-orang dewasa..-

Author: Budiharja Kusuma // Category: ,
Ketika kita masih kecil, sebagian besar dari kita ingin terus menjadi anak kecil yang terus bermain-main dan bebas dari tanggung jawab. Gue masih inget pas kecil, tiap hari kita habis pulang sekolah bermain sama temen, seharian gak mandi, ngelayap keluar rumah seenaknya tanpa make sandal, maen kelereng, beli jajan, es dan mainan sesuka hati, buang air besar sembarangan, pulang dimandiin, setelah mandi, makanan siap tinggal dimakan, sore dan weekend full nonton kartun di TV, lalu malam ketika waktunya belajar kita malah ketiduran karena capek. Kalau dilarang sesuatu, kita gondok. Gak dibeliin sesuatu, kita nangis. Disuruh belajar, badan tiba-tiba jadi demam (tapi tiba-tiba sembuh setelah nonton kartun di tipi).
“Aku ingin selamanya bahagia seperti ini” itu adalah pikiran normal kita semua sewaktu masih kecil. Ya, itu sangat normal, mengingat insting dasar manusia adalah ingin selalu bahagia.
Bahkan sekarangpun, ketika gue dan temen-temen gue mulai beranjak dewasa, gue masih sering menemui status facebook temen-temen gue yang kurang lebih seperti ini: ‘aku ingin kembali jadi anak kecil, yang bebas dari masalah dan tanggung jawab’, ketika mereka sedang mengalami masalah hidup ataupun merasa galau. Pas gue tanya, “kenapa pengen kembali jadi anak kecil? Bukannya kita akan jadi tidak ingat apapun lagi kalau kembali jadi anak kecil?”
“Nah, itu,” jawabnya singkat. “biar lupa..”
Gue lalu mikir, pasti masalah anak ini sangat berat, sampai ingin melupakan semua hal. Aneh memang, hanya karena satu masalah, kita ingin membuang semua ingatan, termasuk semua ingatan-bahagia kita.
Berusaha ingin menghibur, gue lalu bales “Siapa tahu, Tuhan udah pernah ngasih kesempatan itu? Tapi karena balik jadi anak kecil, kamunya gak inget. Jadi ini mungkin adalah kehidupanmu yang kesepuluh, setelah terus meminta mengulang-ulang kembali jadi anak kecil begitu menginjak dewasa.. mungkin di kehidupan sebelum ini, kamu cowok. Bisa aja kan?”
Tapi setelah itu temen gue (cewek) itu gak komen lagi. Habis itu dia offline dari daftar chat. Yang gak gue tahu, mungkin aja di seberang sana dia udah bersumpah bakal ngebunuh gue kalau ketemu langsung.

Ya, masalah di dunia itu memang berat.. pikir gue waktu itu. Kita tak pernah memilih untuk dilahirkan.

