). Orang yang boleh minum kopi, ngerokok, minjem DVD, naik roller coaster, renang sedalam 2 meter, punya dompet dan uang sendiri, boleh pulang malem (bahkan gak pulang juga boleh),  dan bebas memilih bercita-cita jadi apapun, adalah orang dewasa (yang dipikirkan anak kecil cowok). Orang yang bisa menikah dan punya anak, adalah orang dewasa (yang dipikirkan anak kecil cewek). Gue juga gak tahu, kenapa anak kecil cewek cuma mikir itu.
Yang jelas, ketika gue masih kecil, gue mikir kalau jadi orang dewasa itu kereeenn!! Kita bisa bebas ngapain aja. Bahkan kalau gue melihat kartun-kartun di tipi, gak pernah ada penjahat yang ingin menguasai dunia itu adalah anak kecil. Gak mungkin banget, raja iblis Piccolo yang mati-matian ingin dikalahkan oleh Son Goku, ternyata adalah anak kecil. Gak mungkin juga, Madara Uchiha yang ingin mengasai dunia shinobi, yang menjadi musuh besar Naruto, adalah anak kecil. Semua penjahat terkuat yang ingin menguasai dunia adalah orang dewasa.
Manusia terkuat adalah orang dewasa.
Gue waktu kecil, ingin sekali jadi cepat dewasa, tapi tak mau bertambah tua seperti mereka.

Tetapi, seiring berjalannya waktu, dan selama perjalanan gue semakin menjadi orang dewasa, pengertian gue tentang ‘orang dewasa’ dipaksa bergeser oleh dunia.


