-hobby N kucing-

Author: Budiharja Kusuma // Category:
Bila ada yang nanya ke gue soal hobi, gue selalu kebingungan setengah mati ngejawabnya. Bukan karena gue gagap, bisu atau jawabnya sambil menyelam di empang sebelah yang dibuat melihara lele tetangga, tapi itu lebih kepada hobi gue yang banyak dan terkadang gak konsisten buat disebut sebagai hobi. Kayak istri jin kura-kura yang akan berubah jadi preman dan berubah warna rambut jika dia bersin, gitu juga gue. Hobi yang kulakuin gak selalu gue suka, bahkan kadang-kadang gue benci ama sesuatu yang gue suka. Beda dengan temen gue sekarang tinggal beberapa ekor itu. Jika mereka ditanya, “hobi kamu apa?” pasti dech mereka dengan kecepatan kilat dengan jurus pindah dimensi waktu mereka(kayak goku aja) dan tanpa perlu menggunakan otak mereka yang enggak lebih besar dari kacang polong itu (gue juga termasuk), langsung ngejawab dengan tegas dan diplomatis,
“klo hobiku maen game!!” ada lagi yang jawab,
“aku baca buku!!” lalu,
“mancing!!”ada juga yang bilang,
“berenang!!”terus, ada juga
“mancing sambil berenang!!” kalo yang ini, jangan didengerin!!
Wis, pokoknya macam-macamlah jawaban mereka. Dan mereka yakin kalo itu hobi mereka. Meskipun kalo mereka ditanya lagi soal hobi di lain kesempatan, jawaban mereka beda lagi. bahkan kadang mereka lupa tentang hobi mereka.
“lho, bukannya hobi kamu itu maen layangan?”
“masak aku pernah bilang gitu sih? Perasaan enggak deh! Kamu salah kali… hobiku itu jalan-jalan tau!!” jawabnya dengan wajah polos dengan mata yang hanya separuh terbuka dan air liur menetes.
“aggghh!!..tidak!!!..”teriakku sambil menjambak rambutku sendiri.
“mengapa aku dikelilingi temen-temen yang dodol dan aneh kayak gini…oh my god!!” jika mereka udah jawab gitu, biasanya pasti ada salah satu dari mereka yang terbunuh di tanganku. Dan berkuranglah satu ekor lagi temenku yang terbelakang mental dan aneh.
Sedangkan aku, kalo ditanya,
“bud, hobi kamu apa?”
Aku pasti langsung berfikir keras,menutup mataku dan duduk bersila seperti posisi budha waktu bertapa mencari pencerahan. (Bedanya cuma, aku gak bertapa di bawah pohon bodhi! masak, bertapa harus cari-cari pohon dulu) Memutar keras otakku. Baru, setelah beberapa jam mataku terbuka. Dan… temenku yang bertanya tadi udah gak ada lagi. Kemana dia? Sungguh keajaiban!
Setelah hari itu, dia udah gak bertanya tentang hobi lagi ke gue. Termasuk temen-temen yang lainnya.