***

Jika sebagian besar ingin terus menjadi anak kecil, sebaliknya, sebagian kecil dari kita justru ingin menjadi dewasa secepat yang kita bisa dan bayangkan. Salah satunya, adalah.. gue.
Sewaktu kecil, tiap gue ngeliat orang dewasa, semakin gue ngerasa bahwa kita, sebagai anak kecil, memiliki sedikit sekali kebebasan jika dibandingkan dengan para orang dewasa. Dari ukuran tubuh, udah jelas beda. Orang dewasa memiliki tubuh lebih besar, tinggi, dan bisa menggapai atau mengambil apapun di ketinggian. Orang dewasa yang lebih tinggi, biasanya kerjanya jadi pemain basket. Orang yang lebih tinggi lagi, biasanya kerjanya.. tetep jadi pemain basket. Orang yang paling tinggi, biasanya kerjanya masuk rekor dunia sebagai ‘orang tertinggi di dunia’. Tapi karena kena gigantism, dia cepet mati. (Oke, ini kenapa gue cuma bahas orang dewasa dari tingginya aja??!)
Oke balik. Kalau dilihat dari kebebasan, orang dewasalah yang paling bersenang-senang. Kalau dipikir, orang yang bisa mengendarai mobil atau motor, adalah orang dewasa (yang dipikirkan anak kecil cowok). Orang yang bisa menikah dan punya anak, adalah orang dewasa (yang dipikirkan anak kecil cewek). Orang yang boleh minum kopi, ngerokok, minjem DVD, naik roller coaster, renang sedalam 2 meter, punya dompet dan uang sendiri, boleh pulang malem (bahkan gak pulang juga boleh),  dan bebas memilih bercita-cita jadi apapun, adalah orang dewasa (yang dipikirkan anak kecil cowok). Orang yang bisa menikah dan punya anak, adalah orang dewasa (yang dipikirkan anak kecil cewek). Gue juga gak tahu, kenapa anak kecil cewek cuma mikir itu.
Yang jelas, ketika gue masih kecil, gue mikir kalau jadi orang dewasa itu kereeenn!! Kita bisa bebas ngapain aja. Bahkan kalau gue melihat kartun-kartun di tipi, gak pernah ada penjahat yang ingin menguasai dunia itu adalah anak kecil. Gak mungkin banget, raja iblis Piccolo yang mati-matian ingin dikalahkan oleh Son Goku, ternyata adalah anak kecil. Gak mungkin juga, Madara Uchiha yang ingin mengasai dunia shinobi, yang menjadi musuh besar Naruto, adalah anak kecil. Semua penjahat terkuat yang ingin menguasai dunia adalah orang dewasa.
Manusia terkuat adalah orang dewasa.
Gue waktu kecil, ingin sekali jadi cepat dewasa, tapi tak mau bertambah tua seperti mereka.

Tetapi, seiring berjalannya waktu, dan selama perjalanan gue semakin menjadi orang dewasa, pengertian gue tentang ‘orang dewasa’ dipaksa bergeser oleh dunia.