***
  

Kata orang, orang dewasa tahu segalanya.
Semua orang, termasuk gue, masa kecilnya berisi tentang keingin-tahuan. Gue versi kecil, adalah anak kecil yang ingin tahu banyak hal dan mencoba segala sesuatu. Gue selalu ingin mencari tahu, “apa yang akan terjadi, jika kita melakukan sesuatu seperti ini”. Tapi bagi kebanyakan orang dewasa, itu dianggap sebuah kenakalan. Seperti contohnya, ketika gue iseng-iseng pernah masukin pasir ke adonan dawet di dapur dan nenek gue langsung mencak-mencak seketika. (Oke, itu emang ngaco. Beda emang, antara bikin adonan dawet dengan adonan bikin beton.) Maksud gue seperti contohnya, ketika gue melihat orang sedang memperbaiki motor, membuka baut dengan kunci baut. Gue yang waktu itu selalu-ingin-tahu, bermain-main baut-baut yang tergeletak dan memainkan dengan kunci-kunci yang berserakan. Gak lama, gue segera diusir dengan kalimat khas orang-dewasa-ke-anak-kecil, “Eh, jangan dibuat mainan! Nanti ada yang hilang bautnya! Main-main diluar sana kek, sama temen-temen kamu!..” Mau gak mau, gue sebagai anak kecil yang liar pendiam menyingkir dengan segera.
Look, ada seorang anak kecil baru mendapat pengetahuan bahwa ukuran-ukuran baut-baut serta kuncinya berbeda-beda dan kita harus mencocokkan ukuran dengan pas untuk dapat membuka, para orang dewasa menyuruh kita untuk pergi bermain yang tak tentu arah, asal tak menggangu mereka bekerja. (but, you know? malamnya, gue buka kotak peralatan itu sendiri, dan bermain sendiri dengan kunci-kunci itu. Ya, gue emang keras kepala.)
Begitu juga saat gue begitu tertarik bermain dengan korek api ketika masih kecil. Saat itu gue lagi demam-demamnya main korek api (wajar, waktu itu beyblade dan mobil mainan 4WD masih belum booming. Kalau kamu anak orang kaya, ketika itu mainan kamu adalah yoyo plastik dengan nyala lampu warna-warni yang bagus banget kalo malam. Kalau kamu anak orang pas-pasan, mainan kamu adalah karet gelang dan sedotan Aq*a, atau kalau beruntung, mainan kamu adalah plastik pembungkus mainan game watch yang berisi banyak gelembung-gelembung udara yang seru buat diletusin dengan jari.).
Ya, saat itu gue lagi demam-demamnya main korek api. Ketika itu gue begitu tertarik, bagaimana sebuah percikan dan panas dapat menimbulkan api. Bagaimana api bisa muncul? Sebenarnya, api itu benda apa? Ketika gue tiup dan mati, api itu menghilang ke mana? Api bukanlah benda gas, cair, maupun padat. Ketika gas menghilang, dia berpindah tempat. Begitu juga dengan air, jumlah total air di bumi tak pernah berkurang, hanya berubah bentuk dan berpindah tempat. Tapi bagaimana dengan api?
“Heh, jangan main api! Bahaya!” kata orang dewasa dengan marah, seperti yang diduga, langsung merampas korek api yang ada di tangan. Merusak khayalan gue tentang benda bernama ‘api’ saat itu. Dan akan mengulang kemarahan yang sama ketika gue mengulainya. (hingga akhirnya, gue beli korek api sendiri dan menyimpannya secara diam-diam. Gak tahu, ketika masih kecil, gue mikir kalau anak kecil yang punya korek api sendiri itu keren sekali. Kayak orang dewasa yang punya pistol dan dibawa ke mana-mana.)
Hal yang sama juga terjadi ketika mulut gue belepotan tinta ketika mainan selang tinta pulpen, bermain kabel listrik (gue gak inget, kenapa bisa main kabel), ketika mengangkat panci dan tumpah, naik tangga dua dakian dan terjatuh, mencoba menelan uang koin (oke, yang ini emang salah. Jangan ditiru!), dan macam-macam hal lainnya.
Anak kecil dilarang bermain dengan menggunakan hal-hal/ benda-benda orang dewasa.
Orang dewasa tahu segalanya. Yang selalu mengerti tentang pengetahuan  dan pelajaran hidup. Mereka sudah tahu sejak dulu, bahwa baut-baut dan kunci itu berbeda ukuran dan harus menemukan pasangan kunci yang pas untuk dapat membukanya. Mereka tahu api itu tercipta dari sumber panas dan merupakan zat sumber cahaya dan panas yang berguna bagi manusia, dan juga dapat membakar bila ceroboh menggunakannya. Mereka juga tahu listrik itu bermanfaat dan merupakan sumber energi general bagi manusia yang dapt diubah menjadi energi apapun dengan bantuan teknologi saat ini. Mereka tahu untuk mengangkat sebuah beban membutuhkan tenaga seberapa besar, bagaimana menyeimbangkan pikiran, jarak, dan keseimbangan motorik gerak, dan berbagai macam pengetahuan lainnya. Mereka tahu semua itu.