Emang hobi gue tuh banyak banget. Mulai dari makan, maen game, menggambar, buat puisi, berenang(tapi kok gak pernah terapung ya? Diganti menyelam aja deh), ampek yang namanya ngejailin temen-temen sekelas gue.
Tapi, yang paling gue sukai dari semua yang gue sukai di atas adalah melihara kucing.
Melihara kucing? Gimana awalnya ya, kok gue bisa melihara kucing?
Begini ceritanya,
pada jaman dahulu kala hiduplah seorang nenek tua yang sebatang kara. Dia hidup sendiri di sebuah hutan belantara yang jauh dari keramaian kota. Sehari-hari dia hanya hidup ditemani oleh seekor kucing peliharaannya. Pada suatu hari, si nenek tua itu sakit keras dan sekarat dan hampir aja mati.di terbaring lemah di tempat tidur tak berdaya. Di akhir hayatnya, sebelum dia menutup mata, si nenek tersebut memanggil pada si kucing. ingin mengucapkan kata-kata wasiat pada si kucing.
“si putih, kemarilah..” ucap nenek itu kepada si kucing dengan suara yang hampir aja gak kedengeran. Setelah beberapa saat, gak terjadi apa-apa. si kucing gak muncul-muncul juga.
“si putih..” si nenek kembali memanggil kucing satu-satunya itu.
“si putih…si putih kemarilah… ada sesuatu yang ingin nenek katakan!” kembali dia berusaha memanggil kucing itu.begitu terus beruang-ulang.
Sampai akhirnya dia meninggal setelah sadar ada surat di samping tempat tidur dan membaca surat tersebut. Yang isinya seperti ini
“nenekku tercinta….
Aku pergi untuk berkelana.
Untuk memperdalam ilmu kungfu dan tenaga dalamku.
Sudah menjadi cita-citaku sejak dulu untuk menimba dan mempelajari kungfu. Setelah setiap hari engkau selalu mengajakku menonton film-film jet-li dan bruce-lee.
Setelah engkau melarangku untuk tidak menonton sinetron-sinetron yang terlalu dibuat-buat itu.

Maaf, aku sudah tidak dapat menjaga nenek lagi. Dan satu lagi, Mulai sekarang berhentilah memanggilku si putih lagi. Warna buluku sejak dulu hitam. Tak ada alasan nenek memanggilku si putih
Aku mengambil semua kornet dan roti tawar yang ada dikulkas untuk bekal di perjalananku. Dan juga sekaleng fanta. Aku nanti pasti kehausan.

Sekian

Dari kucingmu tercinta”

Entah bagaimana ceritanya, si nenek dapat membaca tulisan atau lebih tepatnya corat-coret si kucing tersebut. Sepertinya si nenek dan si kucing sudah terjalin ikatan batin yang kuat. Ato kalo enggak, si nenek aja yang bego sempet-sempetnya baca kertas di samping tidurnya sewaktu dia sekarat. Dan mengira itu tulisan dari si kucing. dan parahnya, dia membaca kertas penuh minyak yang jadi bungkus pisang goreng buat sarapan tadi pagi itu dan meninggal dengan tenang karena bangga si kucing dapat menulis surat untuknya.

Entah aku harus tertawa atau terharu mendengar cerita yang gak jelas asalnya ini.
Yang jelas aku suka memelihara kucing.
Di rumahku sekarang ada dua buah kucing yang kupelihara. Yang satu warnanya abu-abu, dan satunya lagi berwarna oranye. Mereka brsaudara. Beda ayah dan beda ibu.
Tapi tinggal satu atap. Bingung? Minum baygon!.
Aku inget, dulu mereka dateng kerumahku bersama induk mereka waktu mereka masih baru lahir. waktu itu mata mereka masih blom bisa terbuka dan masih harus mencari-cari puting susu induk mereka bila mereka kelaperan dan harus menyusu. Dan setelah beberapa saat mereka ditinggal ama induk mereka gitu aja di rumahku. Kayak orang tua yang ninggalin bayi yang baru dilahirin di depan pintu panti asuhan malem-malem gitu. Sungguh kisah yang memilukan. Tokoh karakter dan tempat hanya fiktif belaka.
Jadi, sejak saat itu pamanku yang paling sayang ama yang namanya kucing ngasih minum susu buat mereka berdua biar keduanya bisa terus hidup.
Ya, akhirnya aku nemuin jawabannya, jika ada yang nanya,
“hobi kamu apa?”
Dengan semangat empat lima kujawab,
“melihara kucing!!”
Dan cerita tentang orang bodoh yang sulit menjawab pertanyaan tentang hobi itupun akhirnya berakhir dengan hepi ending. Dan dia hidup bahagia untuk selama-selamanya.

1 Response to "-hobby N kucing-"

One Peace Freedom Adventure and Real Frenship Says :
3 Agustus 2009 14.12

wah ,pertahankan itu.wah aq salut ada co yang melihara kucingnya dg baik.
sebagai pecinta kucing aq terharu baca kisah2 si kucing peliharaan km itu,hiks(knp jd nanggggis ya?)

Posting Komentar