***
  

Kata orang, orang dewasa tahu segalanya.
Semua orang, termasuk gue, masa kecilnya berisi tentang keingin-tahuan. Gue versi kecil, adalah anak kecil yang ingin tahu banyak hal dan mencoba segala sesuatu. Gue selalu ingin mencari tahu, “apa yang akan terjadi, jika kita melakukan sesuatu seperti ini”. Tapi bagi kebanyakan orang dewasa, itu dianggap sebuah kenakalan. Seperti contohnya, ketika gue iseng-iseng pernah masukin pasir ke adonan dawet di dapur dan nenek gue langsung mencak-mencak seketika. (Oke, itu emang ngaco. Beda emang, antara bikin adonan dawet dengan adonan bikin beton.) Maksud gue seperti contohnya, ketika gue melihat orang sedang memperbaiki motor, membuka baut dengan kunci baut. Gue yang waktu itu selalu-ingin-tahu, bermain-main baut-baut yang tergeletak dan memainkan dengan kunci-kunci yang berserakan. Gak lama, gue segera diusir dengan kalimat khas orang-dewasa-ke-anak-kecil, “Eh, jangan dibuat mainan! Nanti ada yang hilang bautnya! Main-main diluar sana kek, sama temen-temen kamu!..” Mau gak mau, gue sebagai anak kecil yang liar pendiam menyingkir dengan segera.
Look, ada seorang anak kecil baru mendapat pengetahuan bahwa ukuran-ukuran baut-baut serta kuncinya berbeda-beda dan kita harus mencocokkan ukuran dengan pas untuk dapat membuka, para orang dewasa menyuruh kita untuk pergi bermain yang tak tentu arah, asal tak menggangu mereka bekerja. (but, you know? malamnya, gue buka kotak peralatan itu sendiri, dan bermain sendiri dengan kunci-kunci itu. Ya, gue emang keras kepala.)
Begitu juga saat gue begitu tertarik bermain dengan korek api ketika masih kecil. Saat itu gue lagi demam-demamnya main korek api (wajar, waktu itu beyblade dan mobil mainan 4WD masih belum booming. Kalau kamu anak orang kaya, ketika itu mainan kamu adalah yoyo plastik dengan nyala lampu warna-warni yang bagus banget kalo malam. Kalau kamu anak orang pas-pasan, mainan kamu adalah karet gelang dan sedotan Aq*a, atau kalau beruntung, mainan kamu adalah plastik pembungkus mainan game watch yang berisi banyak gelembung-gelembung udara yang seru buat diletusin dengan jari.).
Ya, saat itu gue lagi demam-demamnya main korek api. Ketika itu gue begitu tertarik, bagaimana sebuah percikan dan panas dapat menimbulkan api. Bagaimana api bisa muncul? Sebenarnya, api itu benda apa? Ketika gue tiup dan mati, api itu menghilang ke mana? Api bukanlah benda gas, cair, maupun padat. Ketika gas menghilang, dia berpindah tempat. Begitu juga dengan air, jumlah total air di bumi tak pernah berkurang, hanya berubah bentuk dan berpindah tempat. Tapi bagaimana dengan api?
“Heh, jangan main api! Bahaya!” kata orang dewasa dengan marah, seperti yang diduga, langsung merampas korek api yang ada di tangan. Merusak khayalan gue tentang benda bernama ‘api’ saat itu. Dan akan mengulang kemarahan yang sama ketika gue mengulainya. (hingga akhirnya, gue beli korek api sendiri dan menyimpannya secara diam-diam. Gak tahu, ketika masih kecil, gue mikir kalau anak kecil yang punya korek api sendiri itu keren sekali. Kayak orang dewasa yang punya pistol dan dibawa ke mana-mana.)
Hal yang sama juga terjadi ketika mulut gue belepotan tinta ketika mainan selang tinta pulpen, bermain kabel listrik (gue gak inget, kenapa bisa main kabel), ketika mengangkat panci dan tumpah, naik tangga dua dakian dan terjatuh, mencoba menelan uang koin (oke, yang ini emang salah. Jangan ditiru!), dan macam-macam hal lainnya.
Anak kecil dilarang bermain dengan menggunakan hal-hal/ benda-benda orang dewasa.
Orang dewasa tahu segalanya. Yang selalu mengerti tentang pengetahuan  dan pelajaran hidup. Mereka sudah tahu sejak dulu, bahwa baut-baut dan kunci itu berbeda ukuran dan harus menemukan pasangan kunci yang pas untuk dapat membukanya. Mereka tahu api itu tercipta dari sumber panas dan merupakan zat sumber cahaya dan panas yang berguna bagi manusia, dan juga dapat membakar bila ceroboh menggunakannya. Mereka juga tahu listrik itu bermanfaat dan merupakan sumber energi general bagi manusia yang dapt diubah menjadi energi apapun dengan bantuan teknologi saat ini. Mereka tahu untuk mengangkat sebuah beban membutuhkan tenaga seberapa besar, bagaimana menyeimbangkan pikiran, jarak, dan keseimbangan motorik gerak, dan berbagai macam pengetahuan lainnya. Mereka tahu semua itu.