Orang dewasa tahu segalanya. Yang selalu menganggap anak kecil tak tahu segalanya. Yang selalu menganggap anak kecil adalah manusia yang baru saja mampir ke dunia, dan tak mengerti apa-apa tentang kesulitan dan pelajaran hidup. Menganggap anak kecil adalah makhluk yang selalu bahagia, yang identik dengan selalu bermain dan kenakalan. Tapi mungkin bukan segalanya.
Kebanyakan orang dewasa tak tahu, bahwa tindakan nakal yang dilakukan oleh anak kecil itu adalah proses pembelajaran. Kebanyakan dari mereka salah mengira. Salah paham. Parafair play. Teman-temannya menyumpat hidung ketika mereka bermain, dia akan belajar buat gak buang air besar di celana. Melalui kegiatan bermain dengan teman-teman mereka, mereka akan belajar bagaimana berkomunikasi dan bertahan hidup dalam sebuah komunitas atau dengan individu manusia lainnya saat dewasa kelak. Bahkan berhasil tidaknya seseorang di masa depan, dapat terlihat melalui semua tindakannya saat bermain bersama teman mereka. orang dewasa menganggap proses belajar adalah ketika anak kecil ada di meja belajar, ketika mereka membuka buku pelajaran sekolah. Padahal kegiatan bermain seorang anak kecil adalah proses belajar utama mereka. Seorang anak kecil bahkan belum membutuhkan sepenuhnya, belajar tentang pelajaran sekolah melalui buku pelajaran. Mereka lebih banyak membutuhkan pelajaran kehidupan dan meniru dari alam di usianya saat itu. Kalah saat bermain dengan teman-temannya, dia akan belajar tentang arti kekalahan, dan bagaimana caranya agar menang. Berbuat curang saat bermain akan membuat temannya lain marah, dia akan belajar bahwa melakukan segala sesuatu itu harus sesuai peraturan dan
Begitu juga terhadap keingin-tahuan ketika kita masih kecil. Ketika masih kecil, kita jarang mendengar kalimat larangan yang disertai alasan mengapa kita dilarang.
“Jangan dibuat mainan kuncinya! Nanti hilang!” “Jangan main api!” “Jangan memanjat!” Jangan, jangan dan jangan. Semuanya adalah perintah larangan: jangan melakukan.
Kita jarang mendengar: “Eh, nanti kunci-kunciya dikembalikan lagi ditempatnya, ya..” atau “Api jangan dibuat sembarangan seperti itu, nanti kalau kena benda dapat membakar, lho.” Atau kalau anak kecil itu emang udah abnormal sejak kecil, “Eh, motong-motong jari kamu make pisau daging gitu, nanti gak bisa tumbuh lagi jarinya lho.. Jangan! Jangan di leher!!” Ya, kita jarang mendengar nasehat baik dari orang dewasa ketika kita dalam proses belajar, yang menunjukkan bahwa mereka lebih mengerti dan memiliki pengetahuan yang lebih tinggi daripada kita. Kita seharusnya didampingi dan diarahkan, bukan dilarang. Karena kalimat larangan untuk anak kecil, itu berarti perintah untuk melakukan lebih berani lagi.
Mereka tidak pernah tahu, seandainya saja anak kecil itu diarahkan ketika bermain baut, lalu diajarkan juga bagaimana membuka baut dalam motor, siapa tahu dia tertarik dan ketika dewasa memiliki perusahaan motor sendiri. Siapa tahu, seandainya anak kecil yang tertarik api itu diarahkan dan diberi tahu tentang kegunaan dan bahaya dari api, dia ketika dewasa akan menjadi tukang kembang api paling ahli di negerinya? Siapa tahu, anak kecil yang tiap harinya melihat ulat memakan daun dan selalu lupa pulang, ketika besar dia adalah almuwan peneliti kupu-kupu terbaik sepanjang sejarah? Siapa tahu, anak yang sejak kecil malas melakukan segala sesuatu, ketika besar dia mencetak rekor sebagai ‘orang yang paling lama tidur selama sebulan’ (oke, yang ini salah asuhan kayaknya)? Who knows?
Jika bukan ketika kecil kita mempelajari hal-hal seperti itu lagi, lalu kapan lagi? Padahal kemampuan mengingat manusia yang terbaik adalah ketika masih kecil. Segala hal yang kita rasakan, lihat, dengar, ingat, akan terus membekas hingga kita tumbuh dewasa. Karena semakin kita dewasa, akan semakin dituntut oleh: prestasi bagus, nilai yang memuaskan, ranking tinggi, survive di persaingan dunia kerja, mencari pendapatan yang layak, dan berbagai hal lainnya. Kita jarang melakukan pekerjaan yang berisi pembelajaran lagi seperti ketika kita masih kecil.

