-Pak Slametnya ada??-

Author: Budiharja Kusuma // Category:

Sejak kecil, gue akrab banget dengan tempat yang bernama Kebun Binatang Surabaya. Eiits, bukan karena gue pernah tinggal atau pernah menjadi penghuni di sana (iya sih, gue suka banget ketika ada orang lain ngasih kacang ke gue), tapi ini lebih kepada: gue sering berkunjung ke sana ketika masih kecil. *tersenyum ramah* *berusaha keras memasang image bahwa BUKAN penghuni kebun binatang*
Ya, sejak kecil gue sering diajak pergi ke kebun binatang, entah itu sekeluarga atau cuma ama nyokap aja. Gue selalu suka suasana kebun binatang yang sejuk dengan banyak pepohonan, jalan mengitari berbagai jalan setapak untuk mencari kandang-kandang hewan, membaca keterangan nama latin hewan pada papan nama, melempari para monyet dan beruang dengan kacang, mengelus-penyu-yang-lagi-berenang-yang-sebenarnya-gak-boleh, mencari-cari letak posisi ular di kandang reptil lalu kemudian shock ternyata-ada-tepat-dibawah-kaki-kita, dan tren baru yang muncul di beberapa tahun terakhir ini adalah: hujan ratusan kotoran burung yang jatuh dari atas yang mengenai kita secara random (ya, jadi kalau misal pas kamu lagi asik mengamati kandang hewan lalu tiba-tiba ada cairan putih nyiprat di pundak atau kepala kamu, jangan positive thinking lalu mencicipinya. Percayalah, itu bukan es krim jatuh).
Dan salah satu hal yang masih terus berkesan di pikiran gue hingga saat ini adalah: bagaimana cara kita masuk ke dalam kebun binatang. Karena keluarga gue adalah keluarga dengan ekonomi yang pas-pasan, serta prinsip nyokap gue yang: “jika bisa tidak membayar, kenapa harus membayar”, kita jarang banget masuk melalui prosedur normal, dimana orang masuk dengan membayar tiket lalu kemudian masuk melalui pintu masuk.
Saat gue kecil gue masih inget setiap kita masuk melalui sebuah pintu khusus, dimana kita masuk ke dalam pintu selalu dengan kondisi: jalan cepat (baca: dalam kondisi terburu-buru). Waktu itu, setiap gue tanya ke nyokap kenapa kita jalan terburu-buru, nyokap selalu jawab dengan jawaban yang sama, ”udah, ayo buruan jalan!”. Karena gue waktu itu masih kecil dan gak tahu apa-apa, gue cuma diem. Gue cuma terus jalan ngikutin nyokap yang jalan cepet sambil gandeng gue sambil mengamati orang lalu lalang melalui pintu itu.. tapi semuanya dengan arah yang sebaliknya dengan kita.
Gue baru sadar apa yang selama ini kita lakukan, setelah pada satu kali kesempatan ada anak kecil penjual topeng di bagian dalam pintu yang menegur kita sewaktu kita masuk ke dalam dengan terburu-buru, “Bu, gak boleh masuk lewat sana. Itu pintu keluar!”


BLARRR!! Petir menyambar.


Heh, pintu keluar?! Gue baru sadar waktu itu. Gue noleh ke belakang, semua orang memang berjalan ke arah sebaliknya dengan kita. Ke arah luar pintu.
Lebih jelasnya, mereka keluar.