Orang dewasa tahu segalanya. Yang selalu menganggap anak kecil tak tahu segalanya. Yang selalu menganggap anak kecil adalah manusia yang baru saja mampir ke dunia, dan tak mengerti apa-apa tentang kesulitan dan pelajaran hidup. Menganggap anak kecil adalah makhluk yang selalu bahagia, yang identik dengan selalu bermain dan kenakalan. Tapi mungkin bukan segalanya.
Kebanyakan orang dewasa tak tahu, bahwa tindakan nakal yang dilakukan oleh anak kecil itu adalah proses pembelajaran. Kebanyakan dari mereka salah mengira. Salah paham. Parafair play. Teman-temannya menyumpat hidung ketika mereka bermain, dia akan belajar buat gak buang air besar di celana. Melalui kegiatan bermain dengan teman-teman mereka, mereka akan belajar bagaimana berkomunikasi dan bertahan hidup dalam sebuah komunitas atau dengan individu manusia lainnya saat dewasa kelak. Bahkan berhasil tidaknya seseorang di masa depan, dapat terlihat melalui semua tindakannya saat bermain bersama teman mereka. orang dewasa menganggap proses belajar adalah ketika anak kecil ada di meja belajar, ketika mereka membuka buku pelajaran sekolah. Padahal kegiatan bermain seorang anak kecil adalah proses belajar utama mereka. Seorang anak kecil bahkan belum membutuhkan sepenuhnya, belajar tentang pelajaran sekolah melalui buku pelajaran. Mereka lebih banyak membutuhkan pelajaran kehidupan dan meniru dari alam di usianya saat itu. Kalah saat bermain dengan teman-temannya, dia akan belajar tentang arti kekalahan, dan bagaimana caranya agar menang. Berbuat curang saat bermain akan membuat temannya lain marah, dia akan belajar bahwa melakukan segala sesuatu itu harus sesuai peraturan dan
Begitu juga terhadap keingin-tahuan ketika kita masih kecil. Ketika masih kecil, kita jarang mendengar kalimat larangan yang disertai alasan mengapa kita dilarang.
“Jangan dibuat mainan kuncinya! Nanti hilang!” “Jangan main api!” “Jangan memanjat!” Jangan, jangan dan jangan. Semuanya adalah perintah larangan: jangan melakukan.
Kita jarang mendengar: “Eh, nanti kunci-kunciya dikembalikan lagi ditempatnya, ya..” atau “Api jangan dibuat sembarangan seperti itu, nanti kalau kena benda dapat membakar, lho.” Atau kalau anak kecil itu emang udah abnormal sejak kecil, “Eh, motong-motong jari kamu make pisau daging gitu, nanti gak bisa tumbuh lagi jarinya lho.. Jangan! Jangan di leher!!” Ya, kita jarang mendengar nasehat baik dari orang dewasa ketika kita dalam proses belajar, yang menunjukkan bahwa mereka lebih mengerti dan memiliki pengetahuan yang lebih tinggi daripada kita. Kita seharusnya didampingi dan diarahkan, bukan dilarang. Karena kalimat larangan untuk anak kecil, itu berarti perintah untuk melakukan lebih berani lagi.
Mereka tidak pernah tahu, seandainya saja anak kecil itu diarahkan ketika bermain baut, lalu diajarkan juga bagaimana membuka baut dalam motor, siapa tahu dia tertarik dan ketika dewasa memiliki perusahaan motor sendiri. Siapa tahu, seandainya anak kecil yang tertarik api itu diarahkan dan diberi tahu tentang kegunaan dan bahaya dari api, dia ketika dewasa akan menjadi tukang kembang api paling ahli di negerinya? Siapa tahu, anak kecil yang tiap harinya melihat ulat memakan daun dan selalu lupa pulang, ketika besar dia adalah almuwan peneliti kupu-kupu terbaik sepanjang sejarah? Siapa tahu, anak yang sejak kecil malas melakukan segala sesuatu, ketika besar dia mencetak rekor sebagai ‘orang yang paling lama tidur selama sebulan’ (oke, yang ini salah asuhan kayaknya)? Who knows?
Jika bukan ketika kecil kita mempelajari hal-hal seperti itu lagi, lalu kapan lagi? Padahal kemampuan mengingat manusia yang terbaik adalah ketika masih kecil. Segala hal yang kita rasakan, lihat, dengar, ingat, akan terus membekas hingga kita tumbuh dewasa. Karena semakin kita dewasa, akan semakin dituntut oleh: prestasi bagus, nilai yang memuaskan, ranking tinggi, survive di persaingan dunia kerja, mencari pendapatan yang layak, dan berbagai hal lainnya. Kita jarang melakukan pekerjaan yang berisi pembelajaran lagi seperti ketika kita masih kecil.