Tak ada waktu untuk belajar, bagi orang dewasa. Karenanya, mereka tidak pernah mengerti.


***


Kata orang, orang dewasa itu bijaksana.
Ketika kita masih kecil, kita pasti sering mendengar di pelajaran PPkn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) atau sekarang disebut Kwn (Kewarganegaraan), yang berisi kalimat: “Jika teman kamu berbuat salah, kita sebagai teman harus menasehatinya.”
Ya, kalimat itu memiliki arti yang sangat mulia sekali. Mengajak orang lain atau teman kita yang salah (tersesat), agar kembali ke jalan yang benar. Siapa yang membuat ajaran seperti itu? Tentu saja orang dewasa, yang telah mengetahui segala hal yang baik dan buruk di dunia, dan juga ajaran dari agama.
Seperti gue pernah waktu kecil, ketika seperti biasa gue hangout bareng temen-temen nyari buah Keres. (sampai pada tahap ini, gue baru sadar kalau penggunaan kata ‘hangout’ bersamaan dengan kata ‘buah Keres’ dalam satu kalimat itu gak match.)
Karena bosan, waktu itu salah satu temen punya ide buat ngambil buah belimbing milik tetangga yang kaya. Berbeda dengan pohon keres yang tumbuh liar, pohon belimbing itu ada di halaman depan rumah orang kaya yang besar itu, tapi tepat di samping bagian dalam pagar rumahnya. Temen gue segera menyusun rencana besar untuk operasi ini: pertama kita semua naik pagar rumahnya dari luar hingga setinggi buah belimbing terendah yang bisa terambil, metik dari celah pagar, ngambil sebanyak-banyaknya buah belimbing yang bisa dibawa oleh tangan, lalu loncat dan lari sambil teriak kenceng-kenceng (tambahan: kalau anjing di dalam rumah itu menggongong, korbankan satu teman kamu untuk dimasukkan ke bagian dalam pagar).
Ya, rencana yang sangat sederhana emang, tapi ketika masih kecil itu adalah rencana yang dipikir sangat matang, akurat, struktural, terencana, rapih, dan bersih yang berhasil kita buat. Saking ‘bersih’nya rencana itu, mungkin seharusnya tiap anak dari kita bawa sapu waktu itu. Selain membantu untuk menggapai buah belimbing yang sulit terjangkau oleh tangan, misalkan kalau kita gagal dan ketahuan sang pemilik rumah, kita hanya perlu pura-pura mendadak sedang ingin menyapu (bersih-bersih) halaman rumah orang itu. Kalaupun sang pemilik rumah masih masih tetep curiga dengan beberapa belimbing yang kita sembunyikan di balik kaos kita, kita bisa bilang, “Tadi, pas nyapu tiba-tiba belimbingnya jatuh semua, Pak. Wajar kan, ya? Belimbing-belimbingnya masak pohon hingga jatuh semua..”
Ketika pelaksanaan di hari H, di saat anak-anak mulai naik pagar untuk mengambil belimbing, gue masih di bawah memandangi mereka. Gue kepikiran. Gue ingat kalau perbuatan ini sama dengan mencuri, yaitu mengambil sesuatu tanpa izin sang pemilik.
Ketika kita masih kecil, segala hal yang kita pegang akan benar-benar kita pegang begitu kuat, entah itu sesuatu yang benar, atau sesuatu yang salah. Jika kita diajarkan oleh lingkungan atau orang lain sesuatu yang salah dan buruk, lalu kita pegang erat saat masih kecil, maka segala tindakan yang kita lakukan akan menjadi buruk dan menyakiti teman dan keluarga kita. Begitu juga ketika kita diajarkan kebenaran dan kebaikan yang lalu kemudian begitu kita pegang erat saat kecil, maka segala tindakan kita akan penuh berisi kebaikan dan juga idealisme untuk selalu berbuat terpuji. Ketika kita masih kecil, kita menyerap segala hal tanpa filter, tanpa berpikir itu baik atau buruk. Oleh karenanya, ada istilah: “Orang dewasa adalah orang sudah mengerti dan dapat membedakan hal yang baik dan buruk.”
Gue termasuk tipe kedua. Gue tahu, apa yang sedang kita lakukan adalah mencuri. Tindakan jahat, buruk dan.. berdosa. Gue sangat takut dengan segala hal tindakan yang berdosa ketika masih kecil, dan juga tentang neraka. Gue takut perbuatan ini akan membawa gue ke neraka ketika gue mati kelak. Ketakutan terbesar kita terhadap dosa dan neraka, terjadi ketika kita masih kecil.
“Eh, ini mencuri kan? Kita jangan mencuri, mencuri itu dosa..” gue tiba-tiba secara spontan menaehati temen gue yang udah naik di atas pagar.
Beberapa temen gue diem, gak ngelanjutin manjat pagar. “iya, yah..” katanya kemudian. “Udah ah, takut dosa..”
Dia lalu kemudian turun. Gak lama, beberapa lainnya, bahkan yang udah ngambil satu belimbing juga ikut turun. “Iya.. takut aku..”
“Ya wes, aku juga turun..” kata temen gue yang turun paling akhir, akhirnya. Dia berhasil dapat dua belimbing. Karena takut, kita akhirnya kembali mencari buah keres seperti biasanya. Genk Keresers. Gak ada yang ketahuan. Gak ada anjing mengongong. Gak ada tumbal teman. Kita batal mengambil buah belimbing karena sadar satu hal: mencuri itu tidak baik. Meskipun gue ragu waktu itu, mereka sadar karena tahu itu adalah perbuatan dosa, atau memang takut ketahuan pemiliknya.
Selama gue masih kecil, gue memegang erat nilai-nilai kebenaran tersebut. Namun ternyata, seiring berjalannya waktu ketika gue mulai beranjak dewasa, semakin gue mengenal hitam putihnya kehidupan, manis pahitnya masalah di dunia, nilai-nilai yang gue pegang itu mulai bergeser. Nilai-nilai kebenaran yang awalnya berarti: ‘selalu benar’, bergeser menjadi: ‘kurang tepat’, lalu terus bergeser hingga pada kesimpulan: ‘tidak benar’ (baca: salah).
Mungkin ketika kita masih kecil, gak masalah ketika kita menasehati temen kita yang salah. Tapi setelah kita dewasa, aturannya berubah menjadi: urusi saja urusanmu sendiri, jangan menganggu urusan orang lain. Kita hanya akan bertindak, ketika hal itu mulai berubah menjadi merugikan atau menganggu kita. Bukan tindakan tepat, ketika kita menasehati orang lain tentang kebenaran. Kita hanya diperbolehkan, memberi contoh melakukan tindakan-tindakan yang benar. (bahkan, belakangan, memberi contoh tindakan yang benar adalah juga merupakan tindakan yang salah.)