Jadi, selama ini kita masuk ke kebun binatang LEWAT PINTU BELAKANG?!
Mungkin karena udah terbiasa (dan mungkin juga udah tahu resiko yang bakal nyokap temuin), waktu itu nyokap terus jalan cepet tanpa menghiraukan apapun sambil gandeng gue ama Galuh, adik gue yang cewek ngelewatin anak kecil penjual topeng yang menegur kita tadi.
Perasaan gue campur aduk waktu itu. Dilema. Konflik batin. Pikiran gue bercabang, antara: merasa takut karena merasa anak buronan (entah kenapa, secara insting waktu itu gue langsung nganggep nyokap adalah seorang buronan), merasa berdosa karena ber-ibu-kan seorang penjahat, dan merasa serba salah karena menjadi anak seorang penipu.
Oke, intinya sama aja.
Begitu nyampe sekitar seratus meteran dari pintu keluar, jalan nyokap berubah menjadi santai dan memiliki kecepatan-rata-rata-orang-jalan-pada-umumnya. Kita mulai mengitari area kebun binatang dengan riang gembira seolah tak pernah ada hal yang aneh terjadi sebelumnya.
Pikiran gue masih masih penuh terselimuti oleh hal tersebut. Di saat yang tepat seperti itu, gue pengen banget memutus gandengan tangan nyokap, memandang mata dengan mata nanar sambil ngomong, ”Cukup! Sudah cukup semua ini! Aku tak kuat lagi menahan semua ini! Hatiku begitu tersayat melihat ibu melakukannya!” Tapi setelah gue pikir ulang, gak jadi. Gue sadar gue harus mulai mengurangi menonton sinetron Tersanjung yang sedang tren saat itu. (Lagipula, gak ada jaminan nyokap gak malah ngamuk dan ngelempar gue ke kandang monyet berpantat monyet merah sambil ngomong, ”Oh, jadi ini pembalasanmu setelah ibu ajak ke kebun binatang secara gratis selama ini?! Setelah ibu bersusah payah masuk lewat pintu keluar selama ini?! Okey, fine! Saatnya kembali ke keluarga dimana ibu menemukanmu!”)
Setelah saat itu, kita masih berhasil masuk berkali-kali dengan sukses melalui pintu keluar hingga akhirnya pada suatu saat pintu tersebut dijaga oleh petugas yang tidak memungkinkan nyokap melaukan cara tersebut (lagi).
Gak kehabisan akal, nyokap lalu mengembangkan sebuah teknik yang dinamakan: Slamet’s Tactic. Dengan tingkat keberhasilan hingga 96,78%, sesuai namanya, strategi ini memungkinkan penggunanya dapat masuk ke dalam sisi dalam kebun binatang dengan selamat dan tanpa resiko apapun, namun hanya nyokap yang sanggup memakainya secara pribadi.
Inilah prosedur dalam Slamet’s Tactic:
  1. Kita menemui satpam yang berada di pintu masuk. Kita berusaha menemui Pak Slamet, yaitu salah satu karyawan yang bekerja di kebun binatang, dengan bertanya ”Pak Slametnya ada?”(keterangan: Pak Slamet adalah teman nyokap dan bokap ketika masih muda. Ia adalah karyawan kebun binatang yang bekerja menjaga stan yang menjual souvenir yang ada di dalam kebun binatang)
  2. Untuk memperkuat keyakinan kepada si satpam, sebelum dia berpikir lebih lanjut, kita tambahkan kalimat ”Saya mau bertemu Pak Slamet. Ada perlu.” Bila sang satpam menjawab ”Iya, Pak slamet ada, Bu. Silahkan masuk.”, kita telah berhasil melalui tahap pertama dalam Slamet’s Tactic. Jika sang satpam menjawab ”Maaf, Bu. Pak Slamet sedang cuti.”, maka siapkan beberapa pilihan alternatif jika masih ingin masuk kebun binatang seperti ”Kalau karyawan lain yang di dalam, cuti semua juga?” atau ”Eh?? Di mana saya ini? Kenapa saya di sini? Siapa nama saya? Ugh, saya terkena amnesia! Tapi mungkin saya akan kembali mengingat, kalau masuk ke dalam.”
  3. Sang satpam kemudian mengantar ke stan souvenir untuk menemui Pak Slamet, dan meninggalkan kita setelah Pak Slamet keluar.
  4. Pak slamet menemui kita dan mengajak berbincang sejenak. Tema dialog kisaran bertanya kabar, kejadian masa lalu, teman masa lalu, punya berapa anak, tinggal dimana, dan sejenisnya. Kisaran waktu 15 hingga 30 menit.
  5. Sambil menahan malu, mohon diri untuk jalan-jalan mengitari kebun binatang (tujuan sebenarnya).
  6. Slamet’s Tactic complete! Kita berhasil masuk ke kebun binatang tanpa membayar tiket masuk!