Tak ada waktu untuk belajar, bagi orang dewasa. Karenanya, mereka tidak pernah mengerti.


***


Kata orang, orang dewasa itu bijaksana.
Ketika kita masih kecil, kita pasti sering mendengar di pelajaran PPkn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) atau sekarang disebut Kwn (Kewarganegaraan), yang berisi kalimat: “Jika teman kamu berbuat salah, kita sebagai teman harus menasehatinya.”
Ya, kalimat itu memiliki arti yang sangat mulia sekali. Mengajak orang lain atau teman kita yang salah (tersesat), agar kembali ke jalan yang benar. Siapa yang membuat ajaran seperti itu? Tentu saja orang dewasa, yang telah mengetahui segala hal yang baik dan buruk di dunia, dan juga ajaran dari agama.
Seperti gue pernah waktu kecil, ketika seperti biasa gue hangout bareng temen-temen nyari buah Keres. (sampai pada tahap ini, gue baru sadar kalau penggunaan kata ‘hangout’ bersamaan dengan kata ‘buah Keres’ dalam satu kalimat itu gak match.)
Karena bosan, waktu itu salah satu temen punya ide buat ngambil buah belimbing milik tetangga yang kaya. Berbeda dengan pohon keres yang tumbuh liar, pohon belimbing itu ada di halaman depan rumah orang kaya yang besar itu, tapi tepat di samping bagian dalam pagar rumahnya. Temen gue segera menyusun rencana besar untuk operasi ini: pertama kita semua naik pagar rumahnya dari luar hingga setinggi buah belimbing terendah yang bisa terambil, metik dari celah pagar, ngambil sebanyak-banyaknya buah belimbing yang bisa dibawa oleh tangan, lalu loncat dan lari sambil teriak kenceng-kenceng (tambahan: kalau anjing di dalam rumah itu menggongong, korbankan satu teman kamu untuk dimasukkan ke bagian dalam pagar).
Ya, rencana yang sangat sederhana emang, tapi ketika masih kecil itu adalah rencana yang dipikir sangat matang, akurat, struktural, terencana, rapih, dan bersih yang berhasil kita buat. Saking ‘bersih’nya rencana itu, mungkin seharusnya tiap anak dari kita bawa sapu waktu itu. Selain membantu untuk menggapai buah belimbing yang sulit terjangkau oleh tangan, misalkan kalau kita gagal dan ketahuan sang pemilik rumah, kita hanya perlu pura-pura mendadak sedang ingin menyapu (bersih-bersih) halaman rumah orang itu. Kalaupun sang pemilik rumah masih masih tetep curiga dengan beberapa belimbing yang kita sembunyikan di balik kaos kita, kita bisa bilang, “Tadi, pas nyapu tiba-tiba belimbingnya jatuh semua, Pak. Wajar kan, ya? Belimbing-belimbingnya masak pohon hingga jatuh semua..”
Ketika pelaksanaan di hari H, di saat anak-anak mulai naik pagar untuk mengambil belimbing, gue masih di bawah memandangi mereka. Gue kepikiran. Gue ingat kalau perbuatan ini sama dengan mencuri, yaitu mengambil sesuatu tanpa izin sang pemilik.
Ketika kita masih kecil, segala hal yang kita pegang akan benar-benar kita pegang begitu kuat, entah itu sesuatu yang benar, atau sesuatu yang salah. Jika kita diajarkan oleh lingkungan atau orang lain sesuatu yang salah dan buruk, lalu kita pegang erat saat masih kecil, maka segala tindakan yang kita lakukan akan menjadi buruk dan menyakiti teman dan keluarga kita. Begitu juga ketika kita diajarkan kebenaran dan kebaikan yang lalu kemudian begitu kita pegang erat saat kecil, maka segala tindakan kita akan penuh berisi kebaikan dan juga idealisme untuk selalu berbuat terpuji. Ketika kita masih kecil, kita menyerap segala hal tanpa filter, tanpa berpikir itu baik atau buruk. Oleh karenanya, ada istilah: “Orang dewasa adalah orang sudah mengerti dan dapat membedakan hal yang baik dan buruk.”
Gue termasuk tipe kedua. Gue tahu, apa yang sedang kita lakukan adalah mencuri. Tindakan jahat, buruk dan.. berdosa. Gue sangat takut dengan segala hal tindakan yang berdosa ketika masih kecil, dan juga tentang neraka. Gue takut perbuatan ini akan membawa gue ke neraka ketika gue mati kelak. Ketakutan terbesar kita terhadap dosa dan neraka, terjadi ketika kita masih kecil.