Semakin ke belakang semakin gue berpikir, apa yang salah? Kenapa dunia orang dewasa menjadi seperti ini? Lalu apa gunanya, mereka menasehatkan ke anak-anak mereka tentang kebenaran?
Contoh kecil lainnya, ketika kita masih kecil, kita diajarkan untuk tidak boleh berbohong dan juga bertindak tidak jujur. Sekali lagi, orang dewasa mengajarkan, bahwa: berbohong dan tidak jujur itu tindakan tercela dan berdosa. Tidak kurang buku yang membahas dan menerangkan tentang nilai-nilai kejujuran, serta dongeng dan cerita anak juga menceritakan kisah tentang efek buruk berlaku tidak jujur. Anak-anak kecil sudah terbiasa terdidik dan ter-brain storming bahwa: berbohong itu buruk. Ajaran untuk selalu berkata dan bertindak jujur tertanam sangat kuat dalam pikiran kita. Mudah saja, itu terbukti, ketika anak kecil berbohong, hal itu sangat mudah terlihat dan terdeteksi dari sikap dan perkataannya. Kenapa? Karena ketika berbohong, anak kecil merasa sangat tidak nyaman perasaannya dan juga diliputi oleh rasa bersalah karena telah tidak jujur. Sepandai-pandainya anak kecil berbohong, kita masih dapat mengetahuinya.
Seiring betambah dewasa, lingkungan serta orang-orang sekitar mulai mengajari dengan menunjukkan sikap-sikap yang mulai menggeser nilai tentang berbohong, yang awalnya: ‘tidak boleh’, hingga menjadi: ‘tidak apa-apa’. Kita mulai dibiasakan berbohong, mulai dari ‘Udah, mau tahu aja urusan orang!’, ‘bilang ibu tidak ada kalau nyonya A mencari ibu’, ‘gak perlu bilang tetangga beli ini, kan kita gak ngasih’, ‘udah, jangan lapor ya! Nanti kamu dapet, kok!’, hingga ‘udah, kita sama-sama ngerti aja’. Maka, jangan salahkan kalau kita sering melihat di berita bahwa banyak para pejabat pemerintah kita yang terlibat korupsi. Gak hanya itu, suap, sogok, uang pelicin, hingga pencucian uang, dianggap hal yang wajar di antara dunia para orang dewasa kita di negeri ini.
Lihat, lalu apa gunanya mereka mengajarkan anak mereka untuk ‘tidak berbohong’ dan ‘tidak mencuri’? Para orang dewasa telah terbiasa menggeser nilai tersebut secara perlahan, hingga yang ‘tidak boleh’ kemudian menjadi ‘tidak apa-apa’, hingga akhirnya menjadi ‘boleh’. Hingga kita, sebagai orang dewasa, akhirnya menjadikan ‘berbohong’ adalah salah satu bahasa kesepakatan yang dimengerti secara universal oleh kita. Hingga orang yang benar-benar jujur, yang tak mengerti tentang aturan ini, akan tersingkirkan dari negeri kita ini.
Hingga lalu timbullah kalimat, “Mencari orang jujur, sekarang itu susah!” Lihat, betapa lucunya negeri ini..
Begitu juga ketika kita kecil, kita dilarang bertengkar. Masih ingat kan, ketika kita masih kecil kita bertengkar berebut mainan dengan teman kita dan mempermasalahkan ini sebenarnya mainan milik siapa? Ketika kita bertengkar makin hebat hingga akhirnya ada salah satu anak menangis, apa yang dilakukan orang tua? Melerai mereka berdua, dan mengatakan kalau bertengkar itu tidak baik. Kita lalu diajari bahwa kita harus rukun sesama teman, tidak boleh bertengkar, dan harus saling memberi. Kita lalu dipaksa untuk balik berdamai dengan teman kita dengan saling berjabat tangan atau mengaitkan kelingking. Meskipun sama-sama gengsi, kita akhirnya kembali rukun dan bermain kembali seperti semula. (meskipun besoknya tetep balik berantem lagi tentang hal yang sama)
Tapi apa yang terjadi di dunia orang dewasa? Perang ada di mana-mana. Kita sebagai orang awam selalu berpikir, “Apapun alasannya, perang adalah pilihan yang salah. Mengorbankan ratusan hingga ribuan untuk suatu kepentingan.” dan memang itu yang benar. Tapi bagi orang militer dalam negara, mereka akan menggesernya menjadi “Demi mempertahankan kedamaian negeri, perang itu diperlukan untuk membela diri antar negara. Kita harus jadi negara yang kuat, kalau ingin bertahan.” Oke, dalam tahap ini, alasan berperang untuk membela diri masih benar. Lalu alasan perang ini bergeser lagi menjadi “Untuk dapat menjadi negara yang besar, kuat dan damai, kita membutuhkan luas wilayah negeri yang lebih besar dengan cara menakhlukkan negeri lain dan menyatukannya dalam satu pemerintahan negeri kita. Untuk itulah perang diperlukan. Harus ada pengorbanan untuk menyatukan seluruh kedamaian dunia.” Alasan ini sudah salah. Perang dilakukan untuk menguasai negeri atau daerah lain. Demi kepentingan siapa, perang itu dilakukan? Rakyat? Rakyat siapa? Lalu, siapa yang menjadi korban? Pantaskah pengorbanan sebesar itu hanya untuk keinginan konyol itu? Mengapa dana super-besar yang digunakan untuk perang itu tidak digunakan untuk memberi makan orang-orang yang kelaparan, daerah kekeringan dan juga kesulitan air bersih?
Ketika kita masih kecil, kita diajari untuk menolong tanpa pamrih. Tapi saling cari keuntungan dan penipuan terjadi di mana-mana. Kelaparan terjadi di mana-mana.
Ketika kita masih kecil, kita diajari untuk merawat alam serta lingkungan kita. Tapi polusi asap, penebangan pohon, penggundulan hutan, hingga limbah yang mencemari tanah dan air terjadi di mana-mana.
Lalu kenapa kita lebih memilih membeli petasan hanya untuk menganggu anak lain yang setelahnya asapnya hanya akan merusak pernafasan dan sisa ledakannya menimbulkan sampah di mana-mana, ketimbang membeli sepotong roti lalu membaginya dengan teman kita tersebut. (baca: mengapa kita lebih memilih membom nuklir negara lain hanya untuk menunjukkan kita yang terkuat, lalu sisa nuklir tersebut hanya akan merusak bumi dan kehidupan, daripada menolong orang lain yang kelaparan?)

