Tampilkan postingan dengan label corat-coret. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label corat-coret. Tampilkan semua postingan

- The Last Word (part 2) -

Author: Unknown // Category:

Lanjutan dari posting: The Last Meeting (part 1)

***

kita belari, menari, berhambur pergi.



“Hoshh.. hoshh..”
Gang kecil berliku. Jalan raya besar berbatu. Gang besar. Sekolah. Anak laki-laki itu terus berlari dengan keseluruhan tenaganya. Rambut kemerahannya berkilauan tercampur keringat dan sinar matahari pagi bulan Mei yang masih hangat. Nafasnya menderu sangat keras. Ia mengambil nafas sangat dalam dan cepat tiap setengah detiknya, dan tak pernah sekeras ini dalam hidupnya. Goresan berdebu di lututnya itu terlihat jelas, hasil dari dua kali terjatuh di belokan gang menuju jalan besar berbatu. Dia terus mengayuh tungkai kakinya, meskipun betisnya sudah terbakar dan kehilangan tenaga. Mungkin jika di saat-saat normal, ketika dia tak seterdesak ini seperti biasanya, dia pasti sudah pingsan sejak lima menit tadi. Atau kemungkinan kedua dan sangat rasional, dia lebih memilih tetap di kamarnya, memikirkan apa yang sebenarnya terjadi, dan segala kemungkinan percabangan kejadian berikutnya yang akan terjadi, sesuai analisisnya. Tidak berlari kesetanan seperti ini, meskipun dia sendiri sangat sadar, dia sangat lemah dalam segala kegiatan yang menggunakan kekuatan fisik. Ya, sekarang perasaannya sudah mengalahkan logikanya. Mengalahkan imannya.
Mungkin masih sempat. Semoga masih sempat.
Matanya semakin berkunang-kunang. Matanya memandang gerbang sekolah dengan tidak jelas, namun kakinya secara refleks berbelok untuk melewatinya. Tubuhnya melesat, pikirannya apalagi.
Sesampai di dalam, larinya segera melambat perlahan hingga akhirnya berhenti. Dia merunduk, menyangga tubuhnya dengan kedua tangan di kedua lututnya. Keringatnya menghujani tubuhnya. Keringat di kedua lengannya terjun turun, merambat perlahan, masuk ke dalam celah di sarung tangan kulit yang ia kenakan.
“Hahh!.. Hahh!..” Dia melihat bayangan badannya sendiri di tanah dengan keringat yang menetes dari rambutnya. Dia kehilangan semua energinya untuk bergerak. “seperti mau mati.”
Dia melihat goresan di lututnya. Otaknya otomatis berfikir, beberapa menit lagi goresan itu akan menimbulkan rasa sakit dan semakin menghambatnya untuk bergerak. Di samping itu, dia memang sedang terburu-buru.
Wajahnya menyeringai, karena sulitnya paru-parunya memisahkan oksigen dari kumpulan udara yang sangat pengap ini. Udara yang pengap di dalam alam sadarnya. Pengap di dalam pikirannya saat ini yang dipenuhi oleh percabangan pertanyaan yang tak terjawab, pengap yang mengotori di semestanya dengan perasaan-perasaan yang tak rasional. Sudah terlambatkah?
Dia berdiri dan melihat sekeliling. Di sebelah kirinya matanya memperlihatkan lorong sekolah sebelah barat. Di sebelah kanan tampak sebaliknya, lorong timur dari sekolah tersebut. Matanya terpaku di sana, lorong sekolah sebelah timur. Dia perlahan menyusuri lorong itu tak sabar mencari ujungnya. Apa lagi, kalau bukan sebuah menara berlonceng.
Menara berlonceng itu adalah satu-satunya penanda waktu untuk pergantian pelajaran di sekolah tersebut. Segala kegiatan dipisahkan secara besar oleh gema benda yang tergantung 4 meter di atas udara yang muncul tiap dua jam tersebut. Bergema sepuluh kali, saat dimulainya pelajaran pertama dan terakhir, dan bergema tiga kali di pergantian pelajaran pertama di tengah-tengah.
Menurut yang dia ketahui, lonceng itu bahkan lebih tua daripada sekolah itu sendiri. Awal mulanya berpuluh-puluh tahun yang lalu lonceng tesebut tergantung di menara di tengah desa ini. Diletakkan di tengah pusat desa, sebagai penanda dan alat pengadu bagi warga kepada kepala desa untuk dikatakannya ketidakadilan, ketimpangan tindakan, keinginan, atau juga hanya sebagai alat pemberi tahu darurat bagi seluruh warga di desa. Berteknis simpel, lonceng tersebut memiliki tali penarik yang menjulur ke bawah untuk bebas digapai siapapun. Saat ada warga desa merasa diperlakukan tidak baik ataupun mengalami masalah dengan tetangganya ataupun hal lainnya, dia hanya perlu datang ke pusat desa, membunyikan lonceng tersebut, maka ketua desa akan datang untuk mendengar dan memberikan solusi serta juga kebijakan-kebijakan untuk mengatasi permasalahan orang tersebut. Hal ini berlangsung bertahun-tahun hingga akhirnya sang ketua desa meninggal dunia. Untuk menghornati sang ketua desa, para warga mengukir kalimat terakhir yang diucapkan oleh ketua desa tersebut di permukaan lonceng, dan menulis segala kebijakan yang pernah diucapkannya di menara loncengnya. Sejak saat itu, lonceng itu tidak digunakan lagi, dan kebijakan-kebijakan yang tertulis akhirnya menjadi hukum tetap yang berlaku di desa ini hingga sekarang.
Gema sebelas suara.. di sela kepadatan semesta kecemasan yang meracuni pikirannya saat ini, dia masih memikirkan tentang arti kalimat yang muncul di puzzle yang kedua. Bagaimana tidak, teka-teki sudah menjadi sarapannya sehari-hari. Dia sudah terbiasa secara mental berhadapan berbagai bentuk dari berbagai macam teka-teki. Mulai dari skala mainan, hingga kasus kejahatan. Bahkan yang lebih ekstrim lagi, dia sejak lama sadar dan mengerti, bahwa dunia dan kehidupan ini sendiri adalah sebuah teka-teki yang super-mega-giga maha besar. Sebuah teka-teki yang penuh berisi motif, kemungkinan, percabangan, penggabungan, serta daya kreasi yang tak terhingga banyaknya. Teka-teki Maha Agung, yang hanya dapat diciptakan oleh Sang Maha Segalanya. Bahkan untuk dapat mengukur seberapa besar sebenarnya teka-teki kehidupan itu sendiri, meskipun tanpa berusaha berhadapan atau menyentuhnya, hanya melalui satu sisi pendekatan ilmu, akan menjadi sebuah teka-teki seumur hidup sendiri bagi seseorang yang jiwa yang terpanggil ke-ilahi-annya untuk mengetahui makna dari kehidupan manusia itu sendiri. Kecepatan umur dan kemampuan berpikir otak manusia akan dibuat berlutut tak berdaya di depan muka daya hidup dari kehidupan yang multi-complex. Kehidupan yang besar, namun sederhana. Kehidupan yang kejam, namun juga paling jujur dan bersahabat. Seorang ahli filsafat-pun, jika ditanya apa sebenarnya kehidupan itu? Dia akan sadar betul bahwa sisa umurnya tak akan cukup untuk menjelaskannya. Dia hanya akan mengatakan segala perumpamaan dan penyimbolan tentang inti dari kehidupan, sesuai perspektif apa yang dialami dan dirasakannya dari kehidupan. Subyektif? Tentu. Relatif? Absolut ya. Yang pada akhirnya mengembalikan si penanya tersebut untuk bertanya pada dirinya sendiri, apa arti kehidupan itu bagi dirinya, yang juga partisipan/ bagian dari kehidupan itu sendiri. Sebuah tanda tanya besar yang dititipkan oleh Sang Daya Hidup dari kehidupan itu sendiri untuk mengalami proses ditemukan. Tapi tidak untuk benar-benar ditemukan. Namun untuk penumbuhan. Yang menuntun pada satu pemberhentian semu untuk pengistirahatan petualangan jiwa manusia; “kehidupan itu maha besar dan penuh misteri”. Bagaimana dan mengapa pikiran kita mampu mempertanyakan tentang eksistensi dari kehidupan, ataupun mempertanyakan pikiran itu sendiri, merupakan suatu teka-teki tersendiri kan? Telah sejak lama sekali, semesta pikiran kita sanggup mempertanyakan dirinya sendiri.
Tak salah lagi, lonceng ini. Seperti waktu itu. Secara mudah, dia dapat mengasumsikan kata ‘gema’ tersebut adalah tentang lonceng sekolah ini. Benda dengan diameter satu setengah meter, berkilau kekuningan, logam, dan sensitif terhadap getaran. Berpuluh-puluh menit lalu ketika ia memikirkan arti kalimat ini di dalam kamarnya, dia mengalami kebuntuan. Entah apa yang terjadi pada dirinya, namun ia membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menyadari bahwa itu ada sebuah lonceng. Tapi ketika dia memikirkannya lebih lanjut dengan menghubungkan dengan kalimat selanjutnya; ‘sebelas suara’, dia kembali ragu. Ada dua kata kunci; sebelas dan suara. Jika dihubungkan dengan informasi yang ia ketahui, lonceng ini hanya dibunyikan sepuluh kali ketika di awal pelajaran dan juga di akhir pelajaran, bukannya sebelas. Seharusnya, sepuluh. Kenapa sebelas? Dia masih memutar-mutar dan merombak segala kemungkinan. Secara teknis, jika sebuah puzzle tak dapat dipecahkan dengan suatu teknik mekanikal, maka ada kemungkinan dapat dipecahkan secara motif. Dia berpikir tentang apa maksud dibuatnya kalimat ini. Dia berusaha menggabungkan dengan kalimat di puzzle awal: ‘last meet sayonara’. Jika kalimat tersebut memiliki maksud waktu, yaitu ketika lonceng di sekolah ini berbunyi sebelas kali, apakah mungkin maksudnya dia ingin bertemu untuk terakhir kalinya di waktu itu? Jika memang benar, kapan ‘waktu’ itu? Jika ternyata bukan, lalu apa maksudnya?  Ah, sudahlah..
Ia sampai di dekat menara lonceng. Langkah kakinya perlahan membawa dirinya semakin mendekat. Nafasnya masih saja berat.
Ia mendapati seorang lelaki tua dengan baju Tuxedo rapih lengkap sambil membawa jam saku keemasan berdiri di samping menara, tertutupi bayangan pohon besar di sampingnya. Orang tua, yang berperan ganda bagi seorang gadis yang dicarinya saat ini. Selain sebagai supir pribadi, dia juga berperan sebagai saudara, sahabat, ayah, dan juga tanpa terkecuali ibu. Hanya orang tua itu, satu-satunya anggota keluarga yang masih dimiliki gadis itu hingga saat ini. Dia hanya melihatnya beberapa kali ketika dia berkunjung ke rumah gadis itu. Orang tua, yang hingga sekarang tak ia ketahui nama aslinya tersebut, berkali-kali melihat jam yang digenggam di tangan kanannya. Ia tahu, jika orang tua itu berada di sini, berarti gadis itu juga.
Begitu melihat dirinya, secara refleks orang tua tersebut membungkuk untuk memberi salam padanya, “Tuan Key,”
“Di mana?” tanyanya cepat. Ia bahkan tak punya banyak waktu untuk pertanyaan dengan kalimat lengkap.
Orang tua itu mendongak, mengarah ke atas. Tepat ke arah lonceng.
Tentu saja.