“Eh, ini mencuri kan? Kita jangan mencuri, mencuri itu dosa..” gue tiba-tiba secara spontan menaehati temen gue yang udah naik di atas pagar.
Beberapa temen gue diem, gak ngelanjutin manjat pagar. “iya, yah..” katanya kemudian. “Udah ah, takut dosa..”
Dia lalu kemudian turun. Gak lama, beberapa lainnya, bahkan yang udah ngambil satu belimbing juga ikut turun. “Iya.. takut aku..”
“Ya wes, aku juga turun..” kata temen gue yang turun paling akhir, akhirnya. Dia berhasil dapat dua belimbing. Karena takut, kita akhirnya kembali mencari buah keres seperti biasanya. Genk Keresers. Gak ada yang ketahuan. Gak ada anjing mengongong. Gak ada tumbal teman. Kita batal mengambil buah belimbing karena sadar satu hal: mencuri itu tidak baik. Meskipun gue ragu waktu itu, mereka sadar karena tahu itu adalah perbuatan dosa, atau memang takut ketahuan pemiliknya.
Selama gue masih kecil, gue memegang erat nilai-nilai kebenaran tersebut. Namun ternyata, seiring berjalannya waktu ketika gue mulai beranjak dewasa, semakin gue mengenal hitam putihnya kehidupan, manis pahitnya masalah di dunia, nilai-nilai yang gue pegang itu mulai bergeser. Nilai-nilai kebenaran yang awalnya berarti: ‘selalu benar’, bergeser menjadi: ‘kurang tepat’, lalu terus bergeser hingga pada kesimpulan: ‘tidak benar’ (baca: salah).
Mungkin ketika kita masih kecil, gak masalah ketika kita menasehati temen kita yang salah. Tapi setelah kita dewasa, aturannya berubah menjadi: urusi saja urusanmu sendiri, jangan menganggu urusan orang lain. Kita hanya akan bertindak, ketika hal itu mulai berubah menjadi merugikan atau menganggu kita. Bukan tindakan tepat, ketika kita menasehati orang lain tentang kebenaran. Kita hanya diperbolehkan, memberi contoh melakukan tindakan-tindakan yang benar. (bahkan, belakangan, memberi contoh tindakan yang benar adalah juga merupakan tindakan yang salah.)
Semakin ke belakang semakin gue berpikir, apa yang salah? Kenapa dunia orang dewasa menjadi seperti ini? Lalu apa gunanya, mereka menasehatkan ke anak-anak mereka tentang kebenaran?
Contoh kecil lainnya, ketika kita masih kecil, kita diajarkan untuk tidak boleh berbohong dan juga bertindak tidak jujur. Sekali lagi, orang dewasa mengajarkan, bahwa: berbohong dan tidak jujur itu tindakan tercela dan berdosa. Tidak kurang buku yang membahas dan menerangkan tentang nilai-nilai kejujuran, serta dongeng dan cerita anak juga menceritakan kisah tentang efek buruk berlaku tidak jujur. Anak-anak kecil sudah terbiasa terdidik dan ter-brain storming bahwa: berbohong itu buruk. Ajaran untuk selalu berkata dan bertindak jujur tertanam sangat kuat dalam pikiran kita. Mudah saja, itu terbukti, ketika anak kecil berbohong, hal itu sangat mudah terlihat dan terdeteksi dari sikap dan perkataannya. Kenapa? Karena ketika berbohong, anak kecil merasa sangat tidak nyaman perasaannya dan juga diliputi oleh rasa bersalah karena telah tidak jujur. Sepandai-pandainya anak kecil berbohong, kita masih dapat mengetahuinya.
Seiring betambah dewasa, lingkungan serta orang-orang sekitar mulai mengajari dengan menunjukkan sikap-sikap yang mulai menggeser nilai tentang berbohong, yang awalnya: ‘tidak boleh’, hingga menjadi: ‘tidak apa-apa’. Kita mulai dibiasakan berbohong, mulai dari ‘Udah, mau tahu aja urusan orang!’, ‘bilang ibu tidak ada kalau nyonya A mencari ibu’, ‘gak perlu bilang tetangga beli ini, kan kita gak ngasih’, ‘udah, jangan lapor ya! Nanti kamu dapet, kok!’, hingga ‘udah, kita sama-sama ngerti aja’. Maka, jangan salahkan kalau kita sering melihat di berita bahwa banyak para pejabat pemerintah kita yang terlibat korupsi. Gak hanya itu, suap, sogok, uang pelicin, hingga pencucian uang, dianggap hal yang wajar di antara dunia para orang dewasa kita di negeri ini.