Ya, taktik itu selalu berhasil dilakukan nyokap selama bertahun-tahun hingga sekarang. Satu dua kali gagal, karena Pak Slametnya sedang libur dan sebagai gantinya kita akhirnya diajak muter-muter keliling Surabaya dan ke taman aja (pengen tetep masuk ke kebun binatang dengan cara membayar juga malu, karena udah terlanjur bilang ingin bertemu Pak Slamet).
Ya, taktik ini selalu berhasil, hingga di hari ulang tahun Udik, adik gue yang paling kecil pada bulan Juni kemaren.


***


Selain gue, anggota dari keluarga yang juga sangat suka dengan hewan adalah Udik, adik gue paling kecil yang sekarang berumur 11 tahun. Ya, dia sangat suka segala hal tentang hewan, mulai dari hobi menonton Discovery Channel, membaca buku ensiklopedia tentang hewan, mengkoleksi mainan hewan, memelihara hewan peliharaan, hingga yang namanya berusaha akrab dengan temen-temen gue. Oleh karenanya, di setiap hari ultah dia selalu ngotot pengen banget diajak ke kebun binatang, termasuk ultahnya tahun ini.
Sejak seminggu sebelum hari ultahnya, Udik udah mengeluarkan fatwa bahwa: tidak mengajaknya ke kebun binatang pada ultahnya di tahun ini adalah haram. Nyokap, selaku penanggung jawab serta pemimpin kedua dalam rumah tangga ini mau tidak mau harus menuruti ketetapan dari Udik tersebut.
Menurut gue, alasan kenapa Udik ngotot minta diajak ke kebun binatang di ultah-nya kali ini adalah hal yang wajar. Seinget gue, terakhir kali dia diajak ke kebun binatang adalah 2 tahun yang lalu, tepat di hari ultahnya yang ke-9. Sedangkan pada ultah-nya yang ke-10 kemaren, dia berhasil dibujuk buat gak ke kebun binatang dan sebagai gantinya dia diajak makan di Quick Chicken dan membeli beberapa alat tulis aja.
Karena jalannya searah, hari itu gue ngantar nyokap dan si Udik ke kebun binatang barengan gue berangkat kuliah. Rencananya, gue bakal jemput mereka lagi setelah gue selesai dari kuliah.
Seperti biasa, rencana Slamet’s Tactic pun berusaha dilakukan oleh nyokap sekali lagi. Apalagi mengingat tiket masuk kebun binatang yang naik hingga sebesar Rp. 15.000,- sejak beberapa bulan kemaren. Sebagai menteri ekonomi dalam keluarga gue, mengehemat devisa sebesar Rp.30.000,- adalah sebuah pekerjaan mulia yang dapat menyelamatkan keluarga kita dari kelaparan selama sehari.
Seperti sebelum-sebelumnya yang pernah dilakukan nyokap gue, dalam langkah awal melakukan Slamet’s Tactic adalah menemui satpam penjaga pintu masuk kebun binatang.
“Pak, Pak Slametnya ada, Pak?” kata nyokap gue, saat menemui satpam yang sedang berjaga.
“Pak Slamet?” satpam tersebut terlihat agak kebingungan. “Sebentar..” Dari tampangnya, sepertinya dia satpam yang baru bekerja di sana. Dia lalu menyodorkan sebuah buku “Silahkan isi buku tamu dulu, Bu.”
Si satpam tersebut kemudian pergi ke petugas lain (temannya) yang berdiri gak jauh dari sana untuk bertanya perihal tentang Pak Slamet. Dari kejauhan, samar-samar terdengar suara petugas tersebut “Eh, Pak Slamet?! Siapa yang mencari Pak Slamet?!”
Beberapa saat kemudian, setelah mengisi buku tamu dan nyokap dikasih gelang dengan tulisan ‘Tamu’, nyokap mengikuti satpam pergi menemui penjaga tadi.
Sejak mengisi buku tamu tadi, pikiran nyokap udah khawatir dan was-was. Wajar aja, pertama: sebelum-sebelumnya nyokap gak pernah disuruh mengisi buku tamu saat masuk memakai cara ini, apalagi sampai disuruh memakai gelang khusus. Mengapa peraturan untuk pengunjung dalam kebun binatang berubah? Kedua: suara petugas yang terlihat terkejut saat mendengar ada tamu yang mencari Pak Slamet. Mengapa? Apa sekarang menemui karyawan kebun binatang saat jam kerja dilarang? Atau ada hal lain? Atau aksi yang dilakukan nyokap selama bertahun-tahun telah terndus pihak yang berwajib dan nyokap udah masuk dalam DPO (Daftar Pencarian Orang)? Ya, semoga aja tidak ada hal yang buruk terjadi. Tapi jika hal tersebut memang tejadi dan nyokap akhirnya digrebek petugas kebun binatang di sana, gue harap Udik udah siap dengan taktik ‘melarikan-diri-dengan-mengakui-nyokap-akan-menjual-dirinya-di-kebun-binatang-untuk-ditukarkan-beras’-nya
Setalah sampai ke petugas tadi, satpam tersebut mohon ijin kembali pergi ke tempat dia berjaga semula.
“Ya, Bu. Ada yang bisa dibantu?” kata petugas tersebut.