***

Langit berwarna kebiruan cerah. Beberapa awan seputih kapas bergerak semu dengan sangat pelan, memberi ornamen, menemani langit biru yang sepertinya kesepian. Angin berhembus lembut, membawa udara hangat ke segala arah, membisikkan kedamaian yang tak dapat disangkal makhluk hidup manapun.
“Kau terlambat, Keane.” suara yang begitu dia kenal itu seketika muncul dari arah yang ia duga. Hanya saja yang ia dengar kali ini lebih datar. Suara itu terasa agak kecil dan jauh, terhalangi angin pagi tipis yang berhembus. Dia masih terus memandangi atap menara itu. Masih tak dapat melihat sosok gadis itu. Cukup lama.
Laki-laki itu masih diam. Tak segera menjawab pertanyaan itu. Lama, seperti ada jeda kosong yang menghalangi suaranya untuk menjawabnya. Seperti mereka berdua berada di dua dimensi yang berbeda. Berkebalikan dari suasana kekosongan yang sangat kompleks ini, pikirannya saat ini sangat pekat, dipenuhi banyak hal yang datang silih berganti tak teratur, acak, dan memproses semuanya secara bersamaan.
Cukup lama, hingga akhirnya, “terlambat, untuk apa?” 
Terdengar suara itu mengambang di udara. Canggung, penuh keraguan yang tak teratasi.
Udara kembali beku. Dialog singkat yang seolah terjadi selama seribu tahun.
“Di sini damai, ya..” suara itu melembut, tak sedingin di awal. Keane yang kukenal tak pernah terlambat.
“Claire..”
“Aku seperti ingin selamanya di sini. Menikmati angin ini, langit ini, dan terlebih lagi,” ada jeda singkat di kalimatnya. “kebebasan ini.”
Key melihat ke atas. Langit biru yang menaungi mereka. Ikut menyelami kedamaian. Beberapa saat ia ikut tersedot, hingga ia kembali sadar; ada sesuatu yang harus diselesaikan. Dipastikan.
“Benarkah, itu, Claire?” tanya Key, akhirnya. Ia mengambil nafas panjang. “Ini adalah sebuah perpisahan?”
“Tapi setiap kebebasan ada batasnya. Tak pernah ada yang namanya kebebasan kekal.” Gadis itu lebih seperti bicara pada dirinya sendiri, seperti tak peduli ada yang mengajaknya bicara saat ini.
“Claire..” sekali lagi kalimat itu terulang. “benarkah?”
“Sudahkah kau memecahkannya?” gadis itu tak mau membuang waktu lagi. Ia seperti bermain-main dengan butiran pasir sang dewa waktu. Berubah mode.
“Hanya yang pertama, yang kuketahui maksudnya,” Key masih tak bisa lepas dari kecanggungan. “Claire, benarkah?”
Dia sama sekali tidak dapat bersikap biasa. Seperti bukan Key yang biasanya. “Benarkah, aku tidak akan dapat melihatmu lagi?”
“Dan yang kedua, kau masih tak mengetahui maksudnya?” jawab See, masih lembut. Masih menyembunyikan sosoknya di balik atap menara. “Kau masih tak mengerti tentang ‘gema sebelas suara’? Benar?”
Bagaimana dia bisa.. Key hanya terdiam. Pikirannya hanya sesaat memikirkan itu, karena dalam sekejap pikirannya kembali kusut oleh pekatnya informasi yang dipikirkan otaknya saat ini.
“Kau, datang ke sini.. karena instingmu?”
“Ya..” jawaban itu muncul setelah jeda panjang.
“Jika kau memang tak mengeti artinya, mengapa kau tak naik saja ke atas sini, bersamaku? Menikmati langit ini?”
Masih terdapat kekosongan. Tak ada jawaban.
“Dari sini langit biru-nya terlihat sangat jelas lho!.. Anginnya juga terasa sangat sejuk..”
“Ah, tapi percuma,” Kalimat itu cepat. “kau hari ini tertutup awan, Keane. Tak terlihat.”
Hening. Kesekian kalinya
Cukup lama.
“Kenapa kau kemari, Keane? Kau bahkan tak tahu arti dari perjalananmu kemari. Kau tidak seperti yang biasanya..” suara itu mulai mengalir. “Berlari-lari kemari, tanpa tahu makna.. tanpa tahu tujuan.. tanpa ada persiapan dan rencana..”
“Claire, berhentilah bermain-main! Berhentilah ber-teka-teki!” Key meledak. “CLAIRE, APA YANG SALAH DENGANMU?!”
Bisu.
“Jawablah pertanyaanku! Turunlah, kita bicara!”
“Salah? Denganku?” suara See tiba-tiba bergetar. “justru tanyakan itu pada dirimu sendiri! Kau datang kemari dengan berlari tergopoh-gopoh, membabi buta! Hingga lututmu terluka begitu! Kau kehilangan akal sehatmu?! Kau tak pernah baik dalam berlari! Kau yang paling tahu itu..”
Lagi-lagi.. dia tahu tentang itu? Bagaimana bisa? Keheranan yang sama terulang untuk kesekian kalinya. Dia menatap jelas ke atas atap. See tak mengintip dirinya. Belum. Dia sekejab kemudian kembali tersesat dalam kebimbangan. Mesin waktu? Seperti waktu itu? Ah, itu tak pernah ada! Key membuyarkan percabangan pikirannya, mencoba kembali fokus.
See hening sejenak, mengatur kembali nafasnya yang tersengal. Dia mengusap air yang menetes di pipinya. Memakai topi jeraminya, melesakkan jauh ke wajahnya. “Kau, seharusnya menanyakan, apa yang salah dengan dirimu. Datang kemari tanpa bisa menyelesaikan semua puzzle, datang kemari dengan keadaan diri yang kacau, ceroboh dan tak tenang seperti itu.”
“Kau yang biasanya selalu tenang dalam memikirkan segala hal. Selalu terorganisir rapih. Selalu terarah, fokus, dan..” dia menghela. “terlihat ‘sempurna’.”
“Seharusnya kau tanya dirimu sendiri..” suara itu melega. Lebih ke meledak.
Key merunduk. Pikirannya sekarang mulai kembali ke jalannya. Lebih tenang. Banyak dari kecemasan-kecemasan itu mulai memudar. Berganti dengan perasaan haru biru yang mengalir lembut. Perasaannya mulai menyatu dengan semesta di sekitarnya. Setenang angin yang bernafas di sekitarnya. Setenang langit biru yang mengawasi di atasnya.
“Ya, kau benar. Pertanyaan itu untuk diriku sendiri. Seharusnya begitu. Selayaknya begitu.” dalam sekejab matanya lembab. “Aku dikacaukan pikiranku.”
“Aku dikacaukan perasaanku. Akal sehatku kalah.” Suaranya melemah. “Imanku mengalah.”
Key merasa ingin melanjutkan kalimatnya, menyelesaikannya. Tapi dia seperti merasa cukup. Cukup selesai.
Gerak semu langit seolah melambat. Hampir berhenti. Angin berhenti bernafas.  Menghentikan tugasnya. Dunia seakan bekerja. Seolah semua detik jam di seluruh dunia berhenti berdetak. Seolah semua angka di dunia berhenti menjumlah. Seolah semua makhluk hidup menghentikan detak kehidupannya, mem-pause semua proses metabolisme-nya.
Seolah seluruh alam menghenti untuk melihat mereka berdua.
“Keane,” nadanya kembali normal. “bukannya dulu kau yang pernah bilang, kita tak boleh kalah oleh perasaan kita? Kita harus mendahulukan logika kita? Akal sehat kita? Kita harus mendahulukan kebenaran, bukannya perasaan kita, yang mungkin saja terlalu berpihak? Yang mungkin saja salah?”
“Ya” suara itu hampir tak terdengar.
“Lalu, kenapa denganmu sekarang? Apa yang salah?” See semakin membenamkan topinya ke wajahnya. Menutupi mimik wajahnya. Entah apa kata Key jika dia melihat ekspresi wajahnya sekarang. Ekspresi yang muncul tiap gadis itu menghawatirkan keadaannya. Dia selalu berusaha tampil kuat di hadapan laki-laki itu. Terlebih untuk hari ini. Saat ini.
“Salah?” Key masih merundukkan wajahnya. Menggali-gali informasi dalam pikirannya. Hidup, mungkin iya.
Pikirannya masih berjalan sangat acak. Ia menggali segala faktor yang ia duga menjadi segala kecemasanya, segala pertanyaannya. Segala hal yang masih belum ia mengerti tentang kehidupan ini. Perasaan apa ini?
See masih membuka mulutnya, ingin memberendel dengan ribuan pertanyaan lagi. Tapi dalam sekejab ia sadar, tak ada lagi yang perlu ia tanyakan. Cukup, pikirnya. Ia tak ingin membuang-buang tenaga untuk sesuatu yang tak perlu hasil. Iya juga merasa sudah cukup.
Ia kembali mengusap cairan yang mengalir di pipinya. Dalam sekejab pikirannya tersedot acak tapi terarah, dalam kecepatan cahaya sampai pada ingatan ketika mereka duduk berdua suatu sore di lapangan tengah sekolah. Seperti kebiasaan mereka berdua yang hampir selalu mereka lakukan tiap sore: menikmati matahari terbenam.
…….
“Tapi ngomong-ngomong.. Keane, apa kau percaya pada takdir?”
“Takdir?” Key tersenyum. Dia tampak santai, tak berusaha membenarkan posenya yang sekarang. Siku tangannya masih bersandar di anak tangga kecil, tempat empat buah anak tangga beundak kecil yang menghubung antara lorong sekolah dengan lapangan berumput di tempat mereka. Seperti biasa, mereka duduk berdua menikmati terbenamnya matahari bersama di sore hari.“Maksudmu kepercayaan bahwa segala hal yang terjadi atau proses di dunia ini sejak awal telah diatur oleh Sang Maha Hidup, atau yang biasa mereka sebut Tuhan?”
See hanya mengangguk kecil, hanya memandangi wajah sosok didepannya yang kejinggaan terkena pembauran cahaya dari sang surya.
“Kalau kau sendiri?” Key kembali bertanya, seolah sedikit enggan menjawab.
“Emm.. Entahlah.. Aku cuma ingin tahu pendapatmu saja. Aku selalu penasaran dengan konsep takdir itu.”
“Ada yang sedang menjadi pikiranmu?”
“Emm.. tidak juga.. hanya tiba-tiba terlintas saja. Tiba-tiba pertanyaan tentang takdir itu muncul kembali tadi, beberapa detik lalu.”
“Huffhh.. ” Key mengambil nafas panjang, bersiap tentang teori panjangnya. “Oke.” See pun menatap dirinya lekat-lekat, sebagai konsekuensi pertanyaannya.
“Pertama-tama, teori ini tidak begitu menjadi perhatianku. Kenapa? Karena tidak dapat dibuktikan. Jadi hal yang akan menjadi penjelasannya hanya sejauh analisa-analisa dari teori dari hasil pendekatan masing-masing individu para ilmuan dan ahli filsafat yang berusaha memahaminya.” Key memberi dasar, sebagai salam pembukanya. “Selalu ada dua teori bertentangan yang abadi hingga saat ini. Yang pertama, adalah; semua makhluk hidup di dunia ini… emm.. atau mungkin kita persempit saja, yaitu: manusia, benar-benar memiliki hak penuh kendali atas dirinya. Atas kekuatannya merubah dan berinteraksi dengan objek di lingkungannya, sekitarnya. Yang intinya: manusia bebas bertindak apapun sesuai kehendaknya, tanpa terikat oleh hal lain yang mengontrolnya. Manusia memiliki kendali dan tanggung jawab penuh atas tindakannya.”
Dia berjeda. “Lalu, teori kedua: semua makhluk, tanpa terkecuali, memiliki garis takdir yang dipersiapkan untuk tiap dirinya jauh sebelum mereka terlahir nyata eksistensinya di dunia ini. Jauh sebelum ia memiliki pikiran ataupun bertindak. Takdir ini mengatur segala hal yang terjadi pada objek makhluk itu, sehingga apapun yang terjadi atau dilakukan makhluk itu telah ditentukan sejak awal oleh takdir. Intinya: segala hal yang dilakukan manusia sejak awal telah ditentukan oleh takdir yang ditulis Tuhan. Meskipun manusia bebas berkehendak dan berusaha, sejak awal hal itu telah dituliskan, dan telah menjadi rencana dari Sang Maha Hidup tersebut. Semuanya telah terkonsep. Seperti skenario dalam panggung sandiwara, dengan Tuhan sebagai dalangnya. Kebebasan manusia sebenarnya adalah semu. Ilusi.”
See masih setia mendengarkan. “Aku suka simulasi sederhana dengan ‘Pohon Apel’ ciptaanku. Here is the case. Ada pohon apel yang tumbuh liar di alam luar. Pohon itu terus tumbuh dan berbuah. Dan ada dua manusia yang mengamatinya. Pada manusia yang berpaham teori satu, kita sebut dia sebagai: Manusia 1, dia berpendapat bahwa tumbuhnya buah apel tersebut adalah sebuah kebetulan. Accident. Sesuatu yang tidak direncanakan. Mungkin saja ada manusia yang membuang sisa buah apel yang telah dimakannya di sekitar tempatnya tumbuh, lalu tumbuhan apel itu tumbuh. Atau ada kemungkinan lain, tak jauh dari sana ada juga pohon apel lain, apelnya jatuh di tanah, dimakan hewan, lalu bijinya jatuh di sekitar tempat tumbuhnya sekarang. Apapun kemungkinannya itu. Biji apel itu dapat tumbuh, karena lingkungan sekitarnya memungkinkannya tumbuh. Memungkinkan terjadinya proses hingga tercipta kehidupan.
Seperti yang dapat kita duga bersama, teman satunya, Manusia 2 berpendapat bahwa segala analisis yang dikatakan Manusia 1, apapun kemungkinannya itu, semuanya semuanya telah tertulis. Adalah takdir. Memang sejak awal apel itu ditakdirkan tumbuh, digariskan untuk tumbuh, dan kita tak dapat mengubahnya, mengendalikannya untuk dapat mengalami hal selain itu. Dia mempercayai, bahwa jauh sebelum apel itu tumbuh, bahkan jauh sebelum pohon asal dari buah dari biji apel itu tumbuh, jauh sebelum apapun terjadi, tanaman apel ini memang telah direncanakan tumbuh di tempatnya yang sekarang.
Manusia 1 tak percaya dengan teori manusia 2 dengan mengatakan “Itu tak benar. Kita, makhluk hidup, dapat bertindak dan merubah kondisi, bagaimana bisa semuanya memang telah diatur sejak awal?”. Dia lalu mengambil air dan menyiramkannya ke tanaman apel itu. “Lihat, aku dapat menyiraminya dengan air. Sekarang dia akan hidup lebih baik. Jika sekarang aku memberinya pupuk, nanti dia akan berbuah lebih banyak. Bahkan jika aku mau, aku dapat memotong tanaman ini sekarang dan dia akan mati. Kita, manusia, dapat melakukan apapun untuk merubah hal. Kita mempunyai hak kuasa untuk memilih!”
Kembali lagi, seperti yang terduga, Manusia 2 berkata,“Semuanya yang terjadi sekarang ini, memang telah diatur sejak awal. Kau menyiram tanaman itu barusan, sudah direncanakan. Dan tak ada yang bisa mencegah dirimu, jika kau memang ditakdirkan untuk menyiram tanaman itu. Dan apa yang akan terjadi dengan tanaman itu di masa depan, semuanya telah ditakdirkan. Apapun itu. Bahkan kita memperdebatkan semua hal tentang tanaman apel itu sekarang, sejak awal memang harus terjadi.””
“Kau tahu apa yang terjadi dengan mereka berdua?” Key menutup penjelasannya, merasa tak ada lagi yang perlu dijelaskan.
“Mereka kembali ke jalan masing-masing?”
“Yuph! Mereka kembali ke jalan masing-masing, meyakini apa yang mereka yakini sejak awal.” Terdapat senyum kecil di bibirnya. “Mereka sadar, terus berdebat tak menghasilkan apa-apa. Malah mereka hanya terus membuang waktu dengan berusaha membuat orang lain percaya apa yang mereka percayai, bukannya menjalani hidup sesuai yang mereka percayai.”
See mengangguk pelan. Ikut tersenyum. “Aku mengerti. Benar, lebih baik pilih salah satu, lalu menerapkannya dalam hidup kita. Daripada memperdebatkan siapa yang benar dan salah.” Dia lalu membuat kesimpulan lagi. “Mungkin saja, salah satu dari mereka benar, tapi terus memperdebatkannya adalah jelas-jelas salah.”
“Genius! You got it!” Key menepuk pundak See.
“Jelaslah!.. siapa dulu, dong, gurunya!.. hahaha..” See tertawa lepas. Sejenak, dia kembali. “jadi, apakah aku bertanya hal barusan itu, hal yang salah?”
Key menggeleng. “Tentu saja tidak. Tak pernah ada yang salah dari sebuah pertanyaan, yang bersumber dari ketidak-tahuan.”
“Bagaimana kalau ternyata, aku sebenarnya sudah tahu tentang hal itu sebelumnya?” See menyimpul senyum kecil. “Bagaimana kalau sebenarnya aku hanya ingin tahu apa pikiranmu?”
Cukup lama.
Ruang di antara mereka berjalan melambat.
Key memutuskan untuk mengatakannya. “Ya, aku sudah mengetahuinya.”
“Kau kira aku siapa-mu? Kau kira kau siapa-ku? Tentu aku tahu.” Dia memandang mata See cukup dalam. Tak pernah seserius ini. “Tentu aku tahu, bahwa kamu sebenarnya telah mengetahuinya. Sama seperti: tentu kamu juga sebenarnya telah tahu, bahwa aku juga mengetahuinya bahwa kamu sebenarnya telah mengetahuinya. Benarkan?”
Memangnya, aku siapa-mu, Keane? Boleh aku mendengarnya? Sudah lama aku ingin tahu.. Ah, bodoh kau, See! Bodoh! Bodoh! Bodoh! Bodoh! Bukan itu inti penjelasannya! Tapi, sama-sama tahu, bahwa kalian saling sama-sama tahu! Itu intinya! Hal ini akan kadaluarsa dalam 0,75 detik lagi! Pikiran See berkecambuk, tapi sigap dalam satu setengah detik kemudian. Menutupinya lagi dengan senyum kecil. “Benar! Genius!”
Seperti  biasa, See. Kau kembali menyesal.. Dan seperti biasa juga, kesempatan itu terlewatkan lagi.. “Tapi, ngomong-ngomong, Keane, dirimu manusia yang mana?”
“Hmm..” Mata Key berputar. “Aku belum memutuskannya. Tapi aku menikmati dialog kita ini. Setdaknya aku meyakini itu.”
See melihat senyum kebahagiaan itu, lalu ikut tersenyum. “iya.. aku juga menikmatinya!.. Kita selalu cocok dan klop! Kita selalu mengalir ke tiap-tiap tujuan kita masing-masing, tapi bermuara ke tempat yang sama dan selalu bersama-sama. Seperti semuanya telah diatur..”
“Hmm… Aku tahu sekarang, dirimu itu manusia yang mana..” Key dalam sekejab menyeringai tajam.
“Hahahahahaha..” See tertawa lepas. Selepas-lepasnya, karena tak ada kata-kata untuk meng-cover pernyataan itu. Tapi dia berusaha. “Ya, kau benar, aku percaya bahwa semuanya ada yang mengatur. Tapi aku tak percaya takdir.” Jelasnya singkat.
Key tak bergeming. Seolah tak memperdulikan.
See sadar, tak perlu ada pertanyaan-pertanyaan seperti ini untuk mereka. Mereka telah menikmati perasaan ini, perasaan bersama-sama. Tak perlu harus selalu sama, selalu sependapat. Bahkan sering bertentangan dan bertengkar di banyak kesempatan. Tapi mereka berdua sadar, ini semua.. cukup. Cukup, tak perlu ke mana-mana lagi. Dia, mereka, menikmati kebersamaan ini yang sesederhana ini.
Tapi terkadang, hati berbicara, cukup saja tidaklah cukup.