Lihat, lalu apa gunanya mereka mengajarkan anak mereka untuk ‘tidak berbohong’ dan ‘tidak mencuri’? Para orang dewasa telah terbiasa menggeser nilai tersebut secara perlahan, hingga yang ‘tidak boleh’ kemudian menjadi ‘tidak apa-apa’, hingga akhirnya menjadi ‘boleh’. Hingga kita, sebagai orang dewasa, akhirnya menjadikan ‘berbohong’ adalah salah satu bahasa kesepakatan yang dimengerti secara universal oleh kita. Hingga orang yang benar-benar jujur, yang tak mengerti tentang aturan ini, akan tersingkirkan dari negeri kita ini.
Hingga lalu timbullah kalimat, “Mencari orang jujur, sekarang itu susah!” Lihat, betapa lucunya negeri ini..
Begitu juga ketika kita kecil, kita dilarang bertengkar. Masih ingat kan, ketika kita masih kecil kita bertengkar berebut mainan dengan teman kita dan mempermasalahkan ini sebenarnya mainan milik siapa? Ketika kita bertengkar makin hebat hingga akhirnya ada salah satu anak menangis, apa yang dilakukan orang tua? Melerai mereka berdua, dan mengatakan kalau bertengkar itu tidak baik. Kita lalu diajari bahwa kita harus rukun sesama teman, tidak boleh bertengkar, dan harus saling memberi. Kita lalu dipaksa untuk balik berdamai dengan teman kita dengan saling berjabat tangan atau mengaitkan kelingking. Meskipun sama-sama gengsi, kita akhirnya kembali rukun dan bermain kembali seperti semula. (meskipun besoknya tetep balik berantem lagi tentang hal yang sama)
Tapi apa yang terjadi di dunia orang dewasa? Perang ada di mana-mana. Kita sebagai orang awam selalu berpikir, “Apapun alasannya, perang adalah pilihan yang salah. Mengorbankan ratusan hingga ribuan untuk suatu kepentingan.” dan memang itu yang benar. Tapi bagi orang militer dalam negara, mereka akan menggesernya menjadi “Demi mempertahankan kedamaian negeri, perang itu diperlukan untuk membela diri antar negara. Kita harus jadi negara yang kuat, kalau ingin bertahan.” Oke, dalam tahap ini, alasan berperang untuk membela diri masih benar. Lalu alasan perang ini bergeser lagi menjadi “Untuk dapat menjadi negara yang besar, kuat dan damai, kita membutuhkan luas wilayah negeri yang lebih besar dengan cara menakhlukkan negeri lain dan menyatukannya dalam satu pemerintahan negeri kita. Untuk itulah perang diperlukan. Harus ada pengorbanan untuk menyatukan seluruh kedamaian dunia.” Alasan ini sudah salah. Perang dilakukan untuk menguasai negeri atau daerah lain. Demi kepentingan siapa, perang itu dilakukan? Rakyat? Rakyat siapa? Lalu, siapa yang menjadi korban? Pantaskah pengorbanan sebesar itu hanya untuk keinginan konyol itu? Mengapa dana super-besar yang digunakan untuk perang itu tidak digunakan untuk memberi makan orang-orang yang kelaparan, daerah kekeringan dan juga kesulitan air bersih?
Ketika kita masih kecil, kita diajari untuk menolong tanpa pamrih. Tapi saling cari keuntungan dan penipuan terjadi di mana-mana. Kelaparan terjadi di mana-mana.
Ketika kita masih kecil, kita diajari untuk merawat alam serta lingkungan kita. Tapi polusi asap, penebangan pohon, penggundulan hutan, hingga limbah yang mencemari tanah dan air terjadi di mana-mana.
Lalu kenapa kita lebih memilih membeli petasan hanya untuk menganggu anak lain yang setelahnya asapnya hanya akan merusak pernafasan dan sisa ledakannya menimbulkan sampah di mana-mana, ketimbang membeli sepotong roti lalu membaginya dengan teman kita tersebut. (baca: mengapa kita lebih memilih membom nuklir negara lain hanya untuk menunjukkan kita yang terkuat, lalu sisa nuklir tersebut hanya akan merusak bumi dan kehidupan, daripada menolong orang lain yang kelaparan?)