Seharusnya, semakin kita dewasa, semakin mengerti kan?

Seharusnya, semakin kita dewasa kita menjadi semakin baik kan?

Bukankah Tuhan menitipkan bumi dan seisinya kepada manusia, yang bertugas sebagai khalifah, untuk dijaga dan dirawat?


***

Hari ini, semakin gue bertambah dewasa, sebaliknya, gue ternyata semakin ketakutan untuk menjadi dewasa. Gue takut, nilai-nilai kebenaran yang masih bertahan untuk gue pegang hingga saat ini (yang mulai menghilang di antara orang-orang di sekitar gue) juga ikut bergeser, menjadi salah seperti para orang dewasa itu. Bahkan gue takut, pikiran dan hati gue ketika menulis hal ini sekarang, detik ini, akan berubah kelak. Menjadi sesuatu yang salah, dan ketika gue membaca lagi tulisan ini, gue terheran-heran kennapa gue bisa menulis hal ini sekarang. Gue takut suatu saat nanti, ketika gue melihat orang baik yang melakukan tindakan baik gue malah berkomentar, “udah, kenapa bersusah payah melakukan hal yang tidak menguntungkan seperti itu?”

Gue takut menjadi dewasa, karena pengertian gue tentang orang dewasa ketika gue masih kecil, telah bergeser.

Orang dewasa adalah jiwa kekanan-kanakan yang terperangkap di dalam tubuh manusia tua.

Anak kecil kekananakan yang tua.
Yang menganggap kehidupan ini adalah permainan. Dan dunia ini adalah tempat bermain untuk mereka. Hanya saja mereka tak belajar apapun.

“Orang dewasa adalah orang yang sudah mengerti dan dapat membedakan hal yang baik dan buruk.”




Gue ingin selamanya menjadi anak kecil….






Baca Lanjutannya Ahh..