“Oh ya, bagaimana kalau dengan jodoh? Apakah sama?” See memancing lagi.
“Sudahlah, ini hanya akan berujung pada perdebatan saja. Sama saja.” Key seolah benar-benar enggan membahas tentang teori tak berujung ini lagi.
“Huh.. aku kan masih penasaran untuk yang satu ini. Kelihatannya beda deh..” See memasang wajah semanis mungkin.
Key melirik sambil mendengus.
“Ya.. please…” kali ini ditambah kedipan mata beberapa kali.
“Oke, maksudnya jodoh, itu apa?”
Yes! See meloncat salto tujuh kali dalam hati.
“Emm..” See memutar matanya. Dia mencari kalimat termudah. “Oh! Gini: Sederhananya, jodoh adalah seseorang yang telah ditakdirkan atau ditentukan sejak awal untuk menjadi pasangan hidup kita!” See tersenyum lebar, sangat puas dengan kalimatnya. Sederhana, tapi mengena. Tak banyak, tapi mewakili.
“Kau percaya dengan teori jodoh itu?” Key singkat.
“Percaya..” lalu kemudian See membelalakkan matanya, merasa tertipu. “Hey, curang!”
“Kenapa kau percaya?”
See lega, ternyata ini berlanjut. “Percaya saja. Gak bisa dijelaskan..”
“Hmm.. oke, pertanyaanku salah. Aku ganti. Bagaimana kau tahu kalau orang itu adalah jodohmu?”
JLEB! Pertanyaan yang sangat mengena. Tepat menembus jantung. Kalaupun dia mempunyai lima jantung sekarang, kelima-limanya tepat sasaran menembusnya. See memeras otak seketika. Lama, hingga beberapa saat kemudian, “aku sendiri tak yakin. Tapi mungkin ketika aku bersamanya aku merasa nyaman, merasa terlengkapi, merasa, “He is the One!”. Begitu?”
“Jika yang kau maksud Jodoh adalah ikatan takdir yang mengikat dua orang, untuk bersamanya selamanya, pertanyaannya akan kembali lagi, hal yang paling dasar: bagaimana kita tahu kalau orang itu jodoh kita? Orang yang bersama kita, bisa sewaktu-waktu pergi meninggalkan atau menghianati kita. Orang yang telah menikah bertahun-tahun-pun, bagaimana bisa tahu kalau pasangannya itu adalah jodohnya? Dua orang, bersama-sama, saling mencintai, lalu mereka saling berkata ke pasangannya: “kaulah jodohku yang telah dipersiapkan Tuhan untukku..”. Lalu beberapa saat kemudian mereka menghadapi masalah dan ternyata berpisah. Lalu mereka berkata lagi, “Mungkin, bukan kau jodoh yang dipersiapkan untukku.. Mungkin ada orang lain yang lebih baik yang telah dipersiapkan Tuhan, untuk masing-masing dari kita.” Mereka menarik perkataan mereka sendiri. Merevisi-nya sendiri.”
“Lihat kan? Manusia adalah makhluk egois. Mempunyai sifat membenarkan perasaannya sendiri. Ketika menemukan orang yang tepat: orang cocok yang mereka cintai dan juga mencintai diri mereka balik dengan utuh, dan ketika segala hal ketika itu cocok dan mendukung, seperti kondisi lingkungan, suasana, atmosfir, seperti seolah alam semesta mendukung mereka untuk terus bersama ketika saat, mereka dengan egois ber-statement: “kau adalah jodohku”. Ketika kondisi menjadi sulit untuk bersama, mereka ber-statement: “mungkin bukan kau jodohku”. Ketika kondisi berubah lagi, hingga paling fatal, mereka berpisah, mereka ber-statement lagi: “Jika memang bukan jodoh, tidak dapat dipaksakan”. Lalu apa poin yang tersisa dari pengertian ‘jodoh yang telah ditentukan?’. Hanya ilusi yang mereka buat sendiri untuk menghibur hati mereka sendiri. Bahkan keyakinan mereka tentang ‘orang yang tepat’, juga diragukan. Memang, orang itu harus se-‘tepat’ apa? Sedetil apa? Sesempurna apa? Tepat itu relatif. Kita mentoleransi standar ‘tepat’ kita sendiri, ketika kita jatuh cinta pada seseorang.”
Keane memberikan pungkasan penutupnya. “Segala hal di dunia, sebenarnya relatif. Apapun itu. Manusia hanya memberi batasan-batasan dan persentasi toleransi, untuk pengkategorian absolut.”
See merunduk, tak sanggup memperlihatkan wajahnya. “Jadi, intinya, kau tak pernah percaya dengan jodoh?”
“Kita dapat dipertemukan dan dipisahkan oleh segala hal secara acak. Universe Conspiration, tak selalu sama dengan rencana kita.”
“Kenapa kau begitu pesimistis? Skeptis?”
“Bukan, Realistis.”
“Pernahkah kau berharap kebaikan? Entah itu pada seseorang, atau sesuatu? Berharap segala sesuatu berjalan sesuai dengan yang kau harapkan?”
“Maksudmu, berusaha mempertahankan agar sesuatu berjalan sesuai keinginanku?” Key mengklarifikasi.
“Bukan, bukan berusaha. Tapi lebih ke: percaya dalam hati bahwa segalanya akan baik-baik saja.”
Keane menutup matanya, merenung sejenak. Tiga tarikan nafas. “Maaf, aku bukan penjudi.”
Satu kalimat tersebut menjelaskan segalanya.
“Kau pasti pernah kehilangan seseorang, benar kan?” See sedikit memberi tekanan pada kata ‘kehilangan’.
Key membuka matanya. Tak ada jawaban. Hanya nafas.
“Sama sepertiku.” See menutup pertanyaan itu sendiri. Menjawabkan kalimat itu untuk mereka berdua.
Key membuka mulutnya. Seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi tak ada yang keluar. Dia hanya ikut merunduk.
Langit semakin terlihat seperti kumpulan ribuan jeruk yang bersinar menyala. Angkasa seperti berkata bahwa panggung untuk hari ini segera berakhir. Harapan untuk hari ini akan disambung untuk esok hari.
“Sudah sore,” See beranjak dari tempat duduknya. “ada yang harus kukerjakan.”
Tiba-tiba tangan See terantai sebentuk genggaman. Tangan Key. “Jangan pergi dulu.” Nafas itu kembali meragu. “Setidaknya hingga hatimu tenang.”
See memandangi Key. Dua mata itu bertemu dan berpeualang sejenak. “Tidak. Aku tidak apa-apa, Key. Memang ada yang harus kukerjakan.”
“Tunggu aku. Tetaplah di sini sebentar lagi..”
Ruang kosong.
“Sebentar lagi matahari itu tenggelam. Kita ditakdirkan duduk di sini dan menikmati senja bersam-sama.. aku tak ingin takdir kita terputus sampai di sini. Aku berharap genggaman ini sanggup memperpanjangnya. Beberapa menit?”
Mata mereka kembali berpetualang. Mereka berdua tahu, tak pernah ada kebohongan.
“Dua menit tujuh detik lagi, Key.” Akhirnya terbingkai senyum lagi di wajah See. Dia kembali duduk di tempatnya semula. Tak bergeser sedikitpun. “Oke, aku akan menunggumu. Menemanimu hingga tiga menit lagi, hingga satu menit setelah matahari itu tenggelam.”
“Terima kasih. Itu cukup.”
“Aku berharap, kita dapat selalu saling menunggu seperti ini.”
“Giliran berikutnya, apapun itu, aku yang akan menunggumu.”
“Terima kasih..” Tentu saja kau sungguh mampu. Aku sekarang mencair!.. Sangat! Sangat Mencair!..
“Oh ya, kau tadi bilang ‘takdir’, ya?”
“Kau tak salah dengar.”
“Lalu, sebenarnya kau ini manusia tipe mana, sih?” Jengkelnya terhadap anak laki-laki ini kembali lagi sampai ke ubun-ubun. Seolah semua yang dia terangkan tentang teori takdir di awal hanya sebuah lelucon besar.
“Aku… emm.. Hybrid.
“Hmm, Hybrid? Maksudnya?!”
“Eh, sudah mulai!..” Key menunjuk ke arah pertunjukkan utama.
“Hei, jawab dulu pertanyaanku!..”