Seharusnya, semakin kita dewasa, semakin mengerti kan?

Seharusnya, semakin kita dewasa kita menjadi semakin baik kan?

Bukankah Tuhan menitipkan bumi dan seisinya kepada manusia, yang bertugas sebagai khalifah, untuk dijaga dan dirawat?


***

Hari ini, semakin gue bertambah dewasa, sebaliknya, gue ternyata semakin ketakutan untuk menjadi dewasa. Gue takut, nilai-nilai kebenaran yang masih bertahan untuk gue pegang hingga saat ini (yang mulai menghilang di antara orang-orang di sekitar gue) juga ikut bergeser, menjadi salah seperti para orang dewasa itu. Bahkan gue takut, pikiran dan hati gue ketika menulis hal ini sekarang, detik ini, akan berubah kelak. Menjadi sesuatu yang salah, dan ketika gue membaca lagi tulisan ini, gue terheran-heran kennapa gue bisa menulis hal ini sekarang. Gue takut suatu saat nanti, ketika gue melihat orang baik yang melakukan tindakan baik gue malah berkomentar, “udah, kenapa bersusah payah melakukan hal yang tidak menguntungkan seperti itu?”

Gue takut menjadi dewasa, karena pengertian gue tentang orang dewasa ketika gue masih kecil, telah bergeser.

Orang dewasa adalah jiwa kekanan-kanakan yang terperangkap di dalam tubuh manusia tua.

Anak kecil kekananakan yang tua.
Yang menganggap kehidupan ini adalah permainan. Dan dunia ini adalah tempat bermain untuk mereka. Hanya saja mereka tak belajar apapun.

“Orang dewasa adalah orang yang sudah mengerti dan dapat membedakan hal yang baik dan buruk.”




Gue ingin selamanya menjadi anak kecil….






6 Responses to "-orang dewasa..-"

Wahyu 3CHOOSE Says :
19 Agustus 2011 23.05

Benar juga apa yang udah disampai'in, namun gimana caranya agar ajaran yang kita terima sewaktu kecil bisa kita lakuin itu masih merupakan tantangan terbesar...

Bisakah kita berbeda untuk benar?
Setidaknya butuh keberanian dan karakter yang tangguh supaya bisa jadi manusia dewasa yang mulia.

Salam Kemerdekaan,

nee.Ya.nia Says :
20 Agustus 2011 11.33

panjang bener,,.... hihi

suka penutupnya, bagus.. ^^)8 dari bagian "hari ini, semakin..bla..bla.." sampai "gue ingin selamanya menjadi anak kecil"

kurang setuju sama kalimat "kita tak pernah memilih untuk dilahirkan" yang aq tahu, kata nenekq, waktu kita di kandungan beberapa bulan malaikat membacakan takdir kita, kalo kita setuju maka kita akan di lahirkan, sebaliknya kalo gak setuju kita gak akan lahir ke dunia.. gitu katanya.. CMIIW..

-boot_d- Says :
21 Agustus 2011 08.17

@wahyu:
benar. emang sulit untuk menjaga kebenaran dalam diri kita selama kita hidup, karena akan berhadapan dengan masyarakat yang ikut arus secara general (salah).
semoga kita sanggup menjaga kebaikan dalam diri kita.. :)

@nia:
benarkah kepanjangan? :D

thanks a lot ^^

gak, aku cuma menulis tentang realita dan fakta aja.. kalaupun hal itu benar, kita gak ingat hal itu ketika hidup kan (gak bisa dibuktikan)? :) jadi aku bicara kehidupan dan masalahnya.. dari sisi 'keras'-nya..
semoga mengerti.. ^^

Audrey R. Subrata Says :
21 Agustus 2011 16.09

enakan forever young kalo menurut gue, jangan jadi anak kecil deh, paling enak tu seumuran gue 17 taun hahahahah :D

sprei murah Says :
9 Januari 2012 18.50

thanks your info and great blog article and quality, success and greetings greetings bloggers

Posting Komentar