-pesan hitam-

Author: Budiharja Kusuma // Category:
PESAN HITAM

pesan-pesan itu terus berjatuhan berserakan
pesan hitam yang melambangkan tangisan langit
terkadang dapat kutampung sendiri, untuk kemudian kutangisi
seringnya memercik, hingga hati lain ikut terisak.
sampai kapan ini?

mampukah diriku menjadi matahari dan hujan
hingga hitam berubah warna
menjadi pelangi?

...
.....




Kamar. Sepi. Tak ada suara yang tercipta dari kamar seluas dua kali tiga meter yang sudah menjadi markasku selama bertahun-tahun tersebut. Kalaupun ada dan boleh dibilang suara, yang terdengar hanyalah suara detik jam dan deru suara CPU komputer yang terus merongrong karena sudah tua. Suara CPU yang terus berproses dengan berat meskipun hanya membuka satu jendela aplikasi office. Ditambah dengan detak jantungku dan suara keyboard yang ditekan saat aku sedang mengetik jika memang memaksa bahwa ada suara selain itu. Keadaan atmosfir di kamar itu sungguh sangat berbeda dengan atmosfir ruangan di luar.

Monitor itu terus menyala. Kursor yang selalu berkedip tersebut tidak bergerak sejak beberapa menit yang lalu. Tidak tergeser oleh huruf-huruf baru untuk membentuk kalimat. Pikiranku terseret pergi. Pergi melanglang buana. Entah kemana. Tapi tak satupun kembali untuk dapat menyusun rangkaian bahasa yang dapat meneruskan ini semua. Seperti biasa, buntu.

Beep! Beep!
Tiba-tiba terdengar nada pesan dari ponsel. Sebuah SMS.
Aku kembali ke alam nyata.




halo, lagi sibuk ngapain?
aku lagi nangis sendirian di kamar.





Aku membaca pesan itu. Memperhatikan nomor pengirimnya.
Ah! benar.. seperti yang kuduga. Darimu lagi. Butuh tiga kali membaca tulisan itu untuk langsung bisa mengetahui maksudmu.

Sebuah pesan yang singkat, tapi cukup menyedot keseluruhan perhatianku yang tadinya fokus untuk menulis. Sebuah pesan singkat, tapi mewakili ribuan kata yang sebenarnya ingin kau sampaikan.
Kata-kata yang akhirnya hanya bisa kau ganti dengan air mata.

Darimu, yang sekarang mungkin sedang menangis, bersedih dan mengasihani diri sendiri sendirian di suatu tempat sana. Di kamarmu.
Dan seperti biasa, aku tahu pasti alasannya.
Cowok itu. Laki-laki yang kau kejar sejak beberapa bulan yang lalu.
Pasti cowok itu tidak menghiraukan perhatianmu lagi. Atau mungkin dia bersikap acuh tak acuh dan cuek, yang merupakan gaya pribadinya dan dianggap biasa bagi sebagian besar orang, tapi sanggup membunuhmu seketika, meluluhlantakkan harapan dan semua yang telah kau lakukan. Sesuatu yang ku tahu, pasti sangat menyakitimu.


“agh… kenapa begini lagi? kasihan dirimu.. sampai kapan kau menderita seperti ini.. terus menderita seperti ini..”
Aku menutup mata. Mencoba membayangkan apa yang sedang kau rasakan saat ini. Ikut merasakan semua kesedihanmu. Ikut larut pada setiap lukamu. Aku tahu betul, bagaimana rasanya itu. Rasa ketika kita dicampakkan dan tidak diperhatikan.

Ya. Aku selalu tahu alasan tiap kali pesan-pesan air mata ini datang darimu. Selalu karena cowok itu. Semuanya pasti karena dia.
Jika dia bersikap baik dan membalas perhatian serta SMS-SMSmu, maka pesan-pesan darimu akan terlihat seperti pelangi, begitu berwarna-warni dan ceria. Isi pesanmu akan terlihat menyenangkan. Menanyakan kesibukan, menceritakan apa yang sedang kau lakukan, menanyakan bermacam hal dan bertukar pikiran, dan berbagai macam hal. Saat-saat dimana ku bergumam ke diri sendiri,
‘syukurlah, kau baik-baik saja..’