***

“Kenapa?” kalimat itu terlahir selayaknya lubang hitam oksigen. Menyerap tanpa henti semua oksigen di sekitarnya, hingga tercekat dan hampir mustahil bernafas. Setiap kalimat antara mereka berdua saat ini semuanya menjelma menjadi lubang hitam oksigen tanpa terkecuali. Membuat bernafas menjadi pilihan yang buruk untuk makhluk hidup di sekitarnya saat ini, namun memilih untuk tidak bernafas tetaplah sebuah pilihan terburuk.
“Key, kau sendiri yang pernah bilang kan? “jangan pernah menggabungkan ingatan baik atau buruk dengan perasaan. Karena itu akan meng-hiperbola, menjelma membesar, mengangkasa, menjadi jauh lebih besar dari kejadian yang sebenarnya.”. katamu lagi, “bersikaplah adil kepada ingatanmu, agar tetap objektif.”” See mengatakan kalimat itu dengan segenap tenaganya. See hampir tak percaya, dia sekarang yang harus mengembalikan kalimat itu kepada sang pemberi. Sebuah ide yang mereka yakini berdua: ‘ingatan selalu menipu, ketika itu tercampuri oleh sebuah perasaan.’ Ingatan manis, setelah beberapa waktu akan berevolusi menjadi sangat-sangat-sangat manis daripada kejadian manis yang sesungguhnya, karena seiring bertambahnya waktu, kita terus menerus menambahkan rasa ‘manis’ itu ke ingatan kita. Begitu pula itu berlaku untuk kenangan buruk. Oleh karena itu, mengingat kembali kenangan manis selalu lebih indah daripada mengalami kembali kejadian manis yang sesungguhnya. Mengingat kenangan buruk, selalu lebih ‘membunuh’ daripada kejadian buruk itu sendiri. Ingatan menjadi tak akurat lagi datanya, karena ia merubah bentuk, warna, ukuran, suhu, dan suasana. Oleh karena itu, di dalam persidangan kesaksian dari saksi mata tidak dapat dijadikan barang bukti. “Kau sekarang tidak objektif.”
“Kenapa kau harus pergi?”
“Aku tak boleh mengatakannya” See jengah. Dia beranjak dari tempatnya bersarang selama dua jam lebih itu. Hela nafas panjang. “Jika kau tak mau naik, aku yang harus turun.”
See berdiri selama beberapa detik, untuk menguatkan kakinya lagi setelah duduk sekian lama. Dia berjalan mendekati salah satu ranting pohon terdekat dan menelusurinya perlahan ke bawah.
Sedetik ketika kedua kaki See menginjak tanah, Key dengan kecepatan kilat menyeret tangannya. Mengajaknya berlari tanpa berkata-kata.
“Hey, Keane! Kemana kita?!” See otomatis berteriak. Badannya tergoncang, dan kakinya tertatih mengikuti lari kaki Keane. Dalam pikirannya sekarang begitu terkejut, panik, dan sedikit takut. Hal ini terjadi di luar dugaannya.
Key hanya memandang lurus ke depan, tak menjawab. Hanya terus memperkuat gengaman tangannya dan lari kakinya. Dan nafasnya, tentu saja.
Laki-laki tua yang sejak tadi menunggunya pun tak kalah terkejut. “Nona, kita harus segera berangkat!” ia menambah teriakannya untuk memastikan. “Segera!”
“Tenang,” nafas See terengah. “aku segera kembali!” lalu pandangan See berubah ikut serius fokus ke depan, bersiap apa yang akan dihadapinya di depan. Ini takkan lama, aku berjanji.


***

Langit malam di awal bulan Mei begitu cemerlang. Dijejaki butiran-butiran bintang besar dan kecil. Yang terakhir lebih sering tak terlihat karena kabut dan juga awan tipis yang menyelimuti sang angkasa di waktu. Lampu-lampu di pedesaan yang mulai banyak juga sedikit banyak ikut memberikan ilusi ‘menghilang’. Bulan baru juga ikut menemani. Menambah ekstensi kenapa semua suka menikmati langit dan bintang di malam hari.
Bipp.. Bipp..
Dua getaran. Sebuah pesan. Dia merogoh saku jaketnya. Dia menutup blocknote yang berisi tulisan tangan yang baru ditulisnya beserta pensilnya itu di kantong jaket lainnya. Dia membuka isi pesan yang ter-display di layar telepon selulernya yang berwarna biru itu.


Lonceng di kalung kucing .Sekolah. ingat? Sekarang bertambah dua! aku menemukannya tadi sore bertambah menjadi dua! kira-kira siapa yang menambahkanya ya?


Gadis itu tersenyum, lalu membalasnya cepat.


Coba tebak?! :P *bersiul*


Dia menekan tombol ‘kirim’. Lalu bergegas pergi.

……
………..

“Keane!” gadis itu melambaikan tangan pada bayangan hitam di bawah menara.
Sosok itu muncul dari bayangan. Wajahnya sekarang tampak jelas. “Password?”
The secret of creativity is knowing how to hide your sources!” memang tak pernah ada yang menjawabnya secepat dan sesemangat See. Dia kembali bertanya. “Password?”
The whole of science is nothing more than a refinement of everyday thinking.” Jawab Key tenang.
Mereka saling berpandangan, saling antusias dan berakhir dengan tersenyum. “Great!” “Sip!” mereka berdua menjawab bersamaan.
“Jadi, kenapa kau kesini?” Keane memasang wajah heran.
Wajah See cemberut seketika “Kan, kamu yang menyuruhku ke sini. SMS itu. Pesan tersembunyi.” See menjulurkan lidahnya. “Kamu kira aku siapa? Tentu kamu tahu aku tahu.”
Key tersenyum.
“Aku tak pernah lupa, kau tak pernah memakai huruf besar satupun dalam SMS-mu. Kau tak pernah membiarkan autotext aktif.” See sangat bersemangat menjelaskan seperti biasanya. “Yang kedua, tanda titik setelah spasi. Kau juga tak pernah salah dalam mengetik. Itu tanda kodemu. Lonceng. Sekolah. Sekarang.
Key tersenyum lebar, disusul menepuk bahu See. “ Seperti yang kuharapkan. Tentu aku tahu kamu tahu.”
“Oh ya, sudahkah kau memecahkannya?” Key merubah topik, langsung pada intinya. Ia melipat tangannya. Menunggu kejutan.
See kembali diingatkan sesuatu. “Ah! Petunjuk terakhir. Baru tadi aku menemukannya.”  Dia merogoh blocknote-nya dalam saku jaketnya. Dia kembali membacanya.

-          Cahaya dan bayangan tak berlaku untukku. Aku adalah kebenaran.
-          Di ketinggian. Jauh di atas yang kau bayangkan.
-          Aku nyata, tapi tak nyata
-          Diamku selalu menggema.

See kembali meresapi arti di setiap kalimatnya. Mengkaitkan tiap antar kalimatnya.
Tak butuh waktu lama. “Ah!..” matanya membelalak, pupilnya melebar. Dia memandang ke atas. Tepat ke atas menara. Sebuah benda. “Mungkin..”
“Yuph!” Key kembali tersenyum. “Sangat mungkin!”
“Tapi..” gadis itu ragu.
“Hanya ada satu cara untuk memastikan! Ayo!” Key berpaling, bersiap naik ke atas menara. “Cepat, sebelum group lain juga menemukan petunjuk terakhir ini. Semuanya sudah kupastikan pasti segera kemari.”
“Tapi, tunggu, Keane!” baju Keane tersangkut gengaman tangan See. Keane menoleh. “Ini adalah tes terakhir. Ini juga adalah tes individu. Hanya boleh ada satu pemenang. Hanya boleh ada satu agent.
“Aku tak tertarik memecahkannya sendiri. Aku ingin memecahkannya denganmu. Aku berharap kita bisa terus..” kalimat itu mengecil dan tak terselesaikan. Menggantung.
Key menggenggam tangan See. Menggiring See perlahan untuk ikut memanjat. “Jika memang hanya boleh ada satu pemenang, kau saja. Tanpa diriku pun, kau pasti pergi ke tempat ini, kan?”
Dalam keyakinan dan ketidakyakinan, mereka memanjat menara tersebut.

Bersambung..
Baca Lanjutannya Ahh..

-The Last Meeting (Part 1)-

Author: Unknown // Category:

Dia masih duduk di depan meja kayu tersebut. Bokongnya sejak tiga jam lalu mulai panas. Berkali-kali dia berpindah gaya duduk di kursi yang sama. Tangan kanannya masih dengan dengan cepat memainkan mengetuk-ngetuk pensil sepanjang 7 cm itu secara berulang-ulang dan konstan. Berusaha menggapai imajinasi jawaban yang belum juga ia temukan dari kepalanya.
Ugh! Sebenarnya apa jawabannya?
Kedua tangannya kembali memegang erat kedua kepalanya, seolah-olah akan keluar suatu jawaban dari dalam kalau ia memecah kepalanya sekarang. “ayo! Ayo! Berpikir!.. seharusnya ini sesuatu yang simpel. Mudah.” dia berusaha keras menghibur diri sendiri. “tidak mungkin dia membuatnya sesulit itu.”
Kertas-kertas buram yang biasa ia gunakan untuk menghitung soal-soal matematika ketika sedang mengerjakan soal di dalam kelas sejak beberapa jam lalu berserakan di atas meja. Kebanyakan penuh berisi coretan deretan serta susunan huruf alphabet dan juga hitungan angka-angka. Beberapa di antaranya berbentuk bola-bola kertas tak beraturan berserakan di lantai, hasil dari perasaan jengkelnya atas kalimat yang terus berputar-putar di kepalanya selama berjam-jam ini. Kertas putih bersih yang berisi tiga deret huruf itu masih di sana. Ia masih ingat jelas ketika ia pertama kali membuka amplop coklat yang dia temukan di antara halaman buku tulis matematikanya itu dan menemukan tiga kalimat absurd, tidak, lebih tepatnya tiga susunan kalimat sandi tak beraturan yang harus ia pecahkan. Dua kalimat puzzle, huruf balok yang diketik rapih dengan mesin ketik.