DEG-DEG!


DEG-DEG!


“Emm.. saya ingin bertemu dengan Pak Slamet.” Kata nyokap singkat.


DEG-DEG!


DEG-DEG!


“Ibu ini siapa?”


DEG-DEG!


DEG-DEG!


“Saya temannya..”


DEG-DEG!


“Oh, ibu belum tahu? Pak Slamet udah nggak ada..”


DEG!!


“Eh?” nyokap shock seketika.


“Iya, Pak Slamet sudah meninggal.” kata petugas tersebut menjelaskan.
Mata nyokap berkaca-kaca seketika mendengarkan hal tersebut. Perasaannya campur aduk. Sulit untuk percaya suara yang baru saja masuk ke telinganya. Benarkah? Benarkah Pak Slamet telah meninggal?


***


Sesaat setelahnya, petugas tersebut mohon diri untuk kembali bertugas dan membiarkan nyokap berjalan-jalan. Sejak mendengar berita tersebut, pikiran nyokap sama sekali gak bisa fokus pada kegiatan jalan-jalan di kebun binatang tersebut, sama sekali bertolak belakang dengan si Udik yang berlarian kesana-kemari dengan ceria melihat hampir semua kandang.
Nyokap kemudian mendatangi stan souvenir tempat dimana biasanya nyokap menemui Pak slamet setiap kali berkunjung ke kebun binatang. Terlihat di sana sudah ada orang lain yang menjaga stan tersebut.
Nyokap kemudian masuk ke dalam stan tersebut dan bertanya perihal berita tentang Pak Slamet.
“Pak Slamet?!” kata lelaki tersebut agak terkejut.
“Iya, Pak.”
“Oh.. mari-mari, silahkan duduk dulu..” Lelaki tersebut kemudian mempersilahkan duduk.
Setelah mereka duduk dengan nyaman, lelaki tersebut kemudian mulai menjelaskan. “Jadi, ibu belum tahu, ya, tentang meninggalnya Pak Slamet?”
“Ya baru tadi, Pak, pas masuk ke sini.” kata nyokap menjelaskan.
“Udah lama Pak slamet meninggal. Ya, kurang lebih dua tahun yang lalu..” kata lelaki itu kemudian.
Eh, dua tahun? Nyokap ngerasa heran. “Kapan, Pak? Saya dua tahun yang lalu juga ke sini. Orangnya masih sehat-sehat kok..”
“Kapan ya? Juga bulan bulan gini kok.”
Berarti sangat besar kemungkinan Pak Slamet meninggalnya gak jauh setelah ke sana sama Udik 2 tahun yang lalu. Tapi waktu itu orangnya keliatan sehat-sehat aja kok.. Kok bisa? pikir nyokap. “Memang meninggalnya kenapa, Pak?”
“Meninggalnya karena sakit jantung. Katanya udah lama orangnya punya sakit jantung.”
“Kok bisa, ya? Padahal waktu itu kelihatan sehat-sehat aja. Sama sekali gak keliatan sakit..”
“Ya itu, Bu. Orang-orang pekerja sini juga baru tahu kalau Pak Slamet punya sakit jantung setelah kejadian itu. Sebelum-sebelumnya gak tahu, dan orangnya juga gak pernah cerita. Katanya, meninggalnya kena serangan jantung tiba-tiba pas waktu jaga di sini. Saya juga gak tahu persisnya, waktu itu saya gak sedang jaga.”
“Kok bisa, ya? Gak nyangka.. padahal dulu sering nongkrong bareng sama saya dan suami saya. Sekarang tiba-tiba gak ada gitu aja..” kata nyokap kemudian.
“Iya, Bu.. umur orang siapa yang tahu.. ” kata lelaki tersebut mengakhiri. “Memang, ke sini ini tadi ada keperluan apa, Bu, kok nyari Pak Slamet?”
“Eng?” Nyokap kebingungan seketika. “Enggak, saya ini tadi ada perlu karena butuh jasa syuting. Kebetulan Pak Slamet kan biasanya juga kerja record video gitu..” kata nyokap berhasil memberi alasan, karena seketika inget pekerjaan Pak Slamet.
“Oh, kebetulan,” kata lelaki itu kemudian, mengambil kartu namanya dan memberikannya ke nyokap. “Saya juga sama, kerja jasa syuting video, Bu. Saya Rudi. Nanti kalau butuh hubungi saya aja. Saya kasih diskon. Hehe..”
“Ohh… iya.” kata nyokap, menjawab seadanya. Tak lama kemudian nyokap akhirnya pamit untuk ngelanjutin jalan-jalannya di kebun binatang.