Tapi sering juga tiba masa di saat dia tak peduli lagi dan acuh tak acuh. Menjawab tiap komenmu di status
facebook-nya dengan kata-kata yang singkat dan kasar, begitu juga SMS-SMS darimu. Bersikap jauh dari apa yang kau harapkan, dan menganggap seoalah-olah kau adalah pengganggu baginya. Saat-saat dimana terkadang aku begitu marah pada sikapnya yang kuanggap sedang mempermainkan perasaanmu. Maka di saat seperti itu, aku sudah dapat menebak, pesan seperti apa yang akan tercipta darimu. Pesan-pesan yang begitu gelap, hitam dan penuh kesedihan. Penuh dengan keputusasaan dan tekanan. Seperti saat ini, dimana kau ingin meminta tolong dan perasaanmu didengar. Masa-masa dimana kau ingin mencari tahu, jalan terbaik apa yang bisa kau ambil. Saat-saat dimana seolah-olah ini adalah akhir dari semua kebahagiaan yang bisa kaudapat di dunia ini.
Saat-saat dimana aku menyalahkan diriku sendiri karena tidak dapat menolongmu.


Ku mulai mengetik untuk membalasnya. Kalimat-kalimat yang langsung terpikirkan olehku. Pesan atau nasehat untukmu. Seperti biasanya.
Dan selalu di saat seperti ini.

Ah, tidak. aku menggeleng. Setelah sekian lama, kau sudah tidak butuh nasehat-nasehat dariku lagi. Sudah banyak pesan-pesan dariku yang sudah kau dengar. Sudah terlalu banyak hal yang sudah kau pelajari. Setelah sejauh ini, kau sudah tahu apa yang semestinya harus kau lakukan. Yang perlu kau lakukan sekarang hanyalah, melakukannya.

Lalu aku mulai sadar, jika sebelum-sebelumnya kau mengirimkan pesan padaku untuk bertanya agar tahu jalan terbaik yang bisa kau ambil dan apa yang harus kau lakukan, tapi kali ini tidak. Setelah sejauh ini, kupikir tidak.
Kali ini tujuannya cuma agar orang lain tahu penderitaanmu.
Kau hanya ingin berbagi penderitaanmu saat ini.
Dan hiburan, ku tahu.



kamu kenapa lagi? dia kenapa?
ada yang bisa ku lakukan?
Kirim.



Ya. Tidak ada lagi yang mesti aku tulis. Hanya bertanya apa yang terjadi padamu dan apa yang bisa aku lakukan.

Karena ku sadar, aku tidak bisa menghiburmu. Tak pernah bisa.
Aku bukan dia.




                                                                   ***


Beep! Beep!
Lagi.




enggak. aku cuma ingin nangis sendirian aja.
aku capek banget.
kamu lagi ngapain? lagi sibuk?



Seperti sesuatu yang terlalu mudah ditebak, aku tahu kau tidak menginginkan apapun lagi. Setelah sejauh ini, tidak lagi. Seperti apa yang pernah kau bilang, tidak perlu indra keenam hanya untuk mengetahui hal sesimpel ini. Perasaan orang lain.

Aku sepertinya sudah tahu apa yang sekarang sedang kau lakukan di suatu tempat sana.
Sendirian di sana, mungkin di atas kasurmu, kau menumpahkan air matamu sambil terus memikirkan apa yang telah dia lakukan, dan apa yang sudah kau korbankan dan telah kau lakukan sejauh ini.
Kau lelah, aku tahu.
Sebuah hubungan yang begitu rumit. Sesuatu yang kau perjuangkan begitu jauh dan penuh darah, yang sepertinya terlihat hampir mustahil di matamu saat ini.
Begitupun menurutku.




Kujawab cepat.



mau cerita??
enggak, cuma lagi ngetik aja..


Kirim.