LAARSATNMOEYEATS


GAERMAAUSSESBAEL


XV-TNAMAPNEMEGIALI
X2


C-U

Mereka berdua sangat menyukai puzzle dan kalimat sandi, dan terbiasa sering saling mengirim kalimat sandi untuk dipecahkan. Ia segera tahu kalau itu adalah sebuah puzzle untuk dipecahkan –dan bukan kalimat acak dari orang iseng yang mengerjainya- dari warna amplop yang berwarna coklat itu, serta tulisan C-U di bagian depan amplopnya. Kalau ada orang di dunia ini yang mengiriminya amplop kecil berwarna coklat, cuma ada dua orang: yaitu kepala sekolah tempatnya belajar sekarang-yang selalu digunakan untuk memberi info-info khusus kasus yang harus mereka pecahkan- tiap minggunya, dan juga gadis itu.
Tulisan C-U di depan amplop itu selalu ia sadari bermakna ganda. Makna pertama adalah: C untuk inisial nama gadis itu, dan U untuk ‘you’ yaitu dirinya, orang yang dikirimi surat. Sehingga arti dari kalimat itu dapat diartikan ‘surat dari C untuk Mu’. Dan yang khusus adalah, tak ada orang lain lagi yang dikirimi /yang akan dikirimi surat selain dirinya, sehingga tentu saja arti U adalah hanya dirinya.
Coz it’s exclusive for you.” katanya, saat satu kali pernah bertanya. Kalimat simpel yang menjelaskan semuanya. Tapi juga tak menjelaskan semuanya. Kenapa? Yang ia tahu, hatinya merasa senang ketika mendengarnya.
Makna kedua lebih ke arah lelucon. C-U dapat diartikan sebagai ‘see you’, atau ‘sampai jumpa lagi’. Pernah dia berdebat sengit mengenai masalah arti huruf C-U ini saat gadis itu mengiriminya amplop yang kertasnya hanya berisi huruf C-U.
“Apa itu salah? Coz, aku hanya ingin memberitahumu kalau aku ingin bertemu lagi denganmu besok pagi di kelas. Sekarang.” kata gadis itu membela diri. “it means ‘see you’..
“Tapi kamu membuatku khawatir! Aku seketika datang ke kamarmu, mengira ada apa-apa denganmu! Dan tadi malam, di sana ternyata kamu tertidur pulas di atas kasurmu,” katanya berapi-api sambil nafasnya memburu “tak terjadi apa-apa.”
Gadis itu terdiam seketika. Senyap, melihat ekspresi yang menatap tajam matanya. “Iya, maaf membuatmu khawatir. Gak akan kuulangi..”
Maka sejak saat itu tiap amplop yang dikirim gadis itu kertasnya hanya berisi kalimat sandi untuk dipecahkan. Tak ada lagi tulisan C-U. No ‘see you’ more.
Hingga berbulan-bulan kemudian, malam ini, isi kertas dalam amplop itu kembali bertuliskan C-U.




***
Dia melihat jam dinding, jarumnya menunjukkan pukul 07:14. Sudah lebih dari 9 jam berlalu sejak dia memutuskan bergelut dengan kalimat-kalimat itu. Sejauh ini ia telah berhasil memecahkan dua dari tiga kalimat isi pesan di amlop coklat itu. Dia merasa sangat khawatir sejak berusaha memecahkan kalimat sandi itu tadi malam. Tulisan C-U itu muncul lagi. Apa artinya ini?
Kekhawatiran ini semakin memuncak, ketika dia berhasil memecahkan kalimat yang pertama. Kalimat yang kemungkinan besar berhubungan dengan tulisan C-U itu.

LAARSATNMOEYEATS

Awalnya dia mengira itu hanyalah kalimat anagram yang diacak seperti seringkali gadis itu mengetesnya, dan berusaha membolak-balik kalimat itu dengan pola-pola sederhana seperti biasanya. Tapi yang didapat hanyalah kalimat acak kembali yang tak bermakna. Tak menemukan hasil, dia menduga kalimat ini memiliki metode pemecahan khusus dengan pola tertentu. Kalimat sandi.
Beberapa kali dia mencoba berbagai teknik yang pernah dia pelajari di buku. Setelah hampir satu jam, setelah mencoba puluhan cara yang ada, dia berhasil memecahkannya dengan salah satu tekniknya.

laarsatnmoeyeats

Dia menulis ulang kalimat tersebut. Dia lalu menaruh tiap huruf secara berurutan dari kiri ke kanan, menjadi awal dan akhir kalimat hingga bertemu di tengah. Menjadi:


l a a r s a t n m o e y e a t s
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16


l a s t m e e t s a y o n a r a
1 3 5 7 9 11 13 15 16 14 12 10 8 6 4 2

lastmeetsayonara

last meet sayonara

Last Meet Sayonara. Lalu disusul dengan akhir kata ‘see you’. Apa arti kalimat ini? Pertemuan terakhir? Selamat tinggal?
Pikirannya melambung jauh. Dia membayangkan apa yang telah dialami, apa yang sedang terjadi, bagaimana perasaan gadis itu ketika itu. Ketika menulis kalimat sandi ini. Pikirannya semakin kuat ketika dia memecahkan kalimat kedua dengan cara yang sama:

gaermaaussesbael

Berubah menjadi:

gemasebelassuara

Gema Sebelas Suara.

Suara. Gema. Pikirannya berputar. Apa maksudnya? Apa yang bergema? Bersuara? Ingin sekali dia menelepon gadis itu sekarang dengan handphone-tugas yang sekarang tergeletak di sampingnya untuk menanyakan maksudnya. Tapi dia merasa percuma. Satu-satunya nomor yang tersimpan di handphone itu, yaitu nomor gadis itu, tidak aktif sejak dia mencoba meneleponnya tadi malam. Kalaupun dapat tersambung, dia tahu itu takkan memecahkan masalahnya. “puzzle ada untuk dipecahkan, kan?” dia sangat yakin dengan kalimat yang akan didapatkannya dari suara gadis di ujung sana.
Pikirannya kembali mengambang. Berpetualang. Mencari-cari. Apa ini? Apa maksud dari puzzle ini? Dia ingin bertemu untuk yang terakhir kalinya?.. Tiba-tiba ada kesedihan yang begitu dalam menyeruak dari dalam hatinya. Mencekatnya erat tak bergerak. Kegelisahan, kesendirian, ketidak-lengkapan, kehilangan, penasaran, berkumpul menjadi satu rasa. Dia akan pergi.. benarkah?
Kepalanya berusaha keras dengan perasaan menggebu-gebu untuk mencari tahu makna dari kalimat sandi tersebut. Hal ini adalah hal yang sangat mereka sukai berdua. Jiwanya tertantang memecahkan berbagai teka-teki dan mencari berbagai petunjuk. Tapi hatinya begitu ketakutan, sebaliknya. Hatinya takut untuk mengetahui kebenaran dan maksud dari kalimat itu, jika itu memang benar artinya adalah perpisahan. Hati kecilnya lebih memilih untuk tak dapat memecahkannya. Tak mengerti maksudnya. Justru mungkin dia berharap, tak mendapat dan mengetahui kalimat-teka-teki ini.
Dia kemudian sadar, dia tak ingin kehilangan sahabatnya itu.