***
Selama perjalanan pulang setelah menjemput nyokap dan Udik, gue mendengarkan cerita dari nyokap dengan seksama. Betapa, kematian seseorang sama-sakali gak pernah kita duga-duga. Siapa aja bisa dijemput ajalnya tiba-tiba, entah menusia tersebut masih muda, sehat, maupun masih anak-anak. Nyokap juga mereka ulang, kapan Pak Slamet mati. Dua tahun yang lalu, nyokap dan Udik ke sana sehari setelah hari ulang tahun Udik yang jatuh pada tanggal 21 Juni. Minggu-minggu akhir pada bulan Juni. Lalu lelaki tersebut juga bilang kalau Pak Slamet meninggalnya pada bulan Juni. Itu artinya, Pak Slamet meninggal setelah beberapa hari setelah bertemu nyokap dan si Udik. Sedangkan menurut pengakuan nyokap, Pak Slamet waktu terlihat sehat dan tidak menunjukkan gejalan sakit apapun.
Ini masih aja sulit dipercaya. Kematian seseorang memang sulit untuk diprediksi.
Other side, di sisa perjalanan pulang gue sempet bergurau ama nyokap mengenai Slamet’s Tactic, “Wah, berarti sekarang udah gak bisa masuk gratis pake alasan ‘mencari Pak Slamet’ lagi, ya? Hahaha..”
“Gak juga” jawab nyokap.
“Heh?”
“Kan tadi mamak dapet kenalan baru.. namanya Pak Rudi. Ini mamak dikasih kartu namanya.” Kata nyokap menjelaskan. “Jadi, lain kali kita kebun binatang, kita nyarinya Pak Rudi!”
GUBRAAKK!!


“Hahahahahahahaha!!..” gue hampir aja mati ketawa.











4 Responses to "-Pak Slametnya ada??-"

nee.Ya.nia Says :
10 Agustus 2011 21.46

ada-ada aja... hahahhaaha..
ini belum diedit ya? masih ada tulisan yang salah tuh.. liat lg deh prosedur slamet's tactic nomer 3.. :)

emang ya, umur itu gak ada baunya.. tiba2 habis aja...

yonibowo Says :
10 Agustus 2011 23.26

kebacut koen bud..,,


ayo ditunggu yg lain..

friv Says :
22 Agustus 2011 16.11

Thanks for the post. I appreciate the info on blog comments and will surely start looking out for people who are using automated programmes for making blog comment posts.

Posting Komentar