Setelah kupikir-pikir, sudah berapa lama ya, aku terlibat hal ini?? Dan aku selalu bertanya, kenapa aku selalu terlibat hal-hal seberat ini.
Aku masih ingat beberapa bulan yang lalu, saat kita pertama kenal.
Di suatu pagi, kamu tiba-tiba mengirimiku pesan. Sebuah pesan yang sedikit mengejutkanku.
Pesan yang berisi, ‘harus memilih yang mana’, lalu diserta dengan dua ‘nama’ laki-laki. Dua temanku yang kukenal dekat.
Sebuah pesan, yang akhirnya menggiring ke pesan-pesan berikutnya yang menjelaskan semuanya.
Cowok yang satu, laki-laki yang begitu perhatian dan baik kepadamu. Laki-laki yang sempurna di mata sebagian besar cewek kebanyakan. Laki-laki yang sudah dua bulan begitu dekat denganmu dan memberikan segala hal padamu.
Laki-laki yang begitu tergila-gila padamu, yang telah menyatakan cintanya padamu dan menunggu jawabanmu segera.
Laki-laki yang menurutmu, tidak membuatmu nyaman dan nyambung dengan segala hal yang ingin kau dengar. Laki-laki yang akhirnya, membuatmu menciptakan barrier, penghalang sebagai batasan untuk dia mengenal dan mendekatimu.
Laki-laki yang menurutmu, tidak mengenal dirimu yang sesungguhnya, dan membuat dirimu tidak dapat menjadi dirimu yang sesungguhnya di depannya.
Laki-laki, yang mungkin tidak menyadari dan mengerti hal ini hingga saat ini. Dan mungkin tidak akan pernah.
Laki-laki yang tidak dapat mengambil hatimu.

Cowok satunya, laki-laki yang cuek, simpel dan instan. Laki-laki yang lebih berkarakter ‘tidak peduli’ dan kurang tahu bagaimana menghormati perasaan orang lain.
Laki-laki, yang pernah mengajakmu keluar dan langsung membuatmu jatuh cinta di kesempatan pertama.
Laki-laki, yang membuatmu langsung mengagumi cara bicara dan topik yang dibahasnya. Laki-laki, yang menarik dirimu melalui SMS-SMS yang dia kirim dan apapun yang dia tulis.
Laki-laki, yang awalnya tidak begitu kau pedulikan bahkan ketika banyak temanmu mulai meng-add facebook-nya di awal masuk, tapi langsung membuatmu nyaman dan jatuh cinta di awal kalian pergi keluar dan saling mengobrol.
Laki-laki yang membuatmu tidak melewatkan 1 status-pun di facebook-nya untuk kau baca atau mungkin untuk kau komen.
Laki-laki yang tidak memperdulikanmu, yang mengambil keseluruhan hatimu.

Serentetan pesan yang akhirnya mengharuskanku untuk objektif dan tidak memihak siapapun. Membebaskan dirimu untuk memilih setelah memberi gambaran tentang kelebihan dan kekurangan dari kedua laki-laki tersebut.


Huuhh.. waktu tak membiarkanku lolos dari hal ini sejak saat itu.
Akupun masih ingat betul, saat dirimu bercerita sambil melelehkan air mata di depanku, bahwa ternyata akhirnya kau menolak laki-laki yang begitu baik itu.
Kau menceritakan semuanya lengkap dengan alasannya. Kau lebih memilih yang satunya. Sebuah pilihan yang kuanggap normal. Pilihan yang wajar. Tapi begitu tidak adil baginya, menurutku. Entahlah, cinta selalu menuntut sesuatu. Dan diriku juga tidak begitu pandai akan hal itu.
Tak lupa, kau bertanya apa yang harus kau lakukan setelah itu.

Huh.. saat itu aku langsung berfikir, berakhir sudah status-status laki-laki yang bertemakan ‘menunggu jawaban darimu’ di facebook beberapa hari belakangan ini itu.
Aku langsung membayangkan bagaimana perasaannya saat itu. mungkin luluh lantak, menangis, berserakan dan penuh banjir darah. Satu yang pasti, pasti dia ‘mati’ karena harapannya hancur. ‘mati’seketika. Seperti satu hal pernah kupelajari, manusia dapat berkali-kali disakiti dan mampu berkali-kali bangkit, tapi langsung ‘mati’ ketika harapannya dihancurkan. Manusia memang mustahil hidup tanpa harapan. Kecuali dia mampu langsung menemukan harapan baru.
Ku harap dia tidak terlalu kecewa akan hal ini. Berharap dia mampu menerimanya dengan tegar.