***

Gema sebelas suara. Apa maksudnya? Sebuah waktu? Sebuah tempat? Sebuah peristiwa? Apa itu? Lalu apa arti kalimat yang ketiga? Dia bahkan belum dapat memecahkan teka-teki yang ketiga. Selama enam jam lebih dia berkutat pada kalimat ketiga dan memecahkannya dengan berbagai teknik yang ada di buku pelajarannya, dia tetap tak menemukannya. Dia merasa ketiga kalimat itu berhubungan, dan jika kalimat ketiga belum terpecahkan, dia berpikir mungkin dia masih belum dapat mengerti maksud kalimat ‘gema sebelas suara’ itu.
Dia kembali mengamati tulisan nama kontak di handphone-tugas itu. Nama gadis itu. Satu-satunya daftar kontak yang ada di handphone-nya. Begitu juga sebaliknya, namanya juga merupakan satu-satunya daftar kontak yang ada di handphone gadis itu. Dua handphone itu berpasangan. Hanya mereka berdua yang mendapat hak istimewa mendapat handphone itu di angkatan mereka dan dipilih langsung oleh kepala sekolah. Dua orang dengan nilai tertinggi selalu dipilih di tiap angkatan tiap tahunnya untuk menjalankan tugas khusus memecahkan kasus-kasus misterius di masyarakat di luar jam pelajaran. Handphone lipat tersebut selain untuk berkomunikasi mereka berdua ketika dalam penyelidikan kasus, juga sebagai pengenal bahwa mereka adalah siswa khusus. Mereka dapat menunjukkan tanda segi enam khusus yang ada di sisi luar chasing handphone tersebut sebagai identitas ‘siswa khusus’ kepada polisi atau warga sipil sekitar untuk kemudahan bantuan dalam penyelidikan kasus.
Handphone-tugas. Begitu mereka berdua gemar menyebutnya. Meskipun terdapat aturan tertulis bahwa handphone tersebut hanya boleh digunakan untuk kepentingan penyelidikan kasus, mereka sering menggunakannnya untuk komunikasi berdua –saling bercerita atau saling menukar kata sandi- ketika mereka tak dapat berkomunikasi melalui surat, atau tak dapat bertemu selama beberapa hari. Sering mereka menggunakannya berjam-jam saling mengobrol di waktu malam untuk membahas segala hal. Seringkalinya berhasil, hanya satu kali ketahuan. Mereka selamat karena perkataan mereka berdua tepat dan sama persis: “kami menggunakannya untuk membahas sidik jari pada pot ketiga pada kasus 253”. Mereka mengatakannya ketika mereka berdua diintrograsi secara tersembunyi, terpisah,dan bersamaan. Tak ada hal yang patut dicurigai oleh pihak sekolah pada mereka berdua, kecuali mereka bertindak lebih jauh dengan mendengarkan rekaman telepon mereka berdua di kantor pusat informasi. Entah sejak kapan, hubungan mereka dibangun dari kepercayaan sangat tinggi, saling mengantisipasi, melengkapi, dan.. teka-teki.
Kenapa handphone-nya ia matikan? Dia masih bertanya dalam hati. Benarkah?
Seketika ia terkesiap. Dua menit terakhir ia gunakan untuk mengenang kenangan mereka berdua, bukannya memecahkan kata sandi itu. Hatinya berlawanan dengan pikirannya.
Gema sebelas suara. Sebelas. Dia berusaha kembali fokus. Dia melirik kalender duduk yang ada di mejanya. 11. Tak ada hal yang istimewa dengan angka itu di kalender. Hanya tertulis hari Jum’at. Tak ada lagi. Satu-satunya yang menarik perhatian hanyalah tanggal 15. Hari Selasa. Hari ini. Dia melingkarinya dengan spidol warna hitam untuk mengingatkan dirinya bahwa hari ini dia harus menyerahkan berkas-berkas hasil penyelidikan dua kasus yang mereka tangani sebulan ini. Dia kembali melihat sekeliling. Berfokus pada benda-benda di mejanya, Entah kenapa, dia melihat kode tato di lengan tangan kirinya. K - 4 1 1 7 3 2. Deret kode yang dimiliki tiap anak di sekolah tersebut yang dipakai sebagai ‘nama baru’ mereka. Deret kode yang membuatnya dipanggil dengan sebutan ‘K’ oleh teman-temannya. Dia melekatkan pandangannya ke deret angka tersebut. Percuma, tak ada yang bisa didapat. Mengerti arti deret angka itu saja tidak. Bukan ini.
Sejak tadi dia menyentuh kertas itu dengan tangannya, tapi tak ada yang terbaca. Tak ada energi ataupun emosi sedikitpun yang tertinggal di kertas itu. Dia selalu tak dapat ‘membaca’ gadis itu. Dia terus mencari-cari. Rambut kemerahannya sejak tadi basah penuh keringat. Tak terkecuali muka, leher,lengan dan hampir keseluruhan permukaan tubuhnya. Pikirannya fokus, seolah tak merasakan hawa kamarnya yang selalu mulai terasa panas ketika pagi tersebut. Matanya tertambat pada kotak Rubix 4x4x4 yang ia dapatkan beberapa bulan lalu. Kotak rubix yang selain memiliki enam sisi warna berbeda, juga memiliki angka berurutan dari 1 hingga 16 di setiap sisinya. Dia membutuhkan waktu dua bulan untuk menyelesaikannya, karena selain harus menyamakan warna, dia juga harus mengurutkan ke-16 angka itu dalam waktu bersamaan untuk dapat menyelesaikannya. Dia mendapatkan rubix tersebut, setelah sanggup menyelesaikan tantangan dari gadis itu untuk menyelesaikan kotak Rubix 3x3x3 dalam waktu lima belas menit dan dia hanya membutuhkan waktu tujuh menit dalam sekali mencoba.
“Lihat, tujuh menit tiga puluh satu detik!” katanya sambil melihat di tangannya.
“Tiga puluh dua detik, Key!” kata gadis itu, mengkonfirmasi ulang. “tapi, bagaimana bisa? Katanya kamu belum pernah menyelesaikan sebelumnya?”
“Entahlah. Aku membutuhkan lima menit pertama untuk memikirkan logika termudahnya. Lalu di sisa dua menit berikutnya aku hanya menjalankannya perlahan. Hehehe..”
I see.. ” kata gadis itu, mudah menangkap apa yang terjadi. Gadis itu tersenyum, “sebagai gantinya, ingin hadiah apa?”
“Hadiah? Emm.. entahlah. Terserah aja.. aku hanya suka memecahkannya.” katanya, juga tersenyum.
“Bagaimana kalau kotak Rubix?”
“Kotak ini?”
“Bukan, yang lainnya. Kamu sudah memecahkan yang satu ini. Rubix jenis lain.”
“Oh ya? Ada yang lain?” katanya antusias.
“Tentu saja. Ada banyak..”
“Enam belas. Bagaiamana kalau kotak Rubix 4x4x4? Adakah?”
“Ada. 5x5x5 juga ada kok.”
“Gak, yang 4x4x4 aja.”
“Kenapa? Yang lebih mudah? Hehehe..” gadis itu tertawa kecil.
“Bukan.” katanya yakin. “Karena aku suka angka 16. Menandakan bentuk persegi. Bujur sangkar. Kuadrat. 4x4. Dapat dibagi 2. Angka 16 itu adalah angka yang sempurna dan seimbang. Kalau itu dijadikan bentuk ruang menjadi bentuk ruang balok yang sempurna. Pernah memikirkannya?”
“Hahahaha!..” Gadis itu tertawa lepas. “Kamu itu aneh. Itu kan hanya angka..”
“Biarlah.. Manusia hidup itu harus menyukai sesuatu. Dan aku suka angka 16 dan balok.”
“Iya.. tapi kenapa 16?” sanggahnya. “Kenapa bukan angka 7? Atau 9? Banyak hal yang dimulai dengan 7, seperti langit ketujuh, surga dan neraka lapis tujuh, kaya tujuh turunan, agen 007, dan lain-lain. Angka 9 juga banyak dipercayai oleh banyak orang sebagai angka bagus. Angka yang membawa keberuntungan..”
“Aku gak suka, itu aja. Lagipula, pandanganku tentang keberuntungan itu beda.”
“Oh ya?”
“Menurutku, keberuntungan itu dibentuk dari usaha kita. Keberuntungan itu reaksi dari aksi. Aksi, tindakan kita. Semakin sempurna apa yang kita lakukan, maka keberuntungan kita semakin besar. Mungkin keberuntungan tak dapat ditebak, tapi dapat dibentuk dan diarahkan. Orang yang semakin sering berlatih, semakin menyempurnakan tindakan, semakin banyak ilmu dan pengalaman, sensitifitas akan hal terkecil, adalah orang yang paling beruntung. Keberuntungan itu kecelakaan yang hanya terjadi pada yang siap menerimanya.”
“Oh.. keren!...” kata gadis itu dengan mata berbinar. “Aku setuju!”
“Lagipula,” katanya lagi. “kita menyukai sesuatu hanya pada hal yang cocok dengan jiwa kita, kan?”
“Tapi,” kata gadis itu kemudian, “setelah mendengar kamu menjelaskannya, aku jadi ikut suka dengan angka 16. Iya ya, angka itu seimbang.”
“Hahahaha.. sekarang kamu yang aneh. Masa menyukai sesuatu hal karena orang lain?!”
“Biar. Manusia hidup itu harus menyukai sesuatu.” gadis itu membela diri.
“Hei, itu kalimatku..”
“Baiklah, rubix 4x4x4 ya..” Gadis itu memakai caranya untuk memutus perdebatan. Dia tersenyum. “Besok.”
Dia kembali tersenyum ketika mengingat hal itu. Sejak saat itulah gadis itu menyukai angka 16 dan balok, seperti dirinya. Begitu banyak hal telah mereka lewati berdua sejak pertama kali masuk ke sekolah ini. Banyak hal. Sekali lagi, rasa kehilangan itu menyeruak pekat secara tiba-tiba. Membenamkan perasaannya jatuh ke dasar paling dasar.
Matanya kembali melihat jam dinding. Sekarang menunjukkan pukul 07:17. Kalau saja bukan karena berkas-berkas ini dan dia meminta ijin untuk tidak mengikuti pelajaran jam pertama dan kedua, dia pasti sudah terlambat masuk ke kelas sekarang.



***

Lingkungan bangunan sekolah yang dibangun sejak tahun 80-an itu tenang. Semua anak yang sedang mengikuti pelajaran khidmat mendengarkan kalimat yang dijelaskann oleh masing-masing guru di kelasnya. Pohon Asam yang tumbuh besar tepat di samping lonceng tua berkarat yang biasa dibunyikan untuk tanda masuk dan bubarnya kelas itu memberikan kesan sejuk sepanjang hari, seolah tak pernah mengenal teriknya siang hari. Dinding kayunya yang bercat putih memberi efek pencahayaan yang cukup, mengimbangi luasnya cabang pohon asam yang menutupi hampir tiga per empat cahaya matahari yang masuk.
Lonceng yang memiliki ukuran diameter kira-kira sepanjang 2 meter tersebut terletak di atas menara di ujung lorong, yang memiliki atap di atasnya agar lonceng tersebut terhindar dari terik matahari. Jika saja sang pembangun sekolah ini tahu bahwa pohon asam kecil dua puluh tahun lalu itu bisa sebesar sekarang, mungkin dia akan merasa percuma membangun atapdi atas lonceng. Menara lonceng tersebut terletak di ujung lorong berbelok, yang membentuk huruf ‘U’ bersiku jika dilihat dari atas. Jika ditanya alasannya, untuk mengelilingi sebuah lapangan kecil berumputlah mengapa lorong tersebut dibuat berbelok dua kali dan membagi lorong tersebut menjadi tiga lorong bersambung. Sembilan kelas. Tiga kelas per lorong. Siapapun tak akan menyangka tiga kelas yang tersisa itu bukanlah digunakan untuk pengajaran untuk pendidikan anak SD, melainkan sekolah pengajaran khusus untuk anak-anak yatim piatu yang berkemampuan khusus.
“Ayo, Nona See!” kata seorang pria tua paruh baya dengan pakaian jas lengkap. Dia berusaha keras berteriak sambil mendongak ke atas menara lonceng agar suaranya terdengar. “Turunlah! Kita segera mau berangkat!”
“11 menit 11 detik lagi, kan?” katanya yakin. Rambut pirangnya terlihat agak kecoklatan tertimpa bayangan dari cabang dan daun pohon asam. “Aku masih mau menunggunya di sini sebentar lagi..”
Pria paruh baya itu melihat jam tangannya yang berwarna keemasan sekali lagi. Pukul 07:18. Lebih beberapa detik. Seperti biasa, selalu tepat. “Baiklah! Saya cuma ingin memastikan!..”
Gadis itu tak menjawab. Dia tak peduli, seolah-olah segala yang terjadi telah diketahuinya lebih dulu. Bersandar pada kedua lengannya, matanya memandang lurus ke depan melihat pepohonan di bukit-bukit jauh di seberang. Juga tampak sejuk seperti tempatnya sekarang. Pikirannya melambung tinggi, tak benar-benar berada di bukit itu. Apa yang dilakukannya sekarang, ya? Apa dia mampu memecahkannya?
“Hihi.. mungkin dia akan kesulitan..” gadis berkulit putih itu tersenyum. Dia tak kuasa menahan imajinasinya membayangkan ekspresi anak laki-laki itu tiap kali berusaha memecahkan teka-teki atau hal misterius dari kasus yang mereka pecahkan bersama. Ekspresi serius mencari petunjuk, mencari jawaban dari pertanyaan ‘apa?’ dan ‘mengapa?’ di kepalanya, mengumpulkan apapun pecahan-pecahan hal terkecil di sekitarnya, kemampuan merangkai tiap hal dan mensimulasikan dan memikirkan percabangan serta kemungkinan yang dapat terjadi sesuai fakta, mencocokkan dengan segala motif, dan terakhir: menemukan jawabannya. Meskipun di luar selalu terlihat ceria, tapi sangat misterius di dalam.
Dia masih ingat ketika pertama kali bertemu anak laki-laki itu ketika baru masuk ke sekolah ini hampir setahun yang lalu. Anak itu mengulurkan tangannya duluan tanpa berkata apapun.
“Hai, aku C – 1 4 1 1 2 3.” kata See waktu itu. Dirinya menjabat tangan yang ditutupi sarung tangan kulit itu sambil tersenyum kecil. “Yang lain biasa memanggilku: See. Sesuai huruf terdepan dari kodeku.”
Anak laki-laki itu tak merespon. Mereka saling berpandangan dalam waktu lama.
“Kau juga pasti memilikinya.” Masih teringat, dirinya ketika itu lalu membuka sarung tangan yang menutupi tangan kirinya. Dirinya hanya memakai sarung tangan di tangan kiri agar tanda itu tak terlihat. Seketika terlihat tanda tato kecil dengan bentuk deret kode biner yang diikuti di bawahnya deret huruf dan angka yang bertuliskan: C – 1 4 1 1 2 3 di punggung tangannya. Dirinya lalu menunjukkannya. “Seperti ini. Semua anak di sini memiliki ini di tubuhnya. ”
“Oh,” anak laki-laki itu sekejab tersadar, seperti kembali ke dunia nyata. “Ini, di lengan kiriku. Baru kemarin mereka membuatnya di sana.” Dapat langsung terlihat, lengan kiri tersebut ditutupi kapas yang ditempel dengan plester di sekelilingnya.
Dia terdiam mengamati anak laki-laki itu sesaat. Tak dapat langsung menjawab dengan refleks. “Em, ya.. Butuh sekitar satu bulan untuk kering. Mereka memakai tinta khusus.”
Anak laki-laki itu kemudian mengambil sobekan kertas kecil di saku bajunya. “Emm.. aku..” dia lalu membacanya. “K – 4 1 1 7 3 2.”
Hening sesaat.
“Emm.. Hai, Key.”
Hening kembali. Mereka saling memandang. Mereka saling mengamati tiap gerak terkecil dan mimik ekspresi dari lawan bicara di depan mereka. Mereka seolah-olah ingin mengkonversi waktu beberapa bulan yang dibutuhkan untuk mengenal kepribadian seseorang hanya menjadi beberapa detik.
“Ya..” anak laki-laki itu berusaha keras tersadar. “Wah.. jadi Key, ya? Oh ya, maaf pembicaraannya menjadi kaku gini. Kesalahanku tiap bertemu orang baru, selalu berusaha ingin mengetahui dan ‘membaca’ orang itu lebih dulu.”
Dia sedikit terkejut. “Hehehe, kok sama ya.. Aku juga melakukan hal yang sama.”
“Iya, hehehe.. Seharusnya aku melihatmu ketika berinteraksi dan berbicara dengan orang lain dulu selama beberapa menit, baru berkenalan. Jadi pembiacaraan kita gak kaku begini.”
“Hahaha.. tahu gak, aku juga tadi berpikiran sama lho ketika baru bersalaman tadi!..”
“Benarkah? Hahaha..” kata anak laki-laki itu. “Mungkin kita manusia sejenis..”
“Hahaha.. mungkin.”
“Tahu gak, aku sering berpikir: apa yang akan dilakukan saat dua orang jenius saling bertemu untuk pertama kalinya? Apa yang pertama kali dilakukan?”
“SALING MEMBACA PIKIRAN!!” kata mereka berdua serentak.
“Hahahahaha!..” mereka berdua tertawa bersamaan sambil saling berpandangan.
“Haha.. aku tak menyangka kalau ada orang yang juga pernah memikirkan hal itu.” Katanya. “Dan kau adalah anak laki-laki dan manusia pertama yang berpikiran sama denganku!”
“Hahaha.. Aku juga.” jawab anak laki-laki itu. “Hai, aku Key.” Dia mengulurkan tangannya untuk kedua kalinya.
“Aku See.” Dia menjabat tangannya untuk yang kedua kalinya. Itulah kali pertama mereka bertemu, di perjumpaan yang kaku namun penuh kejujuran. Perjumpaan dua orang yang senasip dan mampu saling merasakan, mungkin.
Sejak saat itu mereka berdua sering mengobrol dan saling bertukar pikiran. Mereka seperti baru pertama kali bertemu orang sejenis yang mengerti mereka satu sama lain. Seperti kalimat yang selalu mereka sukai: “Anjing dapat merasakan kehadiran anjing lain. Iblis sanggup merasakan kehadiran iblis lain. Orang aneh dapat merasakan kehadiran orang aneh lainnya.” Dan mereka selalu tertawa terbahak-bahak tiap kali selesai mengatakan kalimat itu secara bersamaan. Pemikiran mereka sering sama dan serupa. Sering mereka membahas tentang kehidupan, terkadang tentang cinta, tak jarang tentang pola berpikir dan pemahaman tentang dunia, dan kebanyakan tentang teka-teki, symbol, arti, bahasa-bahasa asing, ataupun manipulasi pikiran. Mereka berbagi hal-hal yang mereka sukai dan juga yang mereka benci. Seringkali mereka sepaham, tapi tak jarang juga berselisih paham tentang teori atau suatu hal yang mereka temui.
Dia teringat satu kali ketika belajar di kelas, Pak Tano, guru yang mengajar pelajaran tentang Time Management bertanya kepada seluruh murid di kelasnya ketika memulai kelasnya.
“Anak-anak, menurut kalian, apa yang paling berharga bagi manusia di dunia ini?”
Untuk sesaat kelas menjadi hening. Para murid tahu, ini adalah kalimat jebakan. Jawaban dari kalimat ini pasti bukan jawaban umum yang biasa dijawab orang awam pada umunya.
“Ilmu Pengetahuan!” jawab beberapa anak seketika.
“Hmm..” Pak Tano bergumam.
Kelas kembali beku. Semua anak terlihat berusaha memikirkan jawabannya. “Ada lagi?”
“Kebijaksanaan, Pak!” jawab satu anak lainnya.
“Kecerdasan!” yang lainnya tak kalah.
Pak Tano tersenyum senang. “Hmm.. jawaban-jawaban yang brilliant! Bagus! Ada jawaban yang lain lagi?”
Hening kembali. Ini terasa mulai berat ketika semua hal yang terlintas di pikiran kita telah diutarakan oleh orang lain. Apa lagi yang mungkin?
Semua anak berpikir keras, mencari jawaban-jawaban lain yang mungkin. Atau, jika beruntung, jawaban yang diinginkan Pak Tano yang sebenarnya. Key kemudian tiba-tiba mengangkat tangannya. “Waktu, Pak!”
Ekspresi wajah Pak Tano berubah seketika, seolah-olah dia baru menemukan sebongkah besar emas ketika mendulang emas di sungai. “Benar! Waktu.” Pak Tano tak perlu menggiring anak-anak untuk mencari jawabannya lebih jauh lagi.
Semua wajah anak menoleh ke arah Key. Lalu berganti kembali ke arah Pak Tano, ketika orang tersebut menjauh dan mengambil kapur di bagian bawah papan tulis.
“WAK… TU.” Pak Tano lalu menuliskan tulisan ‘waktu’ di papan tulis dengan huruf besar. “Kenapa waktu? Key, bisa jelaskan?”
“Ya..” Key agak tergagap. “Itu.. Em.. Mudah. Segala hal di dunia ini terikat oleh waktu. Segala proses aksi reaksi tak dapat dipisahkan oleh waktu. Begitu juga dengan kehidupan manusia. Manusia dapat berhasil jika dia dapat memanfaatkan waktu dalam hidupnya sebaik-baiknya. Waktu juga berarti kesempatan bagi manusia. Sesuatu yang dapat membuat mereka memperbaiki kesalahannya, atau melakukan apa yang diinginkannya dengan sebaik-baiknya. Melalui waktulah, manusia dapat menggali ilmu sebanyak-banyaknya. Melalui waktu, manusia mencari pengalamannya, bertemu orang-orang yang disayanginya seperti keluarga, teman, sahabat, menemui masalah yang menempanya, belajar hal baik dan buruk. Manusia berubah karena waktu. Waktu, yang membiarkan semuanya terjadi. Itu menurut pendapat saya, Pak.”
“Ya, bagus sekali,” jawab Pak Tano puas. “Seperti itulah kira-kira yang..”
“Pak!” See tiba-tiba mengangkat tangannya ketika itu.
Semua anak menoleh, tak terkecuali Pak Tano. “Ya?”
“Menurut saya, yang terpenting yang dimiliki manusia adalah.. ingatan.”
Pak Tano diam sesaat. “Ingatan?”
“Ya. Ingatan.”
“Bisa jelaskan?”
See terlihat berpikir sebentar. Dia berusaha menggali, mencoba mencari susunan kata yang paling mudah menggambarkan pikirannya.
“Begini.. manusia terus melalui perjalanan hidupnya dan belajar tanpa henti.” See memulai. “Manusia melakukan itu untuk apa? Untuk mendapat pengalaman. Untuk mencetak segala hal yang telah dilaluinya agar permanen di pikirannya. Untuk mengingat. Manusia menggunakan ingatan untuk melakukannya. Manusia belajar, membaca buku berulang-ulang juga bertujuan agar dapat mengingat. Selama hidupnya, manusia terus menjalani hidupnya dengan proses mencetak ingatannya, entah tanpa disadari ataupun tidak. Ingatan itu begitu berharga. Kenapa? Karena ingatan menyimpan informasi, seperti layaknya memori. Ingatan mencetak segala hal yang dilakukan, dilalui, dan juga diajari. Sebuah track record. Itulah mengapa ada seseorang yang dapat diburu seluruh agen di seluruh di dunia karena informasi yang diketahuinya. Seseorang dapat ditentukan hidup atau matinya, seringkali dari informasi yang dimilikinya. Manusia dapat mencapai puncak tertinggi, memiliki ilmu pengetahuan tiada batas, pengalaman, harta benda melimpah dan juga kedudukan. Tapi bagaimana jika dia dalam sekejab hilang ingatan? Tiba-tiba semua informasi di dalam kepalanya hilang, atau tak terbaca? Dia kembali nol. Tak berharga. Itulah mengapa ingatan itu harganya tak ternilai dibandingkan dengan apapun. Kita mungkin dapat kehilangan seseorang yang kita sayangi, tapi ingatan ketika bersama orang itu, kasih sayang, senyuman, perkataan orang itu, dapat selamanya hidup dalam ingatan kita. Terus membekas dan tak ingin kita lupakan selamanya. Bahkan ingatan seringkali terasa lebih nyata dari kenyataan. Menurut saya itu, Pak. Ingatan. Yang paling berharga dari manusia itu adalah ingatan yang dimilikinya. Manusia dinilai dari pikirannya, kan? Maukah anda menukar semua ingatan yang anda miliki saat ini dengan segala hal berharga di dunia? Ditukar dengan harta benda? Atau mungkin, ditukar dengan waktu hidup yang lebih lama? Sangat konyol jika ada yang bersedia, karena ketika mereka mendapatkannya, mereka telah lupa semuanya dan semua hal yang didapat itu menjadi tidak berharga lagi.”
Semua mata terpana melihat See ketika menjelaskan pemikirannya saat itu. Pak Tano, yang terkagum dengan kalimat super tajam yang baru didengarnya dari muridnya tersebut, secara refleks bertepuk tangan.
Semua anak-anak ikut bertepuk tangan, mengikuti Pak Tano. Key juga tak ketinggalan ikut menggambarkan kekagumannya. Suasana di kelas menjadi riuh seketika.
“Anak-anak, kalian seharusnya bangga memiliki teman seperti See ini. Dia mampu memberi gambaran serta membuka pemikiran kita tentang betapa pentingnya ingatan kita..” berbeda dengan sebelumnya kali ini, Pak Tono berbicara dengan semangat yang menggebu-gebu. “See baru saja membuka pikiran bapak, ternyata benar, ingatan kitalah hal yang paling berharga di dunia. Benar, jika mungkin ada seseorang yang tiba-tiba menawari saya bahwa dia dapat menghidupkan kembali istri saya yang tercinta tapi sebagai gantinya semua ingatan saya tentang istri saya dihapus, saya tidak akan menerimanya. Kalaupun itu bisa terjadi, lalu untuk apa? Saya menjadi tidak ingat lagi tentang istri saya, padahal kenangan dan ingatan itulah hal yang paling berharga.”
Pak Tano lalu terdiam sesaat. “Saya akan lebih memilih semuanya berjalan seperti ini saja. Dia terus hidup abadi dalam ingatan saya..”
Suasana dalam kelas itu tiba-tiba hening sesaat.
See masih tertegun melihat bukit nan jauh di sana. Awan sedikit bergulung di atasnya. Beberapa camar terlihat mengepakkan sayap di atas langit. Mereka pasti membuat sarang di salah satu pepohonan itu.
Ia mengambil buku gambarnya di tasnya. Ia ingin menggambar sesuatu. 9 menit.. masih sempat.
Dia kembali ingat, di kelas itu setelahnya Pak Tano menjelaskan tentang peranan waktu dan pentingnya memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Beliau juga menjelaskan tentang sifat manusia yang ingin mengendalikan waktu dengan membuat segala hal berjalan sangat cepat dan akhirnya mereka justru diperbudak oleh waktu itu sendiri. Manusia tak terbebas dari hukuman era modern abad ini yang mereka ciptakan sendiri, yaitu: Jadwal. Beliau juga menjelaskan sedikit tentang keinginan manusia yang ingin menciptakan mesin waktu dan apa yang ingin dicapainya oleh benda itu. Manusia ingin memiliki dan mengetahui segala hal. Manusia ingin memperbaiki kesalahannya di masa lalu agar masa depannya lebih baik lagi. Di inti pembicaraan, Pak Tano menjelaskan bagaimana mengefisienkan waktu dalam kehidupan sehari-hari pada murid di kelas itu agar lebih bijak lagi dalam memanfaatkan waktu.
“Kalau ada mesin waktu, pasti enak ya..” kata Key, ketika waktu istirahat siang, saat mereka berdua duduk santai di pinggir lapangan rumput sambil melihat beberapa anak main kejar-kejaran dan sepak bola. Sudah jelas, pelajaran dari Pak Tano tadipagi mempengaruhi pikirannya.
“Memangnya mau apa, kalau ada mesin waktu?” timpal See seketika.
“Ah, tapi gak. Gak mungkin mesin waktu itu ada.” Key menyangkal kalimatnya sendiri. “Dipikir seperti apapun, teknologi secanggih apapun, itu gak mungkin. Banyak benda-benda teknologi super canggih di jaman sekarang yang dikembangkan dan diciptakan yang bersumber dari imajinasi dan impian orang jaman dulu yang dianggap mustahil utuk dapat terwujud. Dan pasti akan ada banyak benda lagi yang kita bayangkan sekarang mustahil, yang mungkin akan dibuat menjadi nyata di masa depan. Semuanya imajinasi itu mungkin, tapi tidak dengan impian orang tentang mesin waktu. Logikaku masih belum dapat membayangkan bagaimana logika tentang mesin waktu. Lagipula mesin waktu itu adalah sebuah benda fisik kan? Sebuah mesin kan? Tak ada satu partikelpun di semesta ini yang tak terikat kontrak hukum oleh waktu.”
See hanya mengangguk perlahan, menunggu penjelasan selanjutnya.
“Jika memang mesin waktu itu dapat dibuat, bagaimana mesin itu dapat melintasi waktu? Misalkan, jika mesin itu melewati waktu 30 tahun ke depan dari sekarang, bagaimana kondisi mesin itu mampu tetap, tanpa mengalami korosi yang seharusnya dialami benda selama 30 tahun? Ya, kan? Kalaupun mampu membuat pelindung atau selubung energi untuk melindungi agar mesin dari mesin waktu terpisah dari efek waktu, bagaimana caranya? Kita hanya dapat membengkokkan ruang dan waktu, tapi membuat teknologi yang terpisah dengan hukum waktu, itu tidak mungkin.”
“Hmm.. ya, aku setuju dengan pemikiranmu barusan.” kata See, akhirnya. “Ini yang aku pikirkan, jika memang dapat menembus waktu ke masa depan, misal ke 30 tahun dari sekarang, mesin waktu dan orang yang menjelajahi waktu tersebut seharusnya akan mengalami kerusakan sebuah benda atau tubuh manusia selama 30 tahun. Setelah sampai di masa depan, orang tersebut akan menjadi tua, dan mesin tersebut mungkin rusak. Jadi, sebenarnya mesin waktu itu hanya ‘mempercepat waktu’, bukan ‘menjelajah waktu’.”
“Wow..” Key tampak antusias. “Teruskan.”
“Ya, itu hanya mempercepat waktu. Jadi, jika dia menjelajahi selama 30 tahun ke depan, dia akan mempercepat proses tersebut dan sampai dengan sangat cepat. Istilahnya, dia mempercepat umurnya sendiri. Sebenarnya, yang dia alami adil, seperti yang dialami oleh orang biasa yang melewati kehidupannya selama 30 tahun ke depan dengan wajar. Bedanya, dia mencapainya lebih cepat, menurut yang diarasakan pikirannya tentunya. Sedangkan yang lainnya melalui proses normal. Misal, ada 2 orang A dan B. Si A dan B adalah saudara kembar dan memiliki umur sama. Ketika berumur 15 tahun, karena tidak sabar si A menggunakan mesin waktu untuk melewati 30 tahun ke depan. Menurut yang dia rasakan, dia mencapainya selama 2 menit dengan mesin waktu. Sesampainya di masa depan 30 tahun kemudian, ternyata dia menua hingga berumur 45 tahun, dan saudaranya si B juga berumur 45 tahun. Tentu saja si A meninggal dunia karena perbedaan waktu yang super-cepat ini. Kenapa? Karena saudaranya si B melanjutkan hidupnya selama 30 tahun dengan hidup wajar, sedangkan si A menghabiskan waktunya selama 30 tahun diam di dalam mesinnya tanpa melakukan apapun. Si B merasa kehilangan saudaranya sejak berumur 15 tahun karena hanya melihat saudaranya terdiam seperti patung selama 30 tahun di dalam mesinnya. Perbedaan waktu 2 menit di dalam mesin waktu dan 30 tahun di dunia nyatalah yang menyebabkannya. Seperti halnya kamu makan 1 kue selama 2 menit, tapi kegiatan itu diperlambat menjadi selama 30 tahun. Sedangkan tubuhmu masih tetap membutuhkan ratusan ribu kue selama 30 tahun dan mengalami sistem metabolisme tubuh manusia seperti halnya orang hidup di waktu normal.”
“Kerenn!! Satu teori lagi tentang mesin waktu!..”
“Tapi itu hanya pemikiranku sih,” katanya kemudian. “Belum tentu benar. Lagipula masih ada yang kurang..”
“Ya, selubung energi untuk melindungi partikel yang mengalami percepatan waktu itu, agar hanya mengalami proses waktu seperti di dalam mesin, bukannya ikut terseret hukum waktu di luarnya dan ikut menua secepat itu. Masalahnya, kalaupun dapat membuat selubung energi itu, membutuhkan enegi sebesar apa? Lalu apa resikonya? Aku yakin, seminimal-minimalnya itu akan merusak partikel ruang dan waktu dengan radius satu kilometer. Dan tak mungkin diperbaiki.” Kata Key menjelaskan.
“Benar. Resiko dari merusak hukum alam Tuhan.” See meihat ke langit biru, mencoba mencari sesuatu. “Resiko dari keegoisan manusia yang ingin menguasai sang waktu. Lagipula, kita hanya dapat mempercepat maju ke depan, ke masa depan. Tak ada jalan kembali untuk mundur ke belakang, ke masa lalu. Karena waktu itu memiliki arus untuk ke arah masa depan. Kita hanya dapat mempercepat, atau memperlambatnya. Namun tak dapat mundur ke belakang. Sehingga tak ada istilah yang namanya ‘merubah masa lalu untuk merubah masa depan’. Itu hanya ada di film-film luar negeri. Teori dari Albert Einstein tentang membelokkan ‘ruang dan waktu’, yang katanya sebuah lubang hitam itu merupakan gerbang ‘teleport’ ke lubang hitam lain-pun belum dapat dibuktikan. Meskipun teori tersebut menjelaskan bahwa bagian dalam lorong itu mempersingkat waktu lintasan dari jarak dua lubang hitam yang ber-milyar tahun cahaya menjadi sekejab itu benar, tapi kita tak mungkin melakukannya. Gaya grafitasi lubang hitam itu sangatlah besar, hingga dapat menyedot cahaya di alam semesta sekitarnya. Semua benda yang masuk, tanpa terkecuali tubuh manusia, pasti akan hancur sebelum mencapai gerbang lorong satunya, meskipun sekejab.”
“Ya.. dilihat dari sudut manapun, Tuhan tak mengijinkannya, manusia untuk menjelajahi waktu.” Key menyimpulkan kalimatnya.
“Ya… kita sependapat.” See mengangguk.
Untuk sesaat mereka menikmati langit biru dan semilir angin yang berhembus di tengah udara lapangan berumput tersebut. Anak-anak yang tadinya asik bermain sepak bola, beberapa di antaranya duduk untuk istirahat.
“Eh, ngomong-ngomong tentang menjelajah waktu, aku punya sebuah permainan.” See langsung berwajah ceria, yang kemudian sibuk merogoh tas ranselnya. “keluarkan pulpen dan buku catatanmu.”
“Eh?” Key lalu ikut mengeluarkan pulpen dan buku catatannya. “Oke..”
“Sudah siap?” Key mengangguk.
“Sekarang, coba tulis sebaris kalimat di kertasmu. Setelah selesai, tutup catatanmu. Aku akan mencoba menjelajah waktu, dan menuliskan kalimat yang sama untukmu.” kata See, berwajah serius.
“Hehe.. Is it a trick?” Key curiga melihat gelagat temannya satu ini.
“Yee.. Bukan! Ini beneran!” See agak jengkel, keseriusannya diremehkan. “Udah deh!.. ikut aja permainannya..”
“Hahaha!.. Oke, oke.. aku akan ikut permainan..” Key kemudian ikut serius. “Terserah ya, pokoknya sebaris kalimat?”
See hanya mengangguk. Dengan buku catatan membelakangi posisi See, Key mulai terlihat menggerakkan pulpennya. See terlihat mencurahkan konsentrasinya ke anak-anak yang berada di lapangan. Seperti layaknya pesulap di televisi yang akan menebak kartu yang dipilih penonton, ia ingin memastikan apa yang dilakukannya: aku tak melihat apapun.
“Oke, sudah.” kata Key kemudian. Ia menaruh pulpennya di bawah, membalikkan buku catatannya ke arah bawah dan menaruhnya di atas pahanya.
“Wow, cepat..” See kembali berkonsentrasi ke permainan. Ia mengambil buku catatan dan pulpennya. “Benar sebaris kan?”
Key tak merespon. Tangannya memegang buku catatannya sangat erat dan matanya sangat fokus berkonsentrasi pada tiap gerak-gerik yang dilakukan oleh See. Jika ini adalah sebuah trik sulap, sekaranglah See akan melakukannya.
“Haha.. santai aja..” See dengan mudah mampu merasakan tekanan itu. Dia mulai menulis. “Oke, akan kutulis.”
Dia terlihat menulis sesuatu yang panjang. Sesaat dia berhenti menulis, menatap tajam mata Key, lalu kembali menulis. Beberapa kali dia berhenti, dan seolah-olah berfikir atau menduga-duga, lalu kembali menulis.
Setelah kurang lebih 3 menit, ia berhenti menulis. Ia menaruh pulpennya di bawah, membalikkan buku catatannya menghadap ke bawah menaruhnya di atas paha, persis seperti yang Key lakukan.
“Ah, lama nih!..” kata Key pertama kali bersuara.
“Menurutmu, apa aku bisa menebak yang kamu tulis?” kata See.
“Gak mungkin ah!”
“Kenapa gak mungkin?”
“Yah.. aku tadi gak melihat gerak-gerikmu mengintip tulisanku. Satu-satunya cara adalah membaca pikiranku. Dan aku ragu kamu bisa membaca pikiranku. Hahaha..”
“Hahahaha.. begitu ya.. Bagaimana kalau aku bisa menebak dengan benar?”
“Gak mungkin! Kulihat tadi kau seperti menulis kalimat yang panjang, sedangkan yang kutulis di bukuku adalah kata yang pendek. Lagipula kemungkinan untuk benar menulisnya adalah sangat kecil.”
“Oke, untuk pertama kalinya, apa kalimat yang kamu tulis?”
“Oh, sudah boleh?” kata Kay. “Lorem Ipsum.
“Oke, ayo kita bertukar buku catatan.” Kata See akhirnya. See mengangkat buku catatannya lalu memberikannya kepada Key. Hal yang sama, juga dilakukan oleh Key, sehingga buku mereka akhirnya saling tertukar.
Mereka saling memandangi buku catatan tersebut.
Key segera bersuara. “Hahaha.. lihat! Apa yang kau tulis tak…” tapi Key tak melanjutkan kalimatnya. Tak dapat melanjutkan. Suasana menjadi sunyi senyap seketika. See juga tak bersuara, ikut menyempurnakan keheningan mereka berdua.
Suasana masih hening untuk beberapa saat. Berkali-kali mata Key berganti-ganti, antara melihat tulisan di dalam catatan, melihat ke wajah See, kembali ke tulisan dalam catatan, kembali melihat wajah See. Berulang-ulang. “Bagaimana.. bisa?” ia bergumam pada dirinya sendiri.
See masih diam dan terus mengamati ekspresi terkejut dari Key.
“Bagaimana bisa?” Key kembali mengatakan kalimat yang sama. Kali ini sebuah pertanyaan. Tentu saja untuk See.
See hanya tersenyum. “Mungkin sedikit beruntung.”
Key terdiam. Seolah begitu banyak hal yang sedang dipikirkannya. Ia berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Ia bertanya-tanya, kemungkinan apa saja yang dapat menghasilkan fenomena seperti ini. Ia tanpa sadar meletakkan buku catatan See. Buku catatan yang halaman jelas tulisan tangan See.


-Ah, lama nih!
-Gak mungkin ah!
-Aku tadi gak melihat gerak-gerikmu mengintip tulisanku. Satu-satunya cara adalah membaca pikiranku. Dan aku ragu kamu bisa membaca pikiranku.
-Gak mungkin! Kulihat tadi kau seperti menulis kalimat yang panjang, sedangkan yang kutulis di bukuku adalah kata yang pendek. Lagipula kemungkinan untuk benar menulisnya adalah sangat kecil.
-Oh, sudah boleh? Lorem Ipsum.



***

6 menit. See telah selesai menggambar di buku gambarnya. Ia menyobek halaman kertas itu, dan melipatnya sebanyak dua kali sehingga ukurannya sekarang menjadi seperempatnya.
Secara samar-samar, terdengar suara langkah kaki orang yang sedang berlari dari kejauhan. Suara itu perlahan menjadi semakin keras dan keras hingga menjadi semakin jelas dan dekat.
Dari atas atap, dia mendongak ke arah bawah di kejauhan. Terlihat seorang anak laki-laki berlari menuju ke arah sekolah itu. Dia akhirnya datang..

Bersambung..


Baca Lanjutannya Ahh..