long night part:4 malam panjang

Author: Budiharja Kusuma // Category:
Kulihat vespaku yang berwarna biru tua itu basah tersiram dinginnya air hujan malam. Aku mulai lelah untuk berfikir. Kusandarkan kepalaku di kedua lututku. Tanganku bersila melingkari kepalaku. mataku memejam. Kurasakan tubuhku terasa sakit semua. Aku kembali bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi. Kucoba untuk mengistirahatkan pikiranku sejenak. Tapi sulit. Semua berkelebat. Pikiranku malah melayang-layang. Melayang ke teman-temanku yang mungkin sekarang sudah beristirahat tenang di kost-kosan mereka. Melayang ke teman-teman yang mungkin sudah menyalakan laptop mereka untuk mengerjakan tugas buat besok atau sekedar hanya mengecek segala sesuatu di tempat mereka sekarang. Melayang ke rumahku yang mungkin sekarang bocor di sana-sini. Dipenuhi panci atau nampan untuk menampung air hujan yang menetes melewati lubang genting di ruangan bagian dapur. Melayang ke teman-temanku yang mungkin sekarang masih di kampus bermain laptop sambil menunggu hujan reda.
Huh, seandainya saja aku menunggu hujan reda sambil ikutan bermain laptop bersama mereka, pasti aku tidak akan kacau seperti sekarang. Huh, seandainya saja aku kost juga seperti teman-temanku yang lain, aku pasti sekarang berada di kost-kostan untuk beristirahat dengan tenang tanpa diganggu oleh hujan seperti ini.
Huh, seandainya saja…
Seandainya…

Untuk beberapa saat aku terlarut dalam pikiran-pikiranku. Semuanya terasa sangat membius.. membuat diriku sanggup melupakan apa yang terjadi saat ini. Kepalaku terasa agak sakit. mataku perlahan membuka. Kurogoh lagi saku bajuku. Di hp ku tertulis 19.11. kulihat di sekililing. hujan sama sekali tak berkurang. Masih tak ada tanda-tanda berhenti. Kutoleh di sisi kananku. Kedua orang itu masih berdiri di sana. Begitu juga sepeda motor mereka yang bermerk supra itu. Masih tak berubah dari tempatnya. Kedua cowok-cewek itu juga. Tak berubah dari tempatnya. Si cowok mengangkat celananya hingga selutut. Kepalanya masih saja memakai helm teropong. Kaca helmnya hanya terbuka separuh untuk berbicara pada si cewek atau berbisik sesekali. Si cewek tiap beberapa saat menengadahkan tangannya ke depan untuk mengecek apakah hujan sudah cukup aman untuk dilalui atau tidak. Terkadang ia membenarkan kacamatanya yang sebenarnya menurutku tak perlu ia lakukan. Kudengar beberapa kali, meskipun tak seberapa jelas, si cewek berbisik kepada si cowok untuk segera melanjutkan perjalanan. Dari gaya pembicaraan mereka, siapapun yang mendengarkannya pasti mengira mereka sepasang kekasih. Ya, sepertinya memang. Tapi aku tidak mau ambil pusing. Banyak hal yang lebih penting dari itu yang harus kudahulukan daripada sekedar membuktikan dugaanku yang sama sekali gak ada untungnya buatku.

0 Responses to "long night part:4 malam panjang"

Posting Komentar