Waktu terus berjalan setelah itu. Kau terus berjuang untuk mendapatkan perhatian dari laki-laki itu. Laki-laki yang membuatmu nyaman tersebut. Kau berusaha mendapatkan setidaknya respon darinya. Terlebih-lebih perhatiannya. Atau, yang paling kau harapkan, hatinya. Kau jatuh bangun mengejar-ngejarnya. Kau berusaha terus menggapainya. meskipun itu selalu menghancurkan dirimu pada akhirnya.
Sebuah pelajaran untuk ‘selalu bersemangat dan tidak menyerah walau apapun yang terjadi’ yang kupelajari darimu. Sebuah pelajaran yang kepelajari dari wanita setangguh dirimu.

Dan entah sejak kapan, dimulailah pesan-pesan hitam tersebut mengikatku. Pesan-pesan yang berisi kesedihan dan permintaan pertolongan darimu.
“kutukan ini dimulai..” pikirku.



                                                                    ***

Satu paragraf. Enam baris deretan kalimat. Dan tidak berubah sejak dua puluh lima menit yang lalu. Bahkan dibagian header windows-nya masih tertulis untitled karena belum di-save sejak awal aku buka.
Entah mengapa selalu sulit kita menulis, jika memang kita tidak sedang ingin menulis. Bahkan hampir mustahil menurutku.
Seingatku, satu paragraf yang terlihat di monitor ini adalah paragraf yang ke-empat hasil revisi. Berkali-kali menulis hingga beberapa paragraf, tapi pada akhirnya harus dihapus karena jelek setelah dibaca ulang.

“hufh… aku butuh cerita yang bagus.. ide..”


Beep! beep!
Langsung kubuka.




keadaanku buruk. Aku dikamar rambut acak2an,
badan demam, agak flu, mata sembab (ya, kau pasti tahu
mengapa), kepala agak pusing, belum
mandi. Kalo kamu ketemu aku sekarang, pasti
kamu ngira aku orang gila.
Aku cewek yang begitu kuat dimata orang banyak,
tapi jadi hancur gini hanya karena dia.



Aku diam. Berkali-kali membaca tulisan ini sambil membayangkan apa yang terjadi padamu.
ahh!!.. Siaaallll!!.. Entah siapa yang salah, tapi ini buruk sekali! Keadaanmu hingga seperti ini hanya karena dia!! Cowok yang sama sekali tidak tahu betapa beruntungnya dirinya ada seseorang yang sebaik dirimu yang menunggunya seperti ini.
‘Dia benar-benar tidak tahu betapa beruntungnya dia!!.. Aku tidak terima jika lebih dari ini!!..’ aku sedikit mengutuknya karena kesal. Bagaimana mungkin aku masih diam saja, jika ada seseorang yang menderita di depanku selama berbulan-bulan, dan keadaannya hingga jadi separah ini.

Aku juga menyalahkanmu. Menyalahkan dirimu, karena kau hanya menuruti kata hatimu. Menuruti ego-mu hingga kau hancur lebur seperti ini hanya karena alasan, ‘nyaman’ dan ‘cocok’. Padahal kita berdua tahu, banyak cowok yang menantimu dirimu sekarang, jika kau memang rela melupakan dia. Tapi sepertinya semua yang kukatakan percuma. Kau masih akan tetap mengejarnya. Terus mengejarnya dengan seluruh akal dan dayamu, walau apapun yang terjadi. Kau tidak akan rela melihat kesempatan lain selain ini.

Seperti saat-saat itu, dimana kau mulai putus asa untuk mengejarnya dan menyerah. Di saat kau lelah dan merasa ‘semua ini percuma!’.
Saat itu kau bertanya dengan pesan-pesan hitammu, bagaimana caranya menghapus perasaanmu padanya. Bagaimana caranya melupakannya, bagaimana caranya menjadi bahagia. Lalu akupun memberikan segala hal yang kutahu untuk membantumu.
Tapi pada akhirnya, kau tetap kembali berharap padanya. Seperti yang pernah kukatakan, butuh keinginan kuat untuk dapat menghapus perasaan dan melupakan. Dan kau tidak memilikinya.

Aku yang tak kuat melihatmu seperti itu, akhirnya bertanya, ‘apakah kau ingin aku memberitahukan perasaanmu padanya?’
‘JANGAN!!’ kau secara tegas menolaknya saat itu.
Entah apa alasan kau menolaknya, tapi hanya dirimu yang mengetahuinya secara pasti.
Aku hanya berusaha membantu. Karena yang kutahu, sulit mengatakan perasaan kepada orang yang kita cintai. Selalu sulit, seberapapun kita berusaha. Dan ini merupakan inti dari permasalahanmu.
Kau selalu menceritakan semuanya padaku, tapi tak pernah bisa kepadanya. Aku selalu tahu saat-saat dimana dirimu menderita, tapi tak sedikitpun dia mengetahuinya.
Hingga saat ini aku berfikir, Kita selalu bisa menceritakan semuanya dan terbuka kepada
sahabat kita, tapi kita tidak pernah bisa jujur kepada orang yang kita cintai. Mengapa demikian?
Mengapa kita tidak bisa menjadikan orang yang kita cintai sebagai sahabat kita?
Bukankah setiap hubungan selalu dilandasi oleh ‘sebagaimana baikkah kita menjadikan orang lain sebagai sahabat kita’. Hubungan pertemanan, jika tidak dilandasi oleh persahabatan, tidak akan bisa berjalan. Hubungan kerja, jika tidak dilandasi oleh persahabatan tidak akan berjalan sukses.
Bahkan, sebuah pernikahan dapat langgeng dan terus bertahan hingga puluhan tahun, juga ditentukan oleh ‘bagaimana mereka mampu bersahabat dengan pasangan mereka’.
Menjadikan suami atau istri mereka sebagai ‘sahabat dalam menjalani hidup mereka’.

Kita selalu lupa menjadikan orang yang kita cintai sebagai sahabat kita. Kita selalu lebih jujur kepada sahabat, karena merasa lebih aman dan menerima kita apa adanya. Tak perlu menjadi orang lain. Kita dapat menceritakan hal apapun padanya. Mengkomunikasikan segala hal tanpa ada rasa takut sedikitpun.
Lalu pada detik itu aku selalu bertanya, kita anggap apa orang yang kita cintai tersebut? Orang lainkah?

Lalu kemudian setelah itu, kau pernah juga berjanji akan menghapus semua SMS-SMS darinya dan mengurangi berhubungan darinya, ketika kau mulai putus asa akan hal ini ‘lagi’. Tetapi kemudian, seperti yang sudah dapat ditebak sebelumnya. Kau masih berharap padanya.
Dan lalu kaupun menderita lagi

Huuhh!!.. Kupikir cukup semua ini! Sudah cukup semua air mata ini! Ini harus diakhiri!! Tanpa terasa air mataku juga ikut meleleh mengingat semua yang telah kau alami.

Entah kenapa, aku tak sanggup membalas pesanmu kali ini.
Ponselku langsung dalam keadaan terkunci.



“AHH!!.. ” tiba-tiba sekarang aku tahu harus menulis apa. Jari-jariku langsung menari diatas keyboard disertai pikiranku yang kembali lagi, entah melayang kemana. Melanglang buana.






                                                                   ***


-
sampai kapan ia harus menderita seperti ini? ia sekarat.
sampai kapan ia harus menunggu?


-
aku juga tidak tahu.

-
kapan dia akan memberi kepastian?

-
kalo itu aku tidak tahu. (kepastian)
tapi dia pengennya ia jadi yang terakhir. jadi pasangan seumur
hidup.
dia merasa belum pantas sekarang. dia pengen jadi lebih baik lagi


-
ia sekarat sekarang.
itu harus nunggu sampai kapan? sampai ia mati?!


-
gak tahu juga.

-
ia menerima dia apa adanya! seburuk apapun dia!
kenapa harus begitu?! dia menunggu kepastian.
itu!
bukankah lebih baik menjalani hubungan dulu, sambil
terus berusaha menjadi lebih baik?!
kurasa itu lebih bijaksana..

-
benar juga. lebih baik kaya gitu.

-
aku paling benci ketika perasaan dipermainkan dalam
waktu yang lama!
dan ini terlalu lama!


-
kamu ingin aku mengatakannya ke dia?

-
jika ini menyelesaikan, iya..
tapi jangan bilang kalo dariku.


-
oke! aku akan bilang nanti…





                                                                   ***

Pesan-pesan hitam itu tak muncul lagi setelah itu.
Sudah tak ada lagi pesan-pesan air mata penuh kesedihan. Begitu juga keputus-asaan.


“semoga kau bahagia selamanya dengannya… semoga dia dapat menjadikanmu pelangi yang berwarna-warni..” bisikku dalam hati.









mampukah diriku menjadi matahri dan hujan
hingga hitam berubah warna
menjadi pelangi?

kuharap aku mampu
dan mungkin aku terlahir untuk itu
karena aku abu-abu








11 Responses to "-pesan hitam-"

Ainurrosyid Says :
17 Mei 2010 07.11

budi
ceritanya kok jadi melow
tapi kata2nya bagus
dan banyak peljaran di ceritanya

mungkin kamu mencoba memberikan sebuah pelajaran dalam cerita itu secara tersirat
ok ok bagus kok
tapi besok2 ngelucu lagi ya (^^)8

aku baru ingat aku belum mandi

nee.Ya.nia Says :
17 Mei 2010 17.06

iya.. hem.. ko melow gini... --a

aq suka judulnya... "pesan hitam" keren.. o_o openingnya juga keren... suka..suka.. ^^8

AkaneD'SiLa Says :
17 Mei 2010 17.22

panjang.........
tapi aku baca...
hha..
abis bagus bangetz ngebawainnya..
hhe...


sama kak yak aku..
selalu saja disaat dia disakiti dia akan menghubungiku..
persis yak kakak..


moga aja cewek itu mendapatkan kebahagiaannya..
mendapatkan pelangi berwarna warni nya...
:D

-boot_d- Says :
17 Mei 2010 19.32

@rosyid: iya.. ^^ pengen nulis cerita ini..
he'em... semoga kita mendapat pelajaran berharga.. ^^/

biasanya juga gak mandi kan?? --"a

@neeya: makasih.. ^^

@akane: iya.. makasih banyak..

ooo... o_O punya pengalaman yang sama?!

amiinn.. ^^

tiche Says :
18 Mei 2010 21.39

bagus.menyedihkan.suram.mengena

masi si itu ya????
semangat lah..emang kalo udah kena penyakit namanya cinta udah susah buat mikir pake logika.. coz love is never be logical... haha

si begeng sexy Says :
21 Mei 2010 06.27

Semoga aja ini hanya cerita .. bukan curhatan hati elo ... hahahahaha, btw gue KENA banget ni bacanya ,, cumannya gue si cowok antagonis yang cuek dan kadang tak peduli perasaan orang lain. Over all, cool story. Tunggu giliran gue untuk bikin juga ya .., hehehehe, cherzz.

Momod Says :
21 Mei 2010 13.50

kok melow2 seeh?
panjang bener lagi!
tapi bagus ko
bener juga, kadang kita terpaksa merasakan luka yang orang lain rasakan, luka yang sebenernya timbul karena orang itu sendiri
but, it's okay kan!
:D

andikurnia Says :
21 Mei 2010 17.39

hm, pengalaman siapa nih...?

kemasan yang bagus untuk sebuah cerpen...tetap semangat...

-boot_d- Says :
22 Mei 2010 12.19

@all: thanks.. ^^

@begeng: ya, ditunggu.. :)

@momod: kita memang harus ikut merasakan penderitaan orang lain agar mengerti penderitaan orang lain..

@andhika: ada deh.. XP

-boot_d- Says :
7 Juni 2010 09.43

@rimaraissawinda: thanks.. ^^/

Posting